Perjalanan Panjang Jamaah Haji Menuju Tiga Titik Jumrah
M Iqbal May 28, 2026 09:29 PM

Laporan Jamaah Haji Riau, Ibnu Mas'ud dari Arab Saudi 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Hari-hari di Mina masih dipenuhi aktivitas melontar jumrah oleh jutaan jamaah haji dari berbagai negara. Jika pada 10 Zulhijjah jamaah hanya melontar satu jumrah yakni Jumrah Aqabah dengan tujuh batu kecil, maka mulai tanggal 11 hingga 13 Zulhijjah jamaah harus melontar tiga jumrah sekaligus, yakni Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah. Aktivitas ini berlangsung hampir tanpa henti selama 24 jam.

Sejak selesai subuh hingga larut malam arus jamaah terus bergerak menuju kawasan Jamarat. Ribuan bus silih berganti mengangkut jamaah dari tenda-tenda Mina, sementara sebagian lainnya memilih berjalan kaki. Jadwal keberangkatan jamaah diatur ketat oleh Kementerian Haji Arab Saudi bersama pengurus maktab untuk menghindari penumpukan massa di lokasi jumrah.


Walaupun sistem pengaturan sudah semakin modern, perjalanan menuju Jamarat tetap menjadi ujian fisik tersendiri bagi jamaah. Ada jamaah yang hanya berjalan beberapa puluh meter dari tenda menuju tower eskalator Jamarat, namun ada pula yang harus berjalan kaki hingga delapan kilometer pulang pergi. Perbedaan jarak penempatan tenda inilah yang membuat pengalaman setiap jamaah di Mina menjadi berbeda-beda.


Untuk jamaah haji reguler Indonesia, lokasi tenda memang tersebar di beberapa kawasan Mina. Sebagian mendapat lokasi yang cukup dekat, namun tidak sedikit pula yang harus menempuh perjalanan panjang menuju lokasi lontar jumrah. Kondisi ini membuat banyak jamaah mengatur strategi sendiri agar tidak terlalu kelelahan.


Di sekitar jalur pejalan kaki menuju Jamarat terlihat beberapa rombongan kecil jamaah asal Riau dari Rokan Hulu, Dumai dan Rokan Hilir duduk-duduk di pinggir jalan setelah selesai melontar Jumrah Aqabah. Ada yang sekadar bersandar di pagar pembatas, ada yang menggelar sajadah, bahkan ada yang tertidur karena kelelahan.


Ketika ditanya kenapa tidak langsung kembali ke tenda, hampir semua memberikan jawaban yang sama. Mereka memilih menunggu lewat tengah malam agar bisa langsung melontar jumrah untuk tanggal berikutnya. Jika kembali ke tenda lalu harus berjalan lagi menuju Jamarat, tenaga yang dikeluarkan dinilai jauh lebih berat dan melelahkan.


Suasana seperti ini menjadi pemandangan biasa di Mina selama hari-hari tasyrik. Ribuan jamaah tampak beristirahat di pinggir jalan, di bawah jembatan hingga di pelataran sekitar Jamarat sambil menunggu waktu melontar berikutnya. Walaupun tampak lelah, wajah-wajah jamaah tetap terlihat tenang dan penuh semangat menyelesaikan rangkaian ibadah haji.


Penempatan tenda yang berbeda-beda akhirnya menjadi pengalaman tersendiri bagi jamaah. Ada yang merasa sangat dekat dengan lokasi jumrah sehingga lebih nyaman menjalankan ibadah, namun ada pula yang harus menghemat tenaga dan pandai mengatur waktu karena jarak yang cukup jauh. Cerita tentang jauhnya perjalanan menuju Jamarat biasanya menjadi salah satu pengalaman yang paling sering dikenang dan diceritakan jamaah sepulang dari Tanah Suci.


Di kalangan jamaah haji khusus, cerita yang muncul sedikit berbeda. Lokasi tenda yang dekat dengan Jamarat menjadi salah satu nilai pelayanan yang sangat diperhitungkan oleh penyelenggara travel haji khusus. Semakin dekat posisi tenda, semakin ringan pula tenaga yang harus dikeluarkan jamaah saat melontar jumrah.


Namun mendapatkan lokasi strategis di Mina bukan perkara mudah. Selain proses administrasi yang cukup panjang, biaya yang dibayarkan juga menjadi salah satu penentu lokasi maktab yang diperoleh. Karena itu jarak tenda sering menjadi ukuran kualitas pelayanan sebuah travel haji khusus.


Seperti jamaah haji khusus Muhibbah Travel Pekanbaru musim haji tahun ini yang menempati maktab 111 dengan jarak sekitar 25 meter menuju tower eskalator Jamarat. Dengan lokasi tersebut jamaah hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk pergi dan pulang melontar jumrah dengan jarak tempuh kurang dari dua kilometer.


Walaupun memiliki pengalaman yang berbeda-beda, seluruh jamaah tetap menjalani ibadah dengan penuh kesabaran. Sebab bagi jamaah haji, setiap langkah menuju Jamarat, setiap rasa lelah dan setiap perjalanan panjang di Mina diyakini sebagai bagian dari perjuangan menyempurnakan ibadah haji di Tanah Suci. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.