Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang mengira keringat berlebih dan jantung berdebar selalu berkaitan dengan penyakit jantung.
Padahal, kondisi tersebut juga bisa menjadi tanda gangguan hormon tiroid yang sering tidak disadari.
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah Dr. dr. Diani Kartini, Sp. B, Subsp. Onk. (K) menjelaskan, gangguan tiroid terutama hipertiroid dapat memicu metabolisme tubuh bekerja terlalu cepat sehingga tubuh terus berada dalam kondisi “aktif”.
Akibatnya, pasien mengalami keluhan seperti berkeringat, gemetar, sulit tidur hingga berat badan turun drastis.
“Kemudian keringat berlebih. Berat badan menurun. Itu kan tanda-tanda hipermetabolisme,” ujarnya dalam media briefing di Menteng,. Jakarta Pusat, Rabu (27/5/2026).
Tiroid Punya Peran Besar dalam Tubuh
Tiroid merupakan kelenjar kecil di leher yang bentuknya menyerupai kupu-kupu.
Meski kecil, organ ini berfungsi mengatur metabolisme tubuh melalui hormon tiroid.
Fungsinya mencakup:
Karena itu, saat hormon tiroid meningkat, tubuh akan bekerja terlalu cepat.
Baca juga: Benjolan di Leher Naik Turun saat Menelan Jangan Dianggap Sepele, Dokter Ungkap Tanda Kanker Tiroid
Gejala Hipertiroid yang Sering Disepelekan
Dokter mengatakan, gejala hipertiroid sering dianggap sekadar kelelahan biasa atau gangguan psikis.
Padahal ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti:
Dokter bahkan membagikan cara sederhana untuk mendeteksi tremor pada tangan.
“Jadi kita nge-checknya gampang. Kita taruh tangan kita dua seperti ini. Taruh kertas di atasnya. Kalau dia kayak gemeteran teremor, jangan-jangan dia ada hipertiroid,” katanya.
Karena sama-sama menyebabkan jantung berdebar dan tubuh berkeringat, banyak pasien awalnya datang ke dokter jantung.
Padahal penyebabnya belum tentu berasal dari jantung.
“Bisa jadi karena tiroid. Bisa jadi karena jantung. Nah kan harus dicek. Apakah ada peningkatan dari fungsi tiroid atau tidak,” ujarnya.
Karena itu, pasien biasanya membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan sumber masalahnya.
Dokter akan melakukan skrining untuk menyingkirkan berbagai kemungkinan penyebab keringat berlebih.
Dokter juga mengungkapkan bahwa gangguan dan kanker tiroid lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki.
Salah satu penyebabnya berkaitan dengan hormon estrogen.
“Makanya kenapa ini memang cukup banyak pada perempuan. Karena terkait dengan hormon estrogen,” katanya.
Selain itu, pembesaran tiroid juga cukup sering ditemukan pada ibu hamil akibat perubahan hormon dalam tubuh.
Sayangnya, pemeriksaan tiroid masih jarang masuk dalam medical check up rutin di Indonesia.
Akibatnya, banyak pasien baru datang ketika ukuran benjolan sudah besar.
“Kalau misalnya ada medical check up yang mengikut sertakan pemeriksaan di leher. Disitu bisa ketemu awal,” jelasnya.
Ia mencontohkan, di beberapa negara seperti Korea dan Vietnam, banyak kasus tiroid ditemukan saat ukurannya masih sangat kecil karena pemeriksaan leher menjadi bagian dari deteksi dini.