Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Sirius (52) terpaksa menghela napas panjang. Sopir truk asal Lampung Tengah, dari ekspedisi Sekar (SKS) ini harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk biaya menginap semalam di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok atau PTP Nonpetikemas cabang Panjang, Bandar Lampung.
Kapal pengangkut sapi yang mestinya bersandar hari Senin, 27 April 2026, mengalami keterlambatan.
Bagi Sirius, menunggu adalah bagian dari pekerjaan. Dalam sepekan, ia biasa mondar-mandir mengangkut sekitar 24 ekor sapi impor untuk dibawa ke peternakan di Lampung Tengah.
"Biasanya seminggu dua kali. Tapi enggak pasti juga, kadang sebulan enggak ada tarikan. Sapi ini kan tergantung permintaan peternak," kata Sirius saat berbincang di area parker pelabuhan, Selasa (28/4/2026) sore.
Sirius tidak sendirian. Ia adalah satu dari belasan sopir truk yang menggantungkan dapurnya dari rantai logistik di pelabuhan ini. Menariknya, sebelum kapal sapi yang dinanti Sirius itu tiba, Dermaga D Pelabuhan Panjang justru baru saja melepas sebuah kapal besar. Bukan membawa barang mewah, melainkan membawa komoditas lokal yang sering kali luput dari perhatian orang awam, bungkil sawit.
Baca juga: Peran Vital Pelabuhan Panjang, Jaga Pasokan dan Stabilitas Harga Pupuk
Siapa sangka, sisa padatan dari proses pemerasan minyak kelapa sawit ini menjadi primadona ekspor Lampung. Di terminal curah kering PTP Nonpetikemas Panjang, bungkil adalah "raja" yang perputarannya sangat stabil.
"Sebelum kapal sapi ini datang, di Dermaga D ada kapal ekspor bungkil. Volumenya sekitar 42.000 ton," ujar Wahyu, bagian pengendalian kinerja PTP Nonpetikemas Panjang, Bandar Lampung, Selasa (28/4/2026).
Menurut Wahyu, dalam kondisi normal, ada lima perusahaan besar (shipper) yang rutin mengirim bungkil lewat sini. Potensinya tidak main-main, dalam setahun totalnya bisa menembus angka 1 juta ton lebih. Bahkan, satu shipper saja bisa menyumbang 400 hingga 600 ribu ton per tahun.
"Ekspornya ke negara-negara yang punya industri penggemukan sapi berskala besar. Ke Australia, Selandia Baru, bahkan kalau melihat dokumen pengirimannya (shipping instruction), ada yang dikirim sampai ke Amsterdam, Eropa," lanjut Wahyu.
Namun, ada ironis yang unik, di mana Lampung mengimpor sapi hidup dari luar negeri lewat pelabuhan ini, namun di saat yang sama, pelabuhan ini pula yang mengirimkan pakan berkualitas tinggi untuk menggemukkan sapi-sapi di belahan dunia lain.
Selain bungkil, batu bara juga menjadi komoditas curah kering andalan. Walau asalnya bukan asli dari bumi Lampung, seluruh pencatatan ekspornya murni bergerak melalui kanal Pelabuhan Panjang. Sementara komoditas terkenal lain seperti kopi, lada, dan cokelat, jalurnya berbeda karena dikemas dalam kontainer melalui perusahaan mitra, IPC TPK.
Bergerak sedikit ke Dermaga F, ritme kerja pelabuhan terasa berbeda. Di sini adalah wilayahnya curah cair. Komoditas strategis seperti Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya—mulai dari RBD Palm Olein, oleochemical, stearin, hingga biodiesel—mengalir tanpa henti ke lambung kapal tangki.
Jika di sektor curah kering banyak raksasa swasta yang memiliki Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS), PTP Nonpetikemas Panjang menjadi tumpuan utama bagi operasional logistik LDC Group untuk mengirim produknya ke seluruh dunia, mulai dari China, India, Mediterania, hingga Afrika.
Proses pemuatannya pun terbilang canggih namun efisien. "Di Dermaga F kita pakai sistem pipa terintegrasi. Jadi dari tangki timbun milik perusahaan, minyak langsung dipompa lewat pipa ke dermaga, langsung masuk ke manifold kapal. Jauh lebih cepat dan minim menyusut (losses) dibanding kalau harus diangkut pakai truk tangki satu-satu," jelas petugas pelabuhan tersebut.
Mengelola pelabuhan curah bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar para pekerja di lapangan bukanlah mesin yang rusak, melainkan langit yang tiba-tiba mendung. Bagi komoditas curah kering seperti bungkil dan batu bara, hujan adalah musuh nomor satu.
"Begitu hujan turun, bongkar muat harus stop total. Palka kapal langsung ditutup," ucap Wahyu.
Alasannya sederhana namun krusial, demi menjaga kualitas. Jika bungkil sempat basah terkena air hujan, muatan bisa berjamur dan rusak. Batu bara pun sama, kalau kadar airnya (moisture) melonjak akibat air hujan, pembeli di luar negeri dipastikan akan melayangkan komplain keras.
"Imbasnya memang ke waktu sandar kapal (dwelling time) yang jadi agak molor. Tapi mitigasinya, begitu cuaca cerah lagi, kru di lapangan langsung tancap gas mempercepat ritme kerja. Makanya koordinasi dengan BMKG itu harus standby terus," tambahnya.
Apa yang terjadi di Pelabuhan Panjang ini adalah cerminan kecil dari performa PTP Nonpetikemas secara nasional. Berdasarkan data korporasi pada Triwulan I 2026, total throughput nonpetikemas di seluruh wilayah kerja mereka mencapai 12,04 juta ton.
Angka raksasa ini didominasi oleh curah kering sebesar 46 persen (5,76 juta ton) dan curah cair yang tumbuh manis sebesar 16 % menjadi 3,09 juta ton. Cabang Panjang sendiri, bersama Tanjung Priok dan Pontianak, menjadi tulang punggung utama yang menjaga urat nadi logistik ini tetap berdenyut.
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, sempat menyebutkan bahwa capaian di awal tahun 2026 ini membuktikan ketahanan operasional perusahaan di tengah dinamisnya arus logistik. Fokus mereka adalah memastikan bahan baku industri dan energi domestik maupun ekspor tidak terhambat.
Di sisi lain, pihak manajemen juga menekankan bahwa pelabuhan tidak melulu soal angka dan bisnis. Senior Manager Sekretaris Perusahaan, Fiona Sari Utami, menambahkan bahwa pada momen mudik baru-baru ini, perusahaan juga ikut ambil bagian memberangkatkan ratusan pemudik lewat program Mudik Bersama BUMN sebagai wujud tanggung jawab sosial kepada masyarakat.
Kembali ke dermaga, matahari mulai turun di ufuk barat Pelabuhan Panjang. Bagi orang luar, tempat ini mungkin hanya tumpukan batu bara, kepulan debu bungkil, atau bau khas minyak sawit. Namun bagi orang-orang seperti Sirius, para operator crane, hingga peternak sapi di Lampung Tengah dan Amsterdam, pelabuhan nonpetikemas ini adalah jantung yang memastikan hidup mereka terus bergerak maju.
( Tribunlampung.co.id / Noval Andriansyah )