Israel Kewalahan Hadapi Drone Hizbullah, Jaring Pertahanan Jadi Senjata Terakhir di Perbatasan Utara
Amirullah May 27, 2026 06:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Tekanan militer di perbatasan utara Israel dilaporkan semakin meningkat setelah gelombang serangan drone yang diduga diluncurkan oleh Hizbullah terus menghantam wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Serangan berbasis drone itu disebut menjadi tantangan baru bagi sistem pertahanan udara Israel yang selama ini mengandalkan teknologi deteksi konvensional.

Namun, intensitas serangan yang makin sering membuat sejumlah sistem tidak sepenuhnya mampu mencegat target berukuran kecil dan berkecepatan rendah.

Kondisi tersebut memaksa militer Israel mengubah pendekatan pertahanannya. Salah satu langkah yang kini mulai diterapkan adalah penggunaan lapisan pengaman tambahan yang disebut “jaring pertahanan”, yang berfungsi untuk menghambat atau menjatuhkan drone sebelum mencapai sasaran strategis.

Langkah ini diambil setelah beberapa insiden menunjukkan adanya celah dalam sistem pertahanan udara yang sudah ada.

Situasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa pola perang modern kini semakin berubah, di mana drone berbiaya murah justru menjadi ancaman efektif di medan konflik terbuka.

Militer Israel sendiri disebut terus melakukan evaluasi cepat terhadap seluruh sistem anti-drone yang dimilikinya.

Ketegangan di wilayah perbatasan Israel–Lebanon pun belum menunjukkan tanda mereda, seiring saling serang yang masih terus terjadi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka meminta militer segera mencari solusi konkret untuk menghadapi gelombang serangan drone peledak dari Hizbullah di Lebanon. Ia menyebut ancaman tersebut sebagai risiko serius bagi keamanan nasional.

Kekhawatiran itu semakin meningkat setelah lebih dari 15 drone peledak dilaporkan kembali meledak di wilayah Israel pada Selasa (26/5/2026).

Media lokal Channel 12 Israel melaporkan bahwa sebagian besar drone tersebut berhasil mencapai dan menghantam area zona militer.

Di tengah situasi itu, militer Israel disebut masih berupaya keras merumuskan respons yang lebih efektif. Bahkan, laporan menyebutkan Israel mulai mencari pemasok dari sejumlah negara Eropa untuk mempercepat pengadaan sistem pelindung tambahan.

Sebagai langkah darurat di lapangan, Israel telah memasang lebih dari 250.000 meter persegi jaring pelindung. Tak berhenti di situ, militer juga disebut sedang membeli tambahan 280.000 meter persegi jaring lagi, sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Rabu (28/5/2026).

Meski berbagai upaya teknologi terus dikembangkan, pejabat keamanan Israel mengakui bahwa hasil di lapangan masih belum maksimal. Hingga kini, belum ditemukan solusi final untuk mengatasi ancaman drone tersebut.

Di sisi lain, Israel juga meningkatkan operasi militernya di Lebanon selatan. Namun langkah tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi keamanan warga di wilayah perbatasan.

Sejumlah warga di Israel utara bahkan menyebut situasi masih relatif sama, tanpa perubahan berarti meski operasi militer terus diperluas.

Data konflik menunjukkan, sejak Israel memperluas ofensif ke Lebanon pada 2 Maret lalu, hampir 3.200 orang dilaporkan tewas, lebih dari 9.600 orang terluka, dan sekitar 1,6 juta orang terpaksa mengungsi.

Sementara itu, militer Israel tetap melanjutkan serangan harian meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sebenarnya telah berlaku sejak 17 April dan kemudian diperpanjang hingga awal Juli.

(TribunNewsmaker.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.