Belajar Bertahan dari Jejamuran, Kisah Arif Tumbuh Bersama Usaha Jamur di Sleman
Bobby Wiratama May 26, 2026 04:22 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Suasana di area budidaya Jejamuran siang itu cukup ramai. Beberapa pengunjung tampak masuk ke kumbung sambil memperhatikan deretan baglog jamur yang tersusun di rak-rak kayu.

Di depan rombongan pengunjung, Ahmad Arif Nugroho berdiri sambil menjelaskan jenis-jenis jamur yang dibudidayakan di tempat tersebut.

Sembari memegang pengeras suara, tangannya sering kali menunjuk bungkus warna putih yang memenuhi polybag media tanam.

“Itu namanya miselium. Kalau putihnya sudah rata biasanya pertumbuhannya bagus,” katanya.

Sudah sejak April 2012 Arif bekerja di Jejamuran. Awalnya ia datang seperti kebanyakan pencari kerja lain, berharap mendapat penghasilan tetap untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun setelah bertahun-tahun bekerja di sana, ia merasa bukan cuma pekerjaan yang didapat.

“Pak Ratidjo itu jadi contoh buat kami,” ujarnya saat berbincang dengan Tribunnews, Selasa (5/5/2026).

Yang dimaksud Arif adalah Ratidjo Harjo Suwarno, pendiri Jejamuran yang sampai sekarang masih rutin berada di area usaha. Padahal usianya sudah menginjak 82 tahun.

Menurut Arif, bosnya itu masih sering turun langsung menyambut tamu, mengecek restoran, sampai melihat kondisi budidaya jamur di belakang bangunan.

Baca juga: Jatuh Bangun Ratidjo Bangun Jejamuran, Prinsip Kapok Miskin Kini Miliki 2,5 Hektare Rumah Jamur

Bagi para pekerja, kebiasaan itu cukup membekas.

“Beliau masih ikut bekerja dan melayani tamu. Jadi kami juga merasa ikut punya tanggung jawab menjaga tempat ini,” katanya.

Arif mengaku banyak belajar dari cara Ratidjo menjalani hidup. Terutama soal ketekunan dan kebiasaan untuk terus bekerja selama masih mampu.

“Kalau buat beliau kayaknya tidak ada kata pensiun,” ujarnya sambil tersenyum.

Pelan-pelan, cara pandang itu ikut memengaruhi dirinya. Arif mulai terbiasa menjalani pekerjaan dengan lebih serius dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

Hasilnya baru benar-benar terasa beberapa tahun terakhir.

Dari pekerjaannya di Jejamuran, Arif kini sudah bisa memiliki rumah sendiri, motor, hingga mobil.

“Alhamdulillah sekarang sudah punya rumah, kendaraan juga ada,” katanya.

Pencapaian itu tidak datang cepat. Semua berjalan pelan-pelan sejak ia mulai bekerja lebih dari sepuluh tahun lalu.

Lama bekerja di Jejamuran juga membuat Arif ikut memahami cara budidaya jamur secara langsung. Sebagian besar ia pelajari dari praktik sehari-hari di lapangan. “Belajarnya sambil jalan,” ujarnya.

Salah satu jenis jamur yang dibudidayakan di Agrowisata Jejamuran Sleman
JAMUR DI JEJAMURAN - Salah satu jenis jamur yang dibudidayakan di Agrowisata Jejamuran Sleman

Setiap hari ia mendampingi pengunjung yang datang ke area agrowisata, mulai anak TK, pelajar, sampai mahasiswa. Biasanya mereka diajak masuk ke kumbung untuk melihat proses budidaya jamur dari dekat.

Di sana Arif menjelaskan satu per satu jenis jamur yang ditanam beserta cara perawatannya.

Menurut dia, tidak semua jamur bisa tumbuh di kondisi yang sama. Jamur portobello dan jamur kancing misalnya, membutuhkan suhu dingin karena berasal dari wilayah Eropa.

“Kalau portobello biasanya dipakai buat topping pizza,” katanya.

Untuk menjaga suhu tetap stabil, ruang budidaya menggunakan pendingin ruangan sekitar 17 derajat Celsius. Dalam satu siklus, budidaya bisa berlangsung sekitar 90 hari.

Meski begitu, sebagian jamur biasanya sudah mulai bisa dipanen saat memasuki hari ke-60.

Kondisi kumbung juga harus dijaga selama 24 jam. Ketika listrik padam, genset langsung dinyalakan agar suhu dan kelembapan tidak berubah drastis.

“Kalau terlalu panas pertumbuhannya bisa terganggu,” ujar Arif.

Karena itu selalu ada pekerja yang berjaga, termasuk pada malam hari.

Selain budidaya, Arif juga ikut mengenalkan proses pengolahan hasil panen kepada pengunjung. Menurut dia, Jejamuran sekarang tidak lagi hanya menjual jamur segar seperti dulu.

Sebagian besar hasil panen sudah diolah menjadi berbagai menu makanan.

Di restoran Jejamuran sendiri terdapat puluhan menu berbahan dasar jamur.

BUDIDAYA JAMUR - Jamur hasil budidaya di Jejamuran, Sleman, DIY
BUDIDAYA JAMUR - Jamur hasil budidaya di Jejamuran, Sleman, DIY (Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha)

“Satu jenis jamur bisa jadi beberapa menu,” katanya.

