TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Beberapa hari terakhir media sosial diramaikan dengan jingle 'MBG Mas Bahlil Ganteng'.
Dalam video berdurasi 55 detik tersebut, tampak gambar bergerak mirip sosok Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
Sosok dalam video seolah bergaya mengikuti musik dan lirik 'MBG Mas Bahlil Ganteng'.
Sekjen Partai Golkar M Sarmuji menilai konten 'MBG Mas Bahlil Ganteng' adalah bagian dari kreativitas warganet di media sosial.
Anggota DPR ini menilai lagu tersebut dapat dibaca sebagai bentuk apresiasi publik terhadap kerja keras Ketua Umum Golkar.
Oleh karena itu Golkar tak mempersoalkan bila sejumlah akun yang berafiliasi dengan Golkar turut menggunakan lagu dalam unggahan media sosial mereka.
"Itu kan justru berasal dari kreativitas netizen sebagai salah satu bentuk penghargaan netizen atas kerja keras Pak Bahlil. Kalau ada akun Golkar yang ikut meramaikan, ya wajar saja, mereka bagian dari netizen juga," kata Sarmuji, Senin (25/5/2026).
Berikut beberapa topik mengenai Bahlil yang sempat menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat dan viral di media sosial.
Semua bermula saat Bahlil menjalani sidang terbuka untuk mendapatkan gelar pada 16 Oktober 2024 lalu di Universitas Indonesia (UI).
Saat itu media sosial ramai menyoroti durasi kuliah S3 Bahlil yang hanya menghabiskan waktu 1 tahun 8 bulan yang dianggap tidak wajar padahal biasanya perlu setidaknya 3 tahun kuliah.
Setelah disorot publik, pihak UI lalu menangguhkan kelulusan Bahlil, menjatuhkan sanksi kepada tim promotor, dan mewajibkan perbaikan disertasi.
Selain itu disertasi Bahlil mengenai hilirisasi nikel ikut disorot diduga terjadi 'plagiat'.
Polemik gas LPG bersubsidi 3 kg yang melibatkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terjadi pada awal 2025.
Saat itu pemerintah melarang penjualan gas melon tersebut di tingkat pengecer mulai 1 Februari 2025.
Kebijakan ini memicu protes dan kelangkaan elpiji di pasar.
Pada 4 Februari 2025, Presiden Prabowo Subianto turun tangan dan menganulir kebijakan tersebut.
Presiden menginstruksikan Kementerian ESDM untuk mengembalikan sistem penjualan seperti semula agar rakyat tidak kesulitan.
Pada 2024 lalu, publik dihebohkan dengan beredarnya foto diduga mirip Bahlil Lahadalia ditemani sebuah botol minuman keras berjenis whiskey.
Koordinator Kader Muda Partai Golkar, Lisman Hasibuan, langsung bertindak dengan melaporkan penyebar foto tersebut ke Bareskrim Polri.
Adapun laporan yang dilayangkan Lisman terkait dugaan tindak pidana dengan tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.
Laporan yang menggugat pelaku penyebar foto tersebut telah diterima oleh bagian SPKT Polri tertanggal 26 Agustus.
Selasa (27/8/2024), Lisman saat ditemui di Gedung Bareskrim Polri mengungkap, foto diduga Bahlil dengan ditemani botol miras, sengaja disebarkan untuk membuat stigma tidak baik terhadap ketua umum Golkar.
Selain melaporkan penyebar foto, Lisman juga menyerahkan beberapa tautan media sosial yang turut menyebarkan foto itu.
Akhir tahun 2025, publik dikejutkan dengan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU swasta.
Krisis ini dipicu oleh kebijakan Bahlil selaku Menteri ESDM yang mengubah skema izin impor BBM nonsubsidi dan membatasi kenaikannya maksimal 10 persen.
Akibat kelangkaan yang masif, seorang konsumen bahkan melayangkan gugatan perdata secara resmi terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke pengadilan.
Bahlil menegaskan bahwa negara tidak boleh didikte oleh pengusaha.
Dia sempat menyindir sejumlah SPBU swasta yang justru beralih fungsi menjadi tempat komersial seperti kafe atau tempat pijat saat stok BBM kosong.
Pidato Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam Munas ke-11 Golkar pada Agustus 2024 menuai polemik.
Pasalnya dalam pidato itu, Bahlil menggunakan istilah "Raja Jawa".
Ia memperingatkan kader Golkar untuk tidak bermain-main dengan sosok 'Raja Jawa' tersebut karena bisa mendatangkan celaka.
Publik kemudian berspekulasi bahwa stilah itu merujuk pada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Salah satunya datang dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang mengaku tertawa dan penasaran ingin berkenalan dengan sosok "Raja Jawa" yang dimaksud Bahlil.
Bahlil kemudian memberikan klarifikasi bahwa istilah "Raja Jawa" tersebut hanyalah sebatas candaan politik.