Kisah Pedagang di Solo Adaptasi dengan Teknologi, QRIS BRI Bikin Cuan Makin Tinggi
Febri Prasetyo May 27, 2026 02:21 AM

TRIBUNNEWS.COM - Perubahan perilaku masyarakat di era digital membuat pelaku usaha tidak punya banyak pilihan selain ikut beradaptasi. 

Pola transaksi yang dulu identik dengan uang tunai kini perlahan bergeser menuju sistem pembayaran digital yang dianggap lebih cepat, praktis, dan efisien.

Fenomena ini semakin terasa di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Tidak hanya bisnis besar, industri rumahan hingga pedagang pasar kini mulai mengandalkan sistem pembayaran digital demi mengikuti kebutuhan konsumen yang terus berubah.

Salah satu yang merasakan langsung dampak digitalisasi adalah Saryati, pemilik usaha bawang goreng 'SW Brambang Goreng Jawa' asal Solo, Jawa Tengah.

Di usianya yang genap 50 tahun pada Juni mendatang, Saryati memilih untuk tidak tertinggal perkembangan zaman. 

Ia mulai menyediakan layanan pembayaran menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) agar pembeli dapat bertransaksi dengan lebih mudah.

“Sekarang orang maunya praktis. Kalau pakai QRIS kan simpel, tinggal scan, langsung bayar. Saya juga tidak perlu repot nyiapin uang kembalian,” ujar Saryati saat ditemui Tribunnews.com, Senin (27/4/2026).

Sesuaikan perubahan gaya belanja

Menurut Saryati, keputusan menggunakan QRIS bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk penyesuaian terhadap kebiasaan konsumen saat ini yang semakin akrab dengan transaksi nontunai atau cashless.

Apalagi, sebagian besar pelanggannya berasal dari kalangan pekerja muda hingga pengunjung bazar yang lebih sering membawa ponsel dibanding uang tunai.

Perempuan yang juga menjadi peserta BRIncubator 2025 Rumah BUMN Solo itu mengaku mulai mengenal QRIS melalui pendampingan UMKM. 

Awalnya ia sempat menggunakan beberapa kode pembayaran dari bank berbeda, namun kemudian memilih menyatukannya dalam satu layanan QRIS BRI karena rekening usahanya menggunakan BRI.

“Dulu sempat ada beberapa QR, tapi akhirnya disatukan supaya lebih gampang. Jadi pembeli juga tidak bingung,” katanya.

Penggunaan QRIS, lanjut dia, sangat membantu ketika dirinya mengikuti bazar atau pameran UMKM di berbagai daerah. 

QRIS - Terpampang di etalase, QRIS BRI milik Saryati (50) pelaku UMKM SW Brambang Goreng, Senin (27/4/2025).
QRIS - Terpampang di etalase, QRIS BRI milik Saryati (50) pelaku UMKM SW Brambang Goreng, Senin (27/4/2025). (Tribunnews.com/Isti Prasetya)

Dalam kondisi ramai pengunjung, transaksi digital dinilai jauh lebih cepat dibanding pembayaran tunai.

Ia mencontohkan, ketika pembeli datang bersamaan, proses pembayaran tunai sering kali memakan waktu karena harus menghitung uang dan menyiapkan kembalian. 

Sementara dengan QRIS, transaksi bisa selesai hanya dalam hitungan detik.

Selain mempermudah pembeli, Saryati merasa sistem digital juga membantu pencatatan keuangan usahanya menjadi lebih rapi.

“Kalau pakai QRIS kan langsung tercatat. Jadi lebih gampang ngecek penjualan harian,” ucapnya.

Baca juga: Usia Tak Batasi Saryati Cari Ilmu demi Legalitas, Bawang Goreng SW Kini Mejeng di Supermarket Beken

Jadi pilihan pembeli

Manfaat serupa juga dirasakan banyak pedagang di Pasar Gede Solo.

Di antara hiruk pikuk jual beli di pasar yang bergaya vintage itu, sudah ada sentuhan teknologi yang tersaji dalam QR barcode di setiap kios.

Di pasar yang hampir berdiri seabad lalu itu, kini selain gemricing uang logam, terdengar pula suara notifikasi dari ponsel pedagang dan pembeli yang bertransaksi secara online.

Adalah Rahmawati (37) warga asli Solo yang membayar sayuran belanjaan di Kios Ibu Dewi dengan cara yang kekinian, scan QRIS.

Usai memilih barang belanjaan, Rahmawati memindai QRIS BRI yang terpajang di kios nomor 16 milik Ibu Dewi.

"Sekarang pasar tradisional rasanya nggak kalah sama swalayan modern. Malah mending sini, sayur bagus harganya murah," ujar perempuan berkacamata itu saat ditemui Tribunnews.com, Minggu (17/5/2026).

