Hasil Studi IISS: Ketegangan Taiwan Berisiko Seret AS dan China ke Konflik Nuklir
Hasiolan Eko P Gultom May 28, 2026 07:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan China terkait Taiwan berpotensi berkembang menjadi konflik berskala lebih besar hingga memicu eskalasi nuklir.

Peringatan itu disampaikan dalam laporan terbaru International Institute for Strategic Studies (IISS), lembaga kajian keamanan berbasis di London, Inggris.

Baca juga: Perang Iran Gerus Stok Rudal Amerika, Jepang Kena Dampak untuk Hadapi Kekuatan China

Laporan setebal 156 halaman tersebut dirilis menjelang forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura dan menyoroti meningkatnya rivalitas militer di kawasan Asia Pasifik.

Menurut IISS, dunia saat ini sedang bergerak menuju fase baru perlombaan senjata nuklir dengan Asia Pasifik sebagai pusat utama persaingan strategis.

Dalam kajian tersebut, Taiwan disebut sebagai salah satu titik paling sensitif dalam hubungan antara Washington dan Beijing. IISS menilai potensi konflik di kawasan itu dapat meluas ke berbagai domain militer, termasuk serangan terhadap sistem komunikasi, komando, intelijen, dan pengawasan strategis.

SELAT TAIWAN - Peta Asia Timur, yang menunjukkan Selat Taiwan.
SELAT TAIWAN - Peta Asia Timur, yang menunjukkan Selat Taiwan. (Encyclopedia Britannica, Inc.)

Membaca Langkah China dan AS dalam Skenario Konflik

Studi itu menggambarkan bahwa dalam skenario konflik, China kemungkinan akan berupaya menjauhkan kekuatan militer AS dan sekutunya dari kawasan sekitar Taiwan.

Di sisi lain, Amerika Serikat diperkirakan fokus memperkuat pertahanan dan ketahanan Taiwan menghadapi tekanan militer Beijing.

IISS juga menyoroti minimnya “guard rails” atau mekanisme pengaman antara kedua negara untuk mencegah eskalasi tidak terkendali.

Peneliti lembaga tersebut menyebut belum ada bukti kuat bahwa Washington dan Beijing memiliki kesepakatan jelas mengenai aturan keterlibatan militer maupun prosedur pengurangan risiko konflik.

“Potensi eskalasi nuklir akan terus membayangi setiap konflik besar antara AS dan China yang melibatkan Taiwan,” tulis laporan tersebut seperti dikutip Reuters.

China selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.

Meski demikian, Beijing menyatakan tetap mengedepankan opsi “reunifikasi damai”.

Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan pulau itu memiliki pemerintahan sendiri.

Di tengah meningkatnya ketegangan, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning meminta Amerika Serikat menangani isu Taiwan dengan “sangat hati-hati”.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin mengkritik laporan IISS dan menyebut analisis tersebut tidak sesuai dengan realitas situasi di lapangan.

Isu Taiwan diperkirakan menjadi salah satu topik utama dalam Shangri-La Dialogue yang berlangsung pada 29–31 Mei 2026.

Forum tersebut dihadiri para menteri pertahanan, pejabat militer, dan pakar keamanan dari berbagai negara.

Selain menyoroti Taiwan, laporan IISS juga mengangkat kekhawatiran atas perkembangan cepat kemampuan nuklir China.

Penilaian Pentagon yang dirilis pada Desember lalu memperkirakan Beijing dapat memiliki sekitar 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.

Berdasarkan data Federation of American Scientists, Rusia saat ini memiliki sekitar 4.400 hulu ledak nuklir aktif, sedangkan Amerika Serikat sekitar 3.700.

China diperkirakan memiliki sekitar 620 hulu ledak, meski jumlah pastinya sulit diverifikasi karena program nuklir Beijing sangat tertutup.

Peneliti senior IISS Daniel Salisbury mengatakan situasi saat ini berbeda dengan era Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet yang memiliki jalur komunikasi pengurangan risiko nuklir relatif lebih mapan.

Menurutnya, absennya dialog pengelolaan krisis yang berkelanjutan antara Washington dan Beijing membuat potensi salah perhitungan menjadi jauh lebih berbahaya.

 

(oln/rtrs/wn/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.