Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Ribuan jemaah memadati pelataran Lapangan Umum dan halaman Plaza Pelayanan Publik Kota Atambua, Kabupaten Belu, perbatasan RI-RDTL untuk melaksanakan salat Iduladha 2026, Rabu (27/6/2026).
Jemaah diajak untuk memperkuat iman, menjauhi kesyirikan, serta meneladani nilai-nilai pengorbanan Nabi Ibrahim.
Sejak pukul 05.30 WITA, warga mulai berdatangan ke lokasi salat dengan membawa keluarga masing-masing.
Jemaah yang hadir terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memenuhi area pelaksanaan salat dengan suasana yang tertib dan khidmat.
Pelaksanaan salat Iduladha tersebut juga mendapat pengamanan ketat dari aparat kepolisian dan TNI yang berjaga di sekitar lokasi guna memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar.
Dalam khotbahnya, Ustadz Adam Hairul, S.Ag mengingatkan pentingnya menanamkan rasa takut dan harap hanya kepada Allah SWT.
Ia menegaskan agar umat Islam tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah serta tidak terjebak dalam kecintaan duniawi yang melalaikan.
Baca juga: Empat Masjid di Belu Terima Bantuan Sapi Kurban dari Pemda Jelang Idul Adha
Ia juga menjelaskan makna ibadah haji sebagai simbol kesucian dan kesetaraan manusia di hadapan Allah.
Melalui ihram, kata dia, setiap manusia diingatkan untuk meninggalkan kesombongan dan perbedaan status sosial, karena yang membedakan hanyalah ketakwaan.
“Sebagai seorang muslim, kita harus terus berusaha, bersabar, dan tetap mengingat Allah dalam setiap kondisi, baik saat berada di puncak keberhasilan maupun ketika menghadapi kesulitan,” ujarnya.
Ustadz Adam juga mengingatkan pentingnya membangun keluarga yang berlandaskan hubungan yang baik dengan Allah (habluminallah), sesama manusia (habluminannas), serta mencari rezeki yang halal.
Selain itu, ia mengajak umat Islam untuk menjauhi perbuatan yang termasuk dalam godaan setan, seperti korupsi dan pemborosan, serta menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh (kaffah).
Ia juga menekankan makna Iduladha sebagai momentum meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar dalam ketaatan dan pengorbanan.
Ia mengajak jemaah untuk menjadikan momen kurban sebagai sarana memperkuat keimanan dan kepedulian sosial. (gus)