Harga Sawit di Babel Anjlok, DPRD Curiga Ada Pihak yang Ambil Keuntungan
Dedy Qurniawan May 26, 2026 11:03 PM

 

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Eddy Iskandar, menyoroti secara tajam anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Bangka Belitung (Babel).

Ia menilai penurunan harga yang terjadi secara tiba-tiba ini sangat berpotensi dimanfaatkan oleh sejumlah pihak tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntungan sepihak, terutama setelah munculnya wacana kebijakan ekspor sawit melalui satu pintu BUMN.

Sorotan DPRD Babel Soal Isu Ekspor Satu Pintu

Eddy Iskandar mempertanyakan alasan di balik penurunan harga TBS yang terjadi secara mendadak. Menurutnya, aturan baru mengenai ekspor satu pintu belum resmi berlaku dalam waktu dekat.

“Terjadi seketika, kami melihat persoalannya apa yang menjadi aturan baru. Karena aturan ekspor satu pintu itu kan baru dilaksanakan per 1 Januari 2027,” kata Eddy Iskandar kepada Bangkapos.com, Selasa (26/5/2026) di Kantor DPRD Babel.

Politisi Partai Golkar ini menambahkan bahwa saat ini proses perdagangan sawit sebenarnya masih berjalan normal seperti biasa. Karena itu, pihak kementerian terkait telah meminta dinas di daerah untuk berkoordinasi langsung dengan pihak pabrik-pabrik guna melakukan mitigasi serta pengecekan di lapangan.

"Karena mengatakan tangki penuh atau tidak, harus dilihat. Sehingga tidak menerima buah dari masyarakat. Jangan sampai pabrik mengambil keuntungan di dalam kondisi saat terjadinya perubahan ini," kata Eddy.

Eddy menegaskan, pemerintah daerah tidak boleh kalah oleh segelintir pihak yang ingin mencari keuntungan sesaat di tengah ketidakpastian situasi ini.

"Pemerintah tentu tidak boleh kalah, dari segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan sesaat seperti itu. Harus diutamakan kepentingan lebih besar ekonomi masyarakat dan daerah. Pemerintah daerah segera bentuk tim gabungan melibatkan APH, melihat kondisi ini, harga yang telah disepakati harus dijalankan," tutupnya.

Baca juga: Harga Sawit di Babel Anjlok Rp1750/Kg, Petani Ogah Petik Buahnya karena Terlalu Murah

Penjelasan Dinas Pertanian Babel Terkait Faktor Pasar

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kurniawan, memberikan penjelasan teknis dari sisi regulasi pasar. Menurutnya, penurunan harga TBS kelapa sawit saat ini dipengaruhi oleh rendahnya harga crude palm oil (CPO) dan kernel pada periode 17–31 Mei 2026.

Perkembangan harga TBS terbaru direncanakan bakal kembali dihitung pada penetapan berkala tanggal 8 Juni 2026 mendatang dengan mempertimbangkan kondisi harga pasar global.

"Harga TBS turun memang disebabkan harga CPO dan kernel rendah, informasi dari pabrik, kata pengusahanya seperti itu. Tentu kita harapkan harga sebaik mungkin," kata Kurniawan.

Mekanisme Penetapan Harga Resmi

Kurniawan menjelaskan bahwa mekanisme penetapan harga TBS di Babel selalu dilakukan secara transparan berdasarkan kompilasi data valid yang masuk dari perusahaan perkebunan dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

"Nanti ada perhitungan harga, tergantung data yang masuk dari perusahaan yang kita input setiap bulannya. Dilakukan secara rutin dua kali dalam sebulan, setiap tanggal 7 dan 17," ujarnya.

Petani Didorong untuk Bermitra

Guna menghindari kerugian akibat fluktuasi harga liar di tingkat tengkulak, Kurniawan mendorong para petani mandiri di Babel untuk segera menjalin kemitraan resmi dengan perusahaan sawit setempat. Langkah ini penting agar petani mendapatkan jaminan harga komoditas sesuai ketetapan pemerintah daerah.

"Kami mendorong petani bermitra dengan perusahaan, karena harga petani yang tidak bermitra di luar itu tidak bisa kita atur," katanya.

Meskipun informasi dari pihak pabrik menunjukkan harga pasar CPO sedang mengalami tekanan, pemerintah daerah memastikan akan terus berupaya menjaga stabilitas agar kesejahteraan petani tetap terlindungi.

"Kami mengharapkan petani bisa bermitra sehingga mendapatkan harga sesuai yang kami rilis setiap bulannya," tutup Kurniawan. (bangkapos.com / Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.