TRIBUNJATIM.COM - Seorang pedagang sate di Jalan Gajahmada, Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang ramai menjadi sorotan setelah diduga menggunakan tusuk sate yang dicuci dan dipakai ulang untuk pelanggan lain.
Pihak pedagang pun buka suara dan memberikan penjelasan.
Karyawan lapak sate tersebut, Afta (25) membantah tudingan yang beredar dan mengklaim lidi sate yang digunakan baru setiap hari.
"Untuk kejadian yang kemarin saya tidak membenarkan kejadian tersebut. Untuk lidi yang kita pakai selalu baru. Kita pakai lidi dari orderan tersebut juga. Dari yang pas beli ketupat kita sudah order itu juga," ujar Afta saat ditemui Tribun Jateng di lapak yang berada di kawasan yang dikenal dengan Blok GM Kota Semarang tersebut, Senin (25/5/2026) malam.
Baca juga: Tiap Hari Kardi Penjual Siomay Jalan Kaki 10 Km Demi Dapat Rp 70 Ribu, Tak Berani Naikkan Harga
Video yang viral tersebut kali ramai di akun Threads @wowartisnih.
Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan narasi dugaan tusuk sate yang dicuci untuk digunakan lagi oleh penjual.
Dalam narasi tersebut juga disebutkan jika lokasi berada di Kota Semarang.
"First time makan sate padang di semarang dan gak pernah semuak ini, tusuk sate dicuci dan dipakai lagi. Udah bekas berapa mulut tuh tusuk sate sampai tusuk nya tipis bgt. Harga sate 24rb per porsi, tapi untuk beli tusuk sate merasa rugi. Padahal harga tusuk sate semurah itu. Aduh ga lagi deh makan disini, diare cuy. Ada yang bisa tebak ini di mana?" tulis akun tersebut.
Unggahan itu kemudian memicu reaksi warganet. Satu di antara akun bahkan memberikan petunjuk lokasi warung yang dimaksud.
"Kak ini sate padang AM yang di GM bukan? Mana sering makan di situ," tulis akun @natalia.anna02.
Video tersebut pun viral dan direpost sejumlah akun media sosial lain di Instagram.
Baca juga: Penjual Duku Pinggir Jalan Kaget Lapaknya Didatangi Aldi Taher, Tawari Borong Dagangan
Sementara itu, pihak lapak sate padang itu menyebut jika lidi yang terlihat berada di dalam wadah berisi air bukan untuk digunakan kembali.
Afta mengatakan, lidi tersebut sudah menjadi sampah sebelum dibakar.
"Setelah kita gunakan lidi, kita buang lagi. Kalaupun daur ulang tidak mungkin, tidak pakai. Itu kalau di video kan seperti dicuci pakai sabun itu, di sampah. Itu proses bapake 'pekerja' milih lidi. Kan Bapak yang cuci piring. Lah tangannya kena busa, busa itu netes ke tempat lidi. Nah, jadi kita tidak gunakan lagi. Kita buang, langsung kita buang," katanya.
Ia mengatakan, air di dalam wadah tersebut digunakan agar lidi lebih mudah disusun sebelum dimusnahkan.
"Oh, air itu biar dimudahkan tak susun. Kalau kering kan banyakan kita kan sama banyak. Kalau kering susah masuk," ucapnya.
Dia juga menyebut, lidi sate berasal dari janur ketupat yang rutin mereka pesan setiap hari bersamaan dengan pembelian ketupat.
"Lidi dari janur ketupat. Kita kan beli ketupat terus tiap hari. Lah, yang jual ketupat itu juga bikin lidinya juga. Nah, kita order terus," katanya.
Ia menduga kesalahpahaman bermula ketika pelanggan melihat wadah lidi bekas yang terkena tetesan air sabun saat proses mencuci piring.
"Itu customer makan di sini. Itu customer pertama kali masuk makan di sini, bukan customer lama. Customer makan di sini baru sekitar empat orang, dua cowok, dua cewek. Itu yang cewek itu inisiatif naruh piring ke belakang sendiri. Nah, itu kan tidak dibenarkan oleh karyawan-karyawan kita semua. Kalau sudah selesai makan langsung kita ngomong. Nanti kita bersihkan," ujarnya.
"Nah, kemudian kakanya lihat kemungkinan. Lihat lidi itu kok ada di tempat lidi ada air bilas. Terus kakak itu tanya ke bapake. 'Pak ini dibilas lagi ya dengan narasi tersebut?' Bapak belum jawab. Mohon maaf, bapak ini juga pendengarannya agak kurang," sambungnya.
Baca juga: Penjual Nasi Kuning dan Buroncong Rebutan Lapak Dagang setelah Ditegur Satpol PP, Camat Ikut Geram
Sementara itu, pihak lapak mengaku mengalami penurunan jumlah pembeli cukup signifikan.
"Dengan adanya video viral tersebut kita mengalami, ya enggak penurunan bangetlah. Itu juga menjatuhkan usaha orang. Padahal tidak tidak sesuai dengan kenyataan itu semua," kata dia.
Ia menyebut biasanya lapak menghabiskan sekitar 40 kilogram daging sapi per hari pada hari biasa dan meningkat saat akhir pekan.
"Kalau setiap hari biasa, biasanya habis 40 kg-an sapi. Kalau weekend bisa 45 sampai 50 kg," ujarnya.
Sementara untuk ketupat, mereka biasa menyiapkan hingga 500 biji per hari.
"Ketupat kita biasanya 500 biji. Kalau hari biasa kita 450-an lah," katanya.
Menurut Afta, penurunan penjualan saat ini diperkirakan mencapai sekitar 40 persen sejak video tersebut viral di media sosial.
"Ini kan masih tiga hari ya. Itu masih ada 40 persenan (penurunannya). Untuk contoh dari kemarin juga turun lumayan," imbuhnya.