TRIBUNNEWS.COM - Saat Paul si Gurita yang memprediksikan semua hasil Jerman di Piala Dunia 2010 dengan tepat, ia dipuji sebagai peramal.
Tapi ada yang lebih jitu daripada si Paul. Dia adalah ekonom asal Jerman, Joachim Klement.
Sejak Piala Dunia 2014, Joachim Klement selalu berhasil memprediksi tim yang akan menjadi juara di akhir turnamen, mulai dari Jerman, Prancis (2018), hingga yang terakhir Argentina (2022).
Kini untuk Piala Dunia 2026, jawaban yang muncul dari Klement cukup mengejutkan. Belanda menjadi tim keempat yang ia prediksikan menjadi juara setelah tiga pemenang di atas.
"Saya juga cukup terkejut bahwa model saya memprediksi Belanda akan menang," kata Klement saat bercerita kepada SBS.
Menurut prediksinya, tim asuhan Ronald Koeman itu akan menempuh perjalanan sulit demi mencapai lencana bintang pertama yang akan disematkan di atas logo negara dalam jersey.
Belanda mungkin tidak akan kesulitan di babak penyisihan grup ketika menghadapi Jepang, Swedia, hingga Tunisia.
Di babak gugur, tim 'Oranje' bakal menghadapi Maroko dan Kanada, sebelum melangkah ke babak perempat final dan bertemu jawara Eropa 2024, Spanyol.
Masih dalam prediksinya, Belanda mampu mengatasi Spanyol dan akan menghadapi Portugal di laga puncak.
Model Klement didasarkan pada lima faktor kunci, PDB per kapita, populasi, suhu, peringkat FIFA, dan keuntungan bermain di kandang. Menurutnya, keberuntungan masih memainkan peran penting dalam sepak bola.
Baca juga: Harry Kane Mantap Menatap Piala Dunia 2026, Kontrak Baru di Bayern Munchen Belakangan
Namun di sisi lain, dia mendesak para pembaca untuk tidak sepenuhnya percaya terhadap ramalan yang dia keluarkan sepenuhnya.
Hal itu dikarenakan faktor-faktor tersebut hanya menceritakan sebagaian dari keseluruhan.
"Setiap pertandingan, terutama ketika Anda memiliki tim-tim berkualitas tinggi yang saling berhadapan dan memiliki keterampilan serta kualitas yang sangat mirip, semuanya bergantung pada performa tim pada hari itu, keputusan wasit, dan sedikit keberuntungan, misalnya bola membentur tiang gawang atau masuk ke gawang," ungkapnya, dikutip dari BBC.
"Hal-hal seperti itu sama sekali tidak dapat diprediksi. 50 persen sisanya adalah keberuntungan," jelasnya.
Setiap kali waktu Piala Dunia semakin dekat untuk dimulai, model Klement menawarkan pengalihan yang menyenangkan.
Ada banyak faktor yang juga dapat memengaruhi prediksinya, terutama di tahun ini karena ada begitu banyak krisis, perang, dan hal-hal lain yang terjadi.
Untuk diketahui, Joachim Klement bekerja sebagai ahli strategi di bank investasi Panmure Liberum.
Tiga prediksi di Piala Dunia sebelumnya mencapai keakuratan yang begitu baik dan selalu benar.
"Dua belas tahun yang lalu, saya menciptakan model prediksi ini hanya untuk menunjukkan bahwa para ekonom tekadang terlalu berpuas dini, berpikir mereka dapat memprediksi segalanya bahkan tanpa mengetahui apa pun tentang apa yang sedang terjadi," bebernya.
"Tetapi kemudian saya berhasil pada tahun 2014, dan kemudian benar dua kali lagi."
Meskipun begitu, bukan berarti tahun ini prediksinya akan berhasil. Tidak jaminan, karena dia memperhitungkannya berdasarkan model yang dia gunakan seperti penjabaran di atas, dan bisa menemui kegagalan jika ada faktor-faktor teknis yang bisa mengubah pertandingan.
"Hanya karena saya berhasil memprediksi hasil tiga Piala Dunia bertutur-turut, bukan berarti prediksi tahun ini pasti akan benar," ungkapnya.
"Saya punya beberapa kolega yang bertaruh pada Belanda sebagai respons atau publikasi catatan saya itu."
"Dan jika Belanda tersingkir dari Piala Dunia, saya rasa keesokan harinya saya harus bekerja dari rumah," tutupnya.
(Tribunnews.com/Sina)