TRIBUN-MEDAN.COM – Sosok, biodata, dan profil Cathlyn Yvaine Lesmana (16), siswi Makassar dicoret dari Calon Paskibraka di Istana menjadi sorotan di media sosial.
Cathlyn Yvaine Lesmana, siswi kelas XI (kelas 2) SMA Swasta Cerdas Bangsa Makassar, sempat masuk tiga besar seleksi Paskibraka Sulawesi Selatan (Sulsel), namun mendadak dicoret dari daftar calon yang akan bertugas di Istana Negara Jakarta.
Kasus ini memicu polemik karena dugaan diskriminasi, ketidaktransparanan seleksi, dan faktor non-teknis yang disebut memengaruhi hasil.
Sosok, Profil, dan Biodata Cathlyn Yvaine Lesmana
Kronologi dan Polemik
Kritik dan Kejanggalan
Ringkasan Fakta
Baca juga: KEJANGGALAN Siswi Makassar Dicoret dari Calon Paskibraka Istana, Seleksi Disebut Tak Terbuka
Perlunya Transparansi
Kasus Cathlyn menyoroti perlunya transparansi seleksi Paskibraka di tingkat provinsi agar tidak menimbulkan spekulasi diskriminasi atau manipulasi nilai.
Polemik ini juga menjadi perhatian publik karena menyangkut simbol nasionalisme dan kesempatan generasi muda untuk tampil di panggung kenegaraan.
Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) mengungkap adanya kejanggalan siswi Makassar, Cathlyn (16) dicoret dari Calon Paskibra Istana.
Ketua Pelaksana Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar Yusuf A. Bachtiar Mappiare mengungkit sejumlah kejanggalan saat proses seleksi.
Menurutnya, seleksi Paskibraka tingkat nasional di Sulsel tidak berlangsung secara terbuka. "Sistem seleksinya sendiri tidak transparan dan kabupaten/kota lainnya pasti sepakat," ujar Yusuf, dikutip dari TribunMakassar, Selasa (26/5/2026).
Ia mencontohkan pelaksanaan seleksi pada hari terakhir yang disebut berlangsung tertutup bagi pendamping. "Di seleksi hari terakhir tahun 2026, tanggal 21 kemarin para pendamping disuruh keluar dari ruang seleksi padahal ada ID card resmi tanpa alasan yang jelas. Padahal sesuai aturan dilaksanakan secara transparan,"tandas Yusuf.
Terkait hal itu, ia menegaskan bahwa aturan mengharuskan seluruh proses penilaian dapat diketahui secara terbuka, termasuk oleh dua orang pendamping yang telah ditetapkan secara resmi. Selain itu, ia menaruh perhatian pada hasil seleksi kepribadian yang menurutnya memiliki pengaruh besar terhadap peringkat akhir peserta.
Penilaian tersebut disebut menyumbang bobot 40 persen dalam proses pemeringkatan. "Baru seleksi kepribadian itu nilainya keluar 2 hari setelah seleksi, jadi bisa orang berspekulasi baru diatur nilainya," imbuh Yusuf.
Kritik lain diarahkan pada pelaksanaan pantukhir atau penentuan akhir. Ia menilai tahapan tersebut tidak semestinya lagi menjadi faktor penentu setelah seluruh nilai tes telah diakumulasikan.
"Pantukhir yang di tingkat provinsi tidak sesuai aturan. Karena harusnya penentuan itu tidak ada lagi pantukhir yang dicek lagi postur dan sebagainya. Harusnya sudah data dan nilai," ujarnya.
Ia juga menyesalkan adanya anggapan bahwa Kota Makassar terlalu sering mengirim wakil ke tingkat nasional. Menurutnya, tidak ada regulasi yang membatasi daerah tertentu untuk berulang kali meloloskan peserta. "Ada panitia dan pihak sana bilang jangan Makassar terus padahal tidak ada aturan mengatur tersebut," kata Yusuf.
"Terpentingkan kualitas dilihat bukan asal daerah. kalau memang asal daerah dilihat, kenapa di seleksi. Mendingan digilir saja," tambahnya.
Ia mencontohkan daerah lain yang mengirimkan beberapa perwakilannya ke tingkat nasional. "Kita berkaca di Sulbar, di Polman itu 4 perwakilan ke pusat. Di Sulteng juga Palu itu 3 perwakilan ke pusat. Saya sudah tanya Kembali ke pusat, jawabannya tidak karena dinilai kualitas," ucap Yusuf.
Karena itu, Yusuf berharap penyelenggaraan seleksi ke depan dilakukan secara terbuka sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari peserta maupun daerah pengirim.
Sosok Siswi Berprestasi hingga di Tingkat Internasional
Cathlyn Yvaine Lesmana (16) dikenal sebagai siswi Makassar dengan segudang prestasi akademik dan non-akademik, mulai dari medali emas di ajang internasional hingga penghargaan olimpiade sains nasional.
Prestasinya membuat publik heran ketika ia dicoret dari daftar calon Paskibraka Istana meski lolos tiga besar seleksi Sulsel.
Prestasi Akademik dan Non-Akademik
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: Pertama Kalinya, Paskibra 22 Kecamatan se-Deli Serdang Meriahkan Hari Bela Negara
Baca juga: PROFIL dan Harta Kekayaan Ambar Wakil Bupati Kulon Progo yang Bantu Ikat Tali Sepatu Paskibra