Ada pula produk keripik jamur yang diproduksi menggunakan mesin berkapasitas sekitar 50 kilogram sekali proses.

Selain itu, Jejamuran juga memproduksi jamur kaleng tanpa bahan pengawet yang bisa bertahan hingga dua tahun setelah melalui proses sterilisasi.

Untuk menjaga kualitas bahan baku, Jejamuran hanya menanam jenis jamur yang digunakan untuk kebutuhan restoran.

Sebagian pasokan juga berasal dari petani plasma yang bekerja sama sejak akhir 1990-an.

Menurut Arif, kebutuhan jamur di Jejamuran cukup besar. Untuk jamur tiram misalnya, satu baglog rata-rata menghasilkan sekitar 200 sampai 300 gram dalam sekali panen.

Sementara total hasil panen harian bisa mencapai sekitar 100 kilogram.

Selain restoran dan agrowisata, usaha Jejamuran kini juga berkembang ke penjualan bibit, media tanam, katering, hingga kebutuhan wedding.

Meski usaha terus berkembang, suasana kerja di Jejamuran menurut Arif masih terasa dekat seperti keluarga.

Buat Arif, Jejamuran bukan cuma tempat kerja. Dari tempat itu ia bisa pelan-pelan memperbaiki hidup sambil belajar banyak hal dari orang-orang yang ada di dalamnya.

Pegangan Hidup Ratidjo

Sebelum dikenal sebagai pelopor wisata kuliner berbasis jamur di Yogyakarta, Ratidjo pernah menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup.

Ia pernah menjadi laden tukang, menjual bunga kantil, hingga bekerja di perusahaan batik. Ada masa ketika ia hanya makan sekali sehari.

Kondisi itulah yang kemudian membentuk prinsip hidup yang terus dipegangnya sampai sekarang.

“Saya kapok jadi orang miskin,” kata Ratidjo.

Kalimat itu menjadi dorongan bagi dirinya untuk terus bergerak mencari jalan usaha, meski harus memulai dari bawah tanpa pengalaman dan modal besar.

KAPOK MISKIN - Ratidjo Harjo Suwarno, pemilik Jejamuran, Sleman, DIY, Selasa (14/4/2026).
KAPOK MISKIN - Ratidjo Harjo Suwarno, pemilik Jejamuran, Sleman, DIY, Selasa (14/4/2026). (Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha)

Saat mulai mengenal budidaya jamur, Ratidjo mengaku tidak memiliki latar belakang pertanian yang kuat. Pendidikan formalnya hanya sampai STM Kimia. Sebagian besar pengetahuan soal jamur ia pelajari langsung dari praktik di lapangan.

Ia belajar memahami karakter jamur sedikit demi sedikit, mulai dari suhu, kelembapan, hingga media tanam yang sesuai.

Menurutnya, mengelola jamur tidak cukup hanya mengandalkan teori.

“Kalau gagal biasanya bukan jamurnya, tapi kita yang belum paham cara mengelolanya,” ujarnya.

Tantangan terbesar saat itu bukan hanya soal budidaya, tetapi juga pasar. Pada awal merintis usaha, masyarakat masih asing dengan jamur konsumsi dan menganggapnya berbahaya.

Karena itu Ratidjo harus berkeliling selama bertahun-tahun untuk mengenalkan jamur kepada masyarakat. Bersama istrinya, ia menjual hasil panen dari rumah ke rumah sambil memberi penjelasan bahwa jamur budidaya aman dikonsumsi.

Kendala lain datang dari keterbatasan modal usaha.

Ratidjo mengaku sempat kesulitan mendapatkan pinjaman karena usahanya dianggap kecil dan belum menjanjikan. Pinjaman pertama ia peroleh dari BPR sekitar Rp10 juta sebelum akhirnya mendapatkan tambahan modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sekitar Rp25 juta.

Dana tersebut dipakai untuk membangun fasilitas usaha secara bertahap.

Saat itu kondisi Jejamuran masih sederhana. Meja dan kursi memakai barang bekas, bahkan sebagian meminjam dari warga sekitar ketika pengunjung mulai ramai.

“Yang penting usaha tetap jalan,” katanya.

Dari usaha kecil tersebut, Ratidjo perlahan membangun Jejamuran menjadi pusat kuliner dan wisata edukasi jamur di Sleman sejak dirintis pada 2006.

Strategi yang ia jalankan tidak hanya menjual jamur segar, tetapi mengembangkan berbagai turunan usaha agar hasil panen memiliki nilai tambah.

Jamur diolah menjadi menu makanan, keripik, hingga produk pengalengan. Pengunjung juga diajak melihat langsung proses budidaya melalui konsep agrowisata.

Saat ini Jejamuran berkembang ke berbagai bidang usaha, mulai dari budidaya jamur, rumah makan, penjualan bibit dan media tanam, pelatihan, cooking class, katering, hingga kunjungan industri.

Jejamuran juga bekerja sama dengan petani plasma untuk menjaga pasokan bahan baku.

Perkembangan usaha itu ikut membuka lapangan pekerjaan bagi ratusan warga sekitar. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah pekerja di Jejamuran mencapai sekitar 350 orang dan saat ini sekitar 250 pekerja.

Meski usahanya berkembang besar, Ratidjo mengaku masih memegang prinsip yang sama sejak awal merintis usaha: tidak berhenti belajar dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

“Kalau jatuh ya bangun lagi. Hidup itu sekolah,” ujarnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.