Kuwu Ambulu Cirebon: Penyakit Terbesar Warga Bukan Gatal, Tapi Mental yang Terus Diteror Rob
Mutiara Suci Erlanti May 27, 2026 09:21 AM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Tak ada lagi malam-malam yang benar-benar tenang bagi warga pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon.


Selama tiga tahun terakhir, banjir rob yang terus datang hampir setiap hari bukan hanya merendam rumah dan melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi perlahan mulai menggerus kondisi psikologis warga yang hidup dalam ancaman air laut tanpa kepastian kapan bencana itu akan berakhir.


Kuwu Ambulu, Sunaji, bahkan menyebut penyakit terbesar yang kini dirasakan masyarakat bukan lagi sekadar gatal atau penyakit kulit akibat genangan air laut, melainkan tekanan mental karena terus hidup dalam kecemasan menghadapi rob.

Baca juga: 3 Tahun Tidur di Atas Air, Kisah Keluarga di Cirebon yang Rumahnya Tak Pernah Kering dari Banjir Rob


“Biasanya sih gatal. Tapi gatal itu, mau gatal mau korengan, itu sebetulnya penyakit yang kita anggap kecil. Tapi penyakit yang terbesar itu penyakit mental,” ujar Sunaji saat diwawancarai, Selasa (26/5/2026) malam.


Menurut dia, warga kini hidup dalam ketakutan setiap hari karena banjir rob datang tanpa bisa diprediksi seperti tahun-tahun sebelumnya.


Masyarakat harus selalu bersiap mengangkat barang-barang rumah tangga ketika air laut mulai masuk ke permukiman mereka.


“Karena mereka begitu stresnya U, ‘Oh, nanti jam sekian ada banjir rob.’ Mereka mesti mengangkat barang. Tidurnya pun tidak nyaman,” ucapnya.


Sunaji menuturkan, kondisi mental masyarakat yang terus tertekan juga mulai berdampak terhadap aktivitas pendidikan anak-anak di wilayah pesisir.


Apalagi, banjir rob kerap datang pada jam-jam masyarakat beraktivitas pada malam hari.


“Nah, ini yang menarik dan harus jadi perhatian bersama. Air rob itu datangnya persis mulai mengalir antara jam 5 sampai jam 10 malam. Puncaknya biasanya jam 8 malam,” jelas dia.

BANJIR ROB - Potret memilukan terlihat di salah satu rumah di Desa Ambulu, Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon. Selama tiga tahun terakhir, satu dari sejumlah keluarga di desa tersebut terpaksa hidup di tengah kepungan banjir rob yang tak pernah benar-benar surut.
BANJIR ROB - Potret memilukan terlihat di salah satu rumah di Desa Ambulu, Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon. Selama tiga tahun terakhir, satu dari sejumlah keluarga di desa tersebut terpaksa hidup di tengah kepungan banjir rob yang tak pernah benar-benar surut. (Tribun Cirebon/TribunCirebon.com/ Eki Yulianto)


Menurut dia, waktu tersebut merupakan jam-jam penting ketika anak-anak belajar dan mengaji.


Namun suasana itu kini berubah sejak rob terus datang hampir setiap hari.


“Nah, puncak itulah kan puncaknya orang mengaji, orang belajar, orang hilir mudik. Ketika itu terjadi banjir, aktivitas pastinya menurun dan mental semangat untuk mengaji dan belajar itu pasti terganggu,” katanya.


Ia menilai, kondisi Desa Ambulu kini sudah masuk kategori darurat karena banjir rob tak lagi menjadi bencana musiman, melainkan ancaman rutin yang menghantui ribuan warga pesisir.


Bahkan berdasarkan data pemerintah desa, sekitar 60 persen kawasan permukiman di Desa Ambulu kini terancam tenggelam.

Baca juga: Ini Kata Kapten Persib Bandung Terkait Euforia Bobotoh Menyambut Three-peat Gelar Juara


Tak sedikit rumah warga yang rusak dan kosong ditinggalkan pemiliknya akibat tak sanggup terus hidup di tengah genangan rob.


