Belum Bisa Berkurban Idul Adha, Ustadz Ahmad Zainuddin Beberkan Amalan Pengganti
M.Risman Noor May 28, 2026 04:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATOLA - Hari Raya Iduladha akrab disebut Hari Raya Kurban, dinilai bukan sekadar rutinitas tahunan.

Hal ini diungkapkan Pimpinan Pesantren Intan Ilmu, pendakwah masyhur Kalimantan Selatan, KH. Ustadz Ahmad Zainuddin Al-Banjary, Lc., bahwa terdapat makna tauhid dalam ibadah kurban.

Diketahui Idul Adha 1447 Hijriah bertepatan 27 Mei 2026 dan kini masih diperbolehkan pemotongan kurban hingga 13 Zulhijah 1447 H.

Kurban disebut syi’ar tauhid, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ  

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)  

Ustadz Ahmad Zainuddin kemudian menjelaskan tafsir Ibnu Katsir tentang ayat di atas, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyelisihi kebiasaan dan ibadah kaum musyrikin.  

Baca juga: Pasca Puncak Armuzna, Jemaah Haji Embarkasi Banjarmasin Bersiap Kembali ke Mekkah

Baca juga: 650 Relawan Ikut Penyembelihan Hewan Kurban di Masjid Al Jihad, Pelajar Muhammadiyah Dilibatkan

“Kaum musyrikin, mereka senantiasa beribadah kepada selain Allah dan mensyirikan Allah dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyembelih dengan nama selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,” jelas beliau.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ  

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)  

Dari penjelasan tersebut, mempertegas keutamaan berkurban yang utama adalah syi’ar tauhid.  

Selain makna tauhid di balik ibadah kurban, keutamaan kedua adalah mencontoh millah (ajaran) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Nabi Ibrahim dikenal sebagai yang pertama mencontohkan penyembelihan kurban. Ustadz Ahmad Zainuddin menegaskan dengan ayat.

فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ  

“Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Ali Imran: 95)  

Keutamaan ketiga adalah mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikuatkan dengan hadits.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي الْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي  

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, beliau selalu berkurban.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)  

Dengan demikian, ibadah kurban mengandung tiga pelajaran utama, yaitu syi’ar tauhid, mencontoh ajaran Nabi Ibrahim, dan mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  

Selanjutnya, Ustadz Ahmad Zainuddin mengingatkan agar kaum Muslimin senantiasa mengisi hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Zulhijjah) dengan memperbanyak takbir.

Sang Kiai kemudian mengutip riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,


مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ  


“Tidak ada satu hari pun yang lebih agung dan lebih dicintai Allah beramal pada hari tersebut daripada sepuluh hari ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut.” (HR. Imam Ahmad)  

“Takbir adalah ibadah yang agung. Dengan takbir seseorang mengagungkan Allah, dan dengan mengagungkan Allah maka akan hilang keresahan. Bagi generasi Gen Z yang memiliki banyak keresahan, solusi terbaik adalah mengagungkan Allah,” jelas Ustadz Ahmad Zainuddin.

Adapun bagi kaum Muslimin yang belum berkesempatan melaksanakan kurban tahun ini, ada beberapa amalan yang bisa dilakukan.

Pertama, berniat berkurban. Dengan niat, seseorang akan berusaha mencapai tekadnya, meski akhirnya tidak mampu melaksanakannya. Hal ini disebut oleah Ustadz Ahmad Zainuddin, tetap berpahala di sisi Allah. 

 “Apabila seorang berniat ‘apabila saya punya uang saya ingin berkurban’ maka ia akan dapat pahalanya,” kata Ustadz Ahmad Zainuddin, sambil menegaskan dengan mengutip hadits  

   فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً  

“Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskannya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)  

Yang kedua, Memperbanyak takbir. Sebagaimana penjelasan Ustadz Ahmad Zainuddin sebelumnya, takbir adalah ibadah yang agung.  

Yang terakhir adalah bertakwa semaksimal mungkin, sesuai kemampuan. Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc. kemudian membacakan firman Allah ta'ala.  

   فَاتَّقُوا اللَّـهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  

“Bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16). (Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.