Tak hanya soal dagangan, Rahmawati juga mengaku sistem pembayaran di Pasar Gede mulai mengikuti zaman.

Sehingga dia lebih memilih menggunakan pembayaran nontunai karena praktis dan cepat.

"Kalau dulu beli grosir paling bayar lewat transfer, itu pun agak eman (sayang) karena ada biaya admin kalau ndelalah (kebetulan) beda bank. Sekarang ada QRIS makin praktis lagi," terang Rahmawati sambil merapihkan belanjaannya.

Dengan adanya kemudahan ini, Rahmawati tidak perlu repot membawa banyak uang tunai hanya untuk ke pasar. 

Meski begitu, dia tetap harus pilih-pilih kios yang menyediakan layanan QRIS.

"Kadang kecele, sayurnya bagus-bagus tapi nggak bisa QRIS. Sejak Pasar Gede sudah modern begini, pokoknya begitu sampai langsung lirik kios yang ada QRIS-nya," tutup dia.

Menyikapi tanggapan pelanggannya, Dewi Kartika mengaku tak masalah dengan pembayaran nontunai di lapaknya.

"Malah ndak usah nyusuki (memberi kembalian), langsung muncul juga notif di HP,” kata dia.

Selain itu, Dewi menyatakan lebih merasa aman dengan transaksi QRIS karena terhindar dari uang palsu.

"Wah kalau lagi ramai, saya suruh bayar QRIS aja. Takut uang palsu soalnya cuman bisa cek manual," tutup dia.

Suasana Pasar Gede Solo
TRANSAKSI - Suasana ramai pembeli di Pasar Gede Solo pada Minggu (17/5/2026).

Sejak 2023, Pemerintah Kota Surakarta telah bekerja sama dengan Bank BRI untuk memperkenalkan pembayaran digital.

Program ini pertama kali dilaksanakan di pasar tradisional, yang dimulai di Pasar Gede Surakarta.

Hingga kini, QRIS sudah menjadi pilihan transaksi di berbagai kedai hingga gelaran Car Free Day (CFD).

Sejalan dengan program itu, Bank Indonesia terus mendorong penguatan ekonomi daerah melalui digitalisasi sistem pembayaran dan pengembangan UMKM. 

Sepanjang 2026, nominal transaksi QRIS di Solo Raya mencapai Rp5,3 triliun atau tumbuh 114,3 persen (yoy), dengan volume 54,54 juta transaksi atau tumbuh 141,6 persen (yoy). 

Jumlah merchant QRIS bertambah 53.281 merchant, sehingga total merchant QRIS di Solo Raya mencapai 1.109.871 merchant atau tumbuh 18,1 persen (yoy). 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, menyampaikan bahwa QRIS memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha, termasuk restoran, rumah makan, kafe, dan sektor kuliner. 

“QRIS membuat pembayaran lebih cepat, aman, dan praktis. Bagi pelaku usaha kuliner, transaksi yang tercatat secara digital membantu pemantauan penjualan, pembukuan, dan pembentukan rekam jejak usaha. Hal ini penting agar usaha kuliner Solo Raya semakin modern, tertata, dan berdaya saing,” ujar Dwiyanto pada rilis yang diterima Tribunnews.com, Kamis (21/5/2026). 

Baca juga: Melek Digital, QRIS jadi Andalan UMKM di Lokasi Wisata: Jualan Laris Manis, Transaksi Makin Praktis

Perluasan layanan digital BRI

Melalui produk QRIS, BRI juga mencatat lonjakan transaksi yang signifikan seiring dengan akselerasi transformasi digital bertajuk BRIvolution Reignite.

Jumlah merchant yang terhubung dengan ekosistem BRI kini mencapai 323,7 ribu, menandakan semakin luasnya jangkauan layanan digital BRI di berbagai sektor usaha. 

Pertumbuhan ini turut mendorong peningkatan volume transaksi merchant yang mencapai Rp67,9 triliun, tumbuh 26,5 persen year-on-year (yoy).

Salah satu pencapaian paling menonjol adalah transaksi melalui QRIS yang melonjak hingga Rp30,5 triliun, atau tumbuh 76 persen yoy. 

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa menggunakan metode pembayaran digital yang cepat, aman, dan efisien.

Secara keseluruhan, jumlah transaksi meningkat drastis hingga 253 miliar, dengan pertumbuhan 76,8 persen yoy. 

Angka ini mencerminkan keberhasilan BRI dalam memperluas adopsi layanan digital di kalangan nasabah maupun merchant.

(Tribunnews.com/Isti Prasetya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.