Indikasi Positif PMK, Satu Truk Muatan Sapi Luar Daerah Ditolak Masuk Pasar Hewan di Sleman
Yoseph Hary W May 27, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (DP3) Kabupaten Sleman memperketat pengawasan terhadap lalu lintas ternak di wilayah Bumi Sembada. Hal ini untuk mencegah penyebaran penyakit menular pada ternak, sekaligus untuk memastikan warga mendapatkan daging kurban dengan kualitas Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) di Hari Raya Idul Adha 1447 H ini. 

Pengawasan ketat ini dibuktikan dengan adanya penolakan terhadap satu truk bermuatan 33 ekor sapi dari luar daerah yang sempat hendak masuk ke pasar hewan, setelah terindikasi adanya paparan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Truk penuh muatan puluhan ekor sapi dari luar daerah itu, dipaksa putar balik. 

Gejala PMK terdeteksi

Plt. Kepala DP3 Sleman, Rofiq Andriyanto mengungkapkan tindakan tegas berupa penolakan ini terjadi pada awal Mei lalu. Petugas menolak memberikan izin agar sapi bisa masuk karena mendeteksi gejala kasatmata pada lima ekor sapi di dalam truk tersebut. Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan cepat di lokasi, terdapat lima sapi positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

"Indikasi pertama 5 (ekor) di pasar hewan mau masuk. 5 ekor ini sudah langsung kasatmata (berpenyakit). Langsung diminta balik, enggak boleh masuk. Itu satu truk (positif PMK) 5 ekor, isinya total 33 (ekor) dari luar daerah," ujar Rofiq, Rabu (27/5/2026). 

Saking parahnya kondisi infeksi, satu ekor sapi di antaranya terpaksa langsung dipotong di tempat oleh pemiliknya karena sudah roboh dan tidak tertolong. Rofiq juga mengimbau media agar tidak salah mengidentifikasi penyakit tersebut sebagai antraks, karena gejala yang ditemukan di lapangan murni merujuk pada PMK (kuku dan mulut).

Pengawasan ketat terus berlanjut hingga pelaksanaan Idul Adha. DP3 Sleman menerjunkan 301 tim pemantau kesehatan. Mereka bertugas mendata jumlah hewan kurban sekaligus mengecek kesehatannya. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi modus pedagang yang sengaja memasukkan hewan kurban mepet pada H-1 pelaksanaan hari raya kurban. Tim gabungan yang diturunkan ini terdiri dari penyuluh lapangan, paramedis dan medis, dokter hewan independen, serta mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM yang disebar di 17 kapanewon.

"Harapan kami dengan pemantauan dan kemarin-kemarin kita sudah melaksanakan kegiatan antemortem-nya, alhamdulillah tidak ada yang terindikasi secara kasatmata,- bukan secara laboratorium,-- terkena PMK. Kami harapkan juga nanti untuk kejadian cacing hati bisa berkurang dibanding kejadian tahun-tahun kemarin yang rata-rata di atas 8-8,5 persen. Sehingga, daging yang diperoleh dari kegiatan korban Iduladha 1447 Hijriah ini menjadi daging ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal," harapnya.

Higienitas panitia kurban 

Tidak hanya dari sisi kesehatan hewan, perlindungan juga harus diterapkan pada higienitas para panitia kurban saat menangani daging kurban. Kepala Tim Kerja Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, dr. Lina Nur Islamiyyah Yunus, mengatakan, kesehatan petugas yang menangani daging kurban harus menjadi perhatian utama. Petugas yang berada dalam kondisi kurang fit, seperti batuk atau pilek, dilarang bersin maupun batuk di hadapan daging kurban.

"Petugasnya diusahakan sehat saat menangani hewan kurban. Bila sedang batuk atau bersin, usahakan memakai masker atau setidaknya tidak mengarahkan batuknya ke arah daging kurban," ujar dr. Lina.

Selain itu, Dinkes Sleman mewajibkan seluruh panitia untuk mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir, baik sebelum maupun sesudah memproses daging kurban. Petugas juga diimbau untuk langsung berganti pakaian bersih setibanya di rumah masing-masing setelah selesai bertugas di lokasi penyembelihan.

Sebagai langkah preventif tambahan terhadap ancaman zoonosis, dr. Lina meminta panitia segera memisahkan hewan kurban yang tampak sakit dari kelompok ternak yang sehat. Peran aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk mempercepat penanganan di lapangan.

"Masyarakat diminta segera melaporkan jika menemukan hewan kurban yang terindikasi sakit agar bisa langsung diobati atau diterapi untuk mencegah penularan. Begitu pula jika ditemukan kasus adanya warga yang mengalami gangguan kesehatan atau sakit setelah mengonsumsi daging kurban, mohon segera dilaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat," ujar dia.(*) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.