Dokter Hewan DKPP Tarakan Lakukan Pemeriksaan Organ Dalam Sapi Kurban, Cek Hati hingga Jantung
Junisah May 27, 2026 06:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN-Dalam pemeriksaan hewan kurban di Tarakan Kalimantan Utara tidak hanya dilakukan sebelum penyembelihan, tetapi juga berlanjut setelah sapi kurban dipotong.

Dilakukannya pemeriksaan pasca  postmortem atau pemotongan dengan mengecek organ dalam sapi kurban seperti hati, paru-paru, ginjal hingga jantung untuk memastikan daging aman dikonsumsi masyarakat.  Seperti yang terpantau di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jalan Hake Babu Kelurahan Karang Anyar berbatasan Kelurahan Karang Harapan Tarakan, Rabu (27/5/2026).

Medik Veteriner DKPP Kota Tarakan, drh Richard Situmorang mengatakan pemeriksaan organ dalam menjadi bagian penting dalam pengawasan hewan kurban, terutama untuk mendeteksi adanya penyakit atau kelainan pada sapi.

Menurutnya, salah satu temuan yang paling sering diperiksa petugas adalah cacing hati. “Kalau cacing hati itu biasanya ada di saluran ini. Di saluran-saluran ini. Biasanya di situ,” ujar drh Richard sambil menunjukkan bagian hati sapi yang diperiksa di Rumah Potong Hewan (RPH) Tarakan.

Ia menjelaskan, keberadaan cacing hati biasanya terlihat dari lubang-lubang kecil pada bagian saluran hati. “Di lubang-lubang ini,” katanya.

Baca juga: Awasi Pemotongan Hewan Kurban, DKPP Tarakan Turunkan 33 Petugas dan Libatkan Polisi

Namun dari hasil pemeriksaan sementara di lokasi, organ hati sapi yang diperiksa masih dalam kondisi aman.

“Ini sejauh ini aman. Hatinya bagus,” ujarnya.

Selain memeriksa saluran hati, dokter hewan juga melihat bentuk dan warna organ untuk memastikan tidak ada kelainan. “Dari bentuknya juga kelihatan kan?” katanya.

Tak hanya hati, pemeriksaan juga dilakukan pada bagian paru-paru sapi.

Menurut drh Richard, pemeriksaan paru-paru dilakukan untuk mendeteksi adanya radang atau infeksi.

“Nah ini paru-paru. Kalau paru-paru biasanya kita lihat apakah dia ada pneumonia. Radangan pada paru-paru kan,” jelasnya.

Ia mengatakan, paru-paru yang sehat umumnya memiliki warna dan tekstur normal tanpa adanya cairan atau nanah.

“Nah ini bagus. Biasanya ada nanah. Kalau ada kelainan itu ada nanah,” ungkapnya.

Jika ditemukan nanah atau tanda infeksi, maka organ tersebut tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi masyarakat.

“Kalau ada nanah berarti tidak boleh, dibuang,” katanya.

Baca juga: Penampakan Bruno, Sapi Kurban Jenis Limosin Bantuan Presiden Prabowo di Malinau

Pemeriksaan kemudian berlanjut pada bagian jantung sapi.

Menurut drh Richard, petugas memeriksa kemungkinan adanya penggumpalan darah atau kelainan lain di organ tersebut.

“Karena ini jantung ya. Di jantung kita lihat. Biasanya kalau ada penggumpalan darah itu ada kelainan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemeriksaan organ dalam sebenarnya bisa dikenali juga oleh masyarakat awam apabila terdapat perubahan bentuk maupun warna yang mencolok.

“Kalau ada kelainan itu orang awam juga sudah tahu. Kayak bentuk warnanya kan,” ucapnya.

drh Richard mengungkapkan, pada pelaksanaan kurban tahun lalu sempat ditemukan kasus cacing hati pada sapi.

“Tahun lalu ada cacing hati,” katanya.

Namun demikian, apabila ditemukan cacing hati, bagian yang dibuang hanya organ hati yang terinfeksi, sedangkan daging sapi secara umum masih aman dikonsumsi.

“Tapi kalau yang cacing hati, bagian hatinya aja berarti yang dibuang ya. Dagingnya aman,” jelasnya.

Ia menerangkan, hati yang terinfeksi cacing biasanya memiliki bercak atau perubahan warna putih pada bagian tertentu.

“Kalau hatinya biasanya bentuknya kayak putih-putih gitu,” katanya.

ORGAN DALAM SAPI

 KURBAN - Dokter hewan DKPP Tarakan, drh Richard Situmorang, Medik Veteriner DKPP Tarakan bersama Kabid Peternakan DKPP, Paulus menunjukkan proses pengecekan pada organ sapi setelah dipotong. Seperti jantung, hati dibelah diperiksa sampai detail di bagian dalam organ untuk dicek agar saat sampai di masyarakat aman dikonsumsi.
ORGAN DALAM SAPI KURBAN - Dokter hewan DKPP Tarakan, drh Richard Situmorang, Medik Veteriner DKPP Tarakan bersama Kabid Peternakan DKPP, Paulus menunjukkan proses pengecekan pada organ sapi setelah dipotong. Seperti jantung, hati dibelah diperiksa sampai detail di bagian dalam organ untuk dicek agar saat sampai di masyarakat aman dikonsumsi. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Terkait kemungkinan organ terinfeksi tetap dikonsumsi masyarakat, drh Richard menjelaskan bahwa cacing umumnya akan mati apabila dimasak pada suhu tinggi.

“Kalau dikonsumsi kan biasanya dia cacing itu mati ya kalau dimasak,” ujarnya.

Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa dari sisi keamanan pangan, masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi organ yang sudah terindikasi tidak sehat.

“Tapi kan dari segi keamanan pangannya, kita makan sesuatu yang enggak baik buat tubuh itu enggak baik,” katanya.

Menurutnya, keluhan sakit perut setelah mengonsumsi daging kurban umumnya bukan disebabkan cacing hati, melainkan faktor kebersihan dalam penanganan daging.

“Kalau sakit perut biasanya kena bakteri. Pencemarannya enggak bersih dari penanganan dagingnya,” jelasnya.

Walaupun organisme tertentu dapat mati saat dimasak, drh Richard tetap mengimbau masyarakat menjaga keamanan pangan dan kebersihan pengolahan daging kurban.

“Biasanya mati sih, organisme yang dipanas dengan suhu tertentu kan mati. Tapi lebih baik jangan dikonsumsi kalu diketahui ada cacingnya dan sejauh ini juga pemilik sapi pasti paham dan bersedia membuang," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.