“Ada yang mengungsi, ada yang mungkin bosan, ada yang ditinggalkan, ada yang pergi ke luar negeri atau ke luar kota untuk mencari nafkah,” ujarnya.


Sunaji mengaku sedih melihat kondisi desanya yang semakin memprihatinkan dari tahun ke tahun.


Ia bahkan mengutip ucapan Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat yang sempat datang melihat langsung kondisi banjir rob di Desa Ambulu.


“Saya baru menemui satu desa bencana yang ketika bencana ini, merasakannya setiap hari. Kalau misalnya datang satu bencana, ada banjir, satu minggu selesai. Ini di Ambulu setiap hari banjir, tapi tidak ada penanganan,” ucap Sunaji, menirukan pernyataan tersebut.


Menurutnya, persoalan rob di Desa Ambulu sudah tidak bisa lagi ditangani hanya oleh pemerintah desa maupun pemerintah daerah semata.


Ia menilai penanganan banjir rob harus melibatkan pemerintah pusat secara serius.


“Ini bukan levelnya kuwu, bukan levelnya kabupaten. Bahwa ini harus semuanya turun tangan,” jelas dia.


Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah desa sebenarnya sudah berupaya melakukan berbagai langkah penanganan.


Salah satunya melalui pembangunan tanggul penahan tanah di pinggir sungai menggunakan Dana Desa.


Selain itu, bantuan aspirasi DPR RI pada tahun 2024 juga telah digunakan untuk membangun tanggul sungai sepanjang sekitar 120 meter di Dusun 4.


Namun panjang tanggul tersebut dinilai masih jauh dari cukup dibanding panjang sungai yang mencapai sekitar dua kilometer.


“Belum maksimal, karena panjang sungai itu kan dari ujung ke ujung sekitar dua kilometer, sementara yang ditangani baru 120 meter,” katanya.


Sunaji juga mengungkapkan, banyak warga kini terpaksa terus meninggikan rumah mereka demi bertahan dari rob.


Bahkan ada rumah warga yang sudah tiga kali ditinggikan hingga jarak lantai dengan atap hanya tersisa sekitar satu setengah meter.


“Jadi kalau dia masuk rumah itu harus membungkuk,” ujarnya.


Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi bukti betapa berat kehidupan masyarakat pesisir yang setiap hari harus berdamai dengan banjir rob.


Sementara itu, pemerintah desa bersama masyarakat terus menyampaikan tuntutan agar pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa.


Selain itu, warga juga meminta adanya penetapan status tanggap darurat, normalisasi irigasi pesisir, hingga pembebasan pajak tambak yang terbengkalai akibat rob.


Sebab bagi masyarakat Ambulu, solusi sementara dinilai sudah tidak lagi cukup untuk menghadapi banjir rob yang terus datang dan perlahan mengikis kehidupan sosial maupun ekonomi warga pesisir.


Sebelumnya, potret memilukan juga dialami Salman Alfarisi (40), warga Desa Ambulu yang bersama keluarganya sudah lebih dari tiga tahun hidup di rumah yang terus terendam banjir rob.


Di rumah sederhana bercat hijau itu, Salman bersama kedua orang tua dan satu saudaranya harus tidur di atas amben yang ditinggikan agar tubuh mereka tidak menyentuh genangan air laut setinggi sekitar 70 sentimeter.


“Ya, ini seperti terendam banjir terus, Pak. Tiap hari enggak surut-surut,” ujar Salman.


Air keruh terlihat menggenangi hampir seluruh ruangan rumah, mulai dari ruang tamu, kamar tidur hingga dapur.


Perabot rumah tangga seperti kursi plastik, rak piring, televisi hingga tabung gas LPG pun terpaksa diletakkan di tempat lebih tinggi agar tidak terendam air.


“Tidurnya di atas air,” ucap Salman pelan.


Kondisi itu kini menjadi gambaran kehidupan ribuan warga pesisir Desa Ambulu yang terus bertahan di tengah rob yang tak kunjung teratasi.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.