Pedagang di Kota Malang Sebut Kenaikan Harga Telur Dipicu Biaya Pakan
Eko Darmoko May 28, 2026 06:35 PM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Kenaikan harga telur ayam ras terjadi di sejumlah pasar di Kota Malang dalam dua pekan terakhir.

Meski begitu, harga telur mulai mengalami penurunan pada hari ini setelah pasokan dari distributor kembali datang.

Salah seorang pedagang telur, Elok, mengatakan harga telur sebelumnya sempat naik dari kisaran Rp 25 ribu menjadi Rp 26 ribu per kilogram.

Namun, harga kini mulai turun kembali menjadi Rp 25 ribu per kilogram.

“Hari ini turun lagi jadi Rp 25 ribu. Semalam barangnya baru datang,” kata Elok saat ditemui SURYAMALANG.COM di tokonya, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, kenaikan harga telur dipicu oleh naiknya harga dari distributor. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan kenaikan harga pakan ternak ayam petelur.

“Sepertinya naik karena harga pakan juga naik,” ujarnya.

Elok menjelaskan, fluktuasi harga telur memang kerap terjadi dan sudah menjadi hal biasa dalam perdagangan bahan pokok.

Meski sempat mengalami kenaikan, ia menilai kondisi saat ini masih dalam batas wajar.

“Kalau telur memang naik turun,” katanya.

Baca juga: Harga Telur Konsisten Naik, Kondisi di Kota Malang Masih Landai, Belum Ada Gejolak

Ia memastikan stok telur di tingkat pedagang masih aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat sekitar.

Konsumen yang membeli di lapaknya mayoritas merupakan warga di lingkungan sekitar pasar.

Meski harga sempat berubah dalam waktu cepat, Elok mengaku sejauh ini belum ada keluhan serius dari pembeli.

Menurutnya, warga hanya menanyakan penyebab perubahan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

“Kalau komplain enggak ada, paling cuma tanya karena harganya cepat berubah,” tuturnya.

Ia berharap harga telur bisa kembali stabil dalam beberapa waktu ke depan agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan pedagang tidak kesulitan menyesuaikan harga jual di lapangan.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga bernama Karina mengaku ikut merasakan dampak kenaikan harga telur dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut dia, telur menjadi salah satu bahan pangan yang hampir setiap hari dibeli untuk kebutuhan keluarga.

Karina mengatakan kenaikan harga telur membuat dirinya harus lebih mengatur pengeluaran rumah tangga.

Sebab, selain telur, sejumlah kebutuhan dapur lainnya juga mengalami kenaikan harga dalam waktu bersamaan.

Baca juga: Peternak Animal Welfare di Dau Kabupaten Malang Tidak Terpengaruh Harga Telur Pasar

“Kalau biasanya beli agak banyak, sekarang dikurangi dulu. Soalnya kebutuhan lain juga naik,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai kenaikan harga telur saat ini masih cukup wajar dan belum terlalu memberatkan. Karina berharap harga kebutuhan pokok dapat kembali stabil agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Slamet Husnan mengatakan permintaan masyarakat saat ini masih tergolong landai.

Ia menduga, naiknya harga pakan ayam menjadi salah satu penyebab harga telur di pasaran ikut merangkak naik.

Slamet mengatakan pasokan telur ayam untuk kebutuhan masyarakat Kota Malang sebagian besar berasal dari Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar.

Selain mendapat suplai dari luar daerah, Kota Malang sendiri juga masih memiliki populasi ayam petelur yang cukup besar.

Menurutnya, permintaan telur ayam di Kota Malang saat ini sebenarnya masih relatif stabil dan belum mengalami lonjakan signifikan.

“Di Kota Malang ada 200.900 ekor ayam petelur,” kata Slamet Husnan, Kamis (28/5/2026).

Biasanya, kenaikan permintaan telur terjadi saat momentum Ramadan, Idulfitri, maupun Iduladha.

Namun berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, lonjakan permintaan paling tinggi biasanya terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Masih landai permintaannya. Biasanya kenaikan saat Ramadan dan menjelang Iduladha maupun Idulfitri, tetapi yang paling tinggi menjelang Idulfitri,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya masih terus memantau perkembangan harga dan distribusi telur ayam di lapangan, termasuk berkoordinasi dengan kelompok peternak di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.

Slamet menjelaskan pemerintah daerah rutin berkomunikasi dengan paguyuban peternak maupun pedagang telur untuk memantau kondisi pasokan dan harga pasar.

“Biasanya kami mengontak peternak dari Blitar dan Kabupaten Malang karena ada paguyubannya,” katanya.

Namun ia mengakui distribusi telur di tingkat pedagang juga sangat dipengaruhi perkembangan harga di berbagai daerah.

Menurutnya, ketika harga telur di suatu wilayah lebih tinggi, pedagang cenderung mengalihkan distribusi ke daerah yang menawarkan harga lebih menguntungkan.

“Kalau ada daerah yang harganya lebih mahal, biasanya dibawa ke sana. Tapi itu hak pedagang,” ujarnya.

Meski demikian, Pemerintah Kota Malang tetap berupaya menjaga agar suplai telur untuk masyarakat tetap tersedia.

Salah satu langkah yang selama ini dilakukan pemerintah ialah melalui program Gerakan Pangan Murah sebagai instrumen pengendalian harga bahan pangan, termasuk telur ayam.

Baca juga: Puncak Musim Kemarau, 13 Desa di 6 Kecamatan Kabupaten Malang Berpotensi Dilanda Kekeringan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.