TRIBUNJAMBI.COM – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, akhirnya buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus level Rp17.800.
Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (26/5/2026), kurs rupiah ditutup di posisi Rp17.803 per dolar AS. Angka tersebut melemah sekitar 87,9 poin atau 0,4 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.
Meski rupiah terus tertekan, Purbaya menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih berada dalam kondisi baik.
“Ekonomi kita sebenarnya bagus. Jadi pelemahan seperti ini menurut saya tidak masuk akal kalau melihat fundamental yang ada. Biasanya mata uang melemah kalau ada persoalan fundamental,” ujar Purbaya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Baca juga: Film Dokumenter Pesta Babi Jadi Sorotan, Ini Pendapat Yusril hingga Yorrys Raweyai
Baca juga: Dugaan Korupsi Penjernih Air, 3 Tersangka Kasus PDAM Tirta Mayang Jambi Segera Sidang
Tak Akan Hitung Ulang Ketahanan APBN
Saat ditanya apakah pemerintah akan melakukan simulasi ulang terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat tekanan rupiah, Purbaya memastikan hal itu belum diperlukan.
Menurut dia, pemerintah sejak awal sudah menghitung berbagai risiko global, termasuk kemungkinan harga minyak dunia melonjak hingga 100 dolar AS per barel.
“Simulasi APBN sudah memperhitungkan harga minyak sampai 100 dolar per barel, termasuk asumsi nilai tukarnya. Jadi belum perlu hitung ulang,” katanya.
Purbaya bahkan sempat berkelakar bahwa dirinya baru akan benar-benar stres apabila harga minyak dunia melampaui skenario yang sudah dihitung pemerintah.
“Kalau harga minyak lewat dari asumsi itu baru saya stres,” ujarnya sambil tertawa.
Pemerintah Klaim Pasar Obligasi Masih Stabil
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Purbaya menyebut pasar obligasi Indonesia masih relatif terjaga.
Ia mengungkapkan pemerintah telah melakukan intervensi melalui operasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga stabilitas keuangan nasional.
Menurutnya, langkah tersebut mulai membuahkan hasil karena investor asing perlahan kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.
“Selama bond market kita tetap stabil, minat investor asing juga masih ada. Sekarang aliran modal asing mulai masuk lagi ke pasar obligasi,” jelasnya.
Purbaya juga memberi sinyal pemerintah akan mengambil langkah tambahan untuk memperkuat rupiah dalam waktu dekat, meski belum membeberkan detail kebijakan yang dimaksud.
Mata Uang Asia Juga Ikut Tertekan
Pelemahan rupiah ternyata bukan terjadi sendiri. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga ikut tertekan terhadap dolar AS.
Yuan China tercatat melemah 0,06 persen, ringgit Malaysia turun 0,34 persen, peso Filipina terdepresiasi 0,18 persen, sementara dolar Singapura melemah 0,05 persen.
Hanya won Korea Selatan yang masih mampu menguat sekitar 0,49 persen terhadap dolar AS.
Tak hanya pasar mata uang, tekanan juga terjadi di pasar saham domestik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,23 persen atau merosot 76,16 poin ke level 6.130,19.
Nilai transaksi di pasar saham mencapai Rp18,01 triliun dengan total 461 saham melemah, 258 saham menguat, dan 240 saham stagnan.
Faktor Timur Tengah Jadi Sentimen Pasar
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menilai tekanan terhadap rupiah dan IHSG dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, pasar global mulai khawatir setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal di Iran Selatan.
“Ketegangan geopolitik ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko, termasuk di negara berkembang,” ujarnya.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi juga menilai konflik antara AS dan Iran menjadi salah satu sentimen utama yang membuat dolar AS kembali menguat di pasar global.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat investor lebih memilih aset safe haven sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.