Melayu Crackers: Berawal dari Eksperimen Dapur Sederhana
M Iqbal May 28, 2026 09:29 PM

Keripik kentang, keripik singkong tentu sudah biasa. keripik tempe dan keripik jagung pun gampang terbayang rasanya. Tapi bagaimana dengan keripik kulit ikan patin? Sudah banyakkah orang yang pernah mencicipinya?

GURIH, garing, nggak amis. Itulah kesan pertama saat Tribun mencicip keripik dari kulit ikan patin, Jumat (24/4) lalu di Gerai Sangsa, Jalan Datuk Setia Maharaja, Pekanbaru. Ketika ditawari mencicipi camilan dengan merek dagang Melayu Crackers ini, sempat muncul tanya dalam hati; “Dari kulit ikan, apa nggak amis?”

Nyatanya, pada gigitan pertama, “kress!”. keripik yang bentuknya pipih itu langsung hancur di mulut. Tak ada sedikitpun bau amis tercium. Bumbu “balado” yang ditaburi pada keripik terasa padu dengan gurihnya camilan itu. 

Bukan hanya satu. Dua, tiga, empat hingga puluhan keping keripik akhirnya masuk ke mulut. Isi dalam satu kemasan ukuran 100 gram nyaris ludes. Rasanya memang enak. Tak heran, sejak 2018 hingga kini, keripik kulit ikan patin, Melayu Crackers tetap eksis dan menjadi salah satu oleh-oleh khas Pekanbaru.

Ya, ide keripik kulit ikan patin Melayu Crackers pertama kali muncul di benak Yulia Delsi pada 2018. Yulia melihat peluang banyaknya kulit ikan patin yang terbuang pada industri fillet -pengolahan daging ikan tanpa tulang- di Kabupaten Kampar. 

Waktu itu, tutur Yulia, kulit ikan patin tak ada nilai ekonomisnya. Padahal, bahan bakunya sangat mudah diperoleh. Riau, katanya, menghasilkan 2.700 ton ikan patin per bulan. Dimana Kabupaten Kampar jadi daerah penghasil terbanyak.

Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Kampar, September 2025, kemampuan panen harian di Desa Koto Mesjid yang dikenal dengan sebutan Kampung Patin mencapai 12-15 ton. Total hasil panen 300 ton per bulan dengan produksi yang stabil. 

Biasanya ikan patin itu menjadi konsumsi rumah tangga yang beredar di pasar tradisional. Sebagian lagi diolah menjadi ikan salai (ikan asap) atau bahan baku industri fillet. 

“Di industri fillet, namanya berubah menjadi ikan dori. Padahal, itu sebenarnya ikan patin," tambahnya. Oleh pihak pabrik, kulit ikan patin biasanya tak diambil dan tidak bernilai ekonomis. 

Di sinilah Yulia melihat peluang bagaimana kulit ikan patin tidak terbuang tapi berubah menjadi produk yang praktis, modern dan dapat dibawa jauh sampai ke luar negeri.

Ia kemudian terdorong mencoba mengolah bahan baku tersebut menjadi makanan. Dengan peralatan masak seadanya, Yulia mencari formula yang tepat agar kulit ikan patin dapat dikudap layaknya keripik.

“Awalnya dari try and error. Memang susah luar biasa membuat keripik kulit ikan patin ini," kata dia. Mengolah kulit ikan ia anggap sangat tricky atau sulit. Karena salah sedikit, hasilnya tak akan baik. "Bisa jadi keras, amis atau hambar," tambahnya.

Banyak cara dilakukan Yulia agar kulit ikan patin dapat dijadikan keripik sesuai yang diharapkan. Bahkan, ia mengaku sampai membuka jurnal penelitian yang mengkaji cara agar kulit ikan patin hasilnya garing.

Hampir setahun, Yulia akhirnya menemukan resep yang pas. Dia juga selalu melakukan penyesuaian setiap waktu supaya dapat meraih tekstur dan rasa yang lebih baik.

Banyak yang Menolak

Sebelum dipelopori oleh Melayu Crackers hadir 2018, masyarakat Riau sama sekali belum akrab dengan camilan yang diolah dari kulit ikan patin. Tak heran, awalnya tak mudah bagi Yulia memperkenalkan Melayu Cracker pada masyarakat Riau. 

Saat ditawari, banyak yang menolak. "Bayangannya itu mungkin sudah kemana-mana. Jangankan membeli, mencoba saja mereka enggan," ujar Yulia bercerita.

Namun, Yulia tak patah arang. Dia selalu aktif mengedukasi masyarakat bahwa kulit ikan patin bila diolah dengan baik dapat menjadi camilan yang enak. Lambat laun, sudah ada yang mau mencoba keripik ini. 

"Setelah dirasakan dengan lidah sendiri, yang mereka dapatkan tidak seperti yang dibayangkan. Dari yang awalnya enggan, pas mencoba dan merasakan enak, akhirnya mereka mau membeli," ujarnya.

Keripik kulit ikan patin yang diolah Melayu Crackers pun semakin diminati. Usaha itu terus berkembang dan dianggap punya peluang besar. Untuk memenuhi bahan baku, Yulia mengaku menjalin kerja sama dengan pabrik fillet di Kampar dan Pekanbaru.  

Sejauh ini, tuturnya, rumah produksi Melayu Cracker bisa mengambil 140 ton per bulan. Meski terkadang realisasinya bisa kurang dari jumlah tersebut. Tiap satu kilogram ikan patin, hanya sekitar 5 gram kulit yang dihasilkan. Artinya, dari satu ton ikan patin, kulit yang dihasilkan sekitar 50 kilogram.  

Saat ini, rumah produksi yang terletak di Jalan Serasi, Gang Serasi II No.16 Kecamatan Binawidya, Pekanbaru itu, kata Yulia, telah terstandarisasi. Izinnya pun lengkap, mulai dari sertifikat halal, sertifikat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP), Standar Nasional Indonesia (SNI), hingga Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). 

“Semua sertifikat ini mendukung Melayu Crackers dipasarkan tak hanya di Indonesia tapi hingga ke mancanegara,” ungkap Yulia bangga. Agar akrab dengan lidah masyarakat, Melayu Crackers hadir dengan tiga varian rasa, original, balado dan barbeque. 

Seiring berjalannya waktu, Yulia semakin yakin keripik kulit ikan patin punya keunggulan tersendiri. Salah satunya, dari segi Angka Kecukupan Gizi (AKG), terbukti keripik kulit ikan patin merupakan camilan tinggi protein dan rendah karbohidrat.

Dalam 20 gram takar, kandungan proteinnya 15 persen dan karbohidrat 0 persen. Sementara camilan lain yang banyak beredar di pasaran biasanya lebih tinggi kandungan karbohidrat dibanding proteinnya.

Melihat keunggulan ini, Yulia menyebut Melayu Crackers adalah makanan alternatif bagi orang yang memperhatikan kesehatan tubuh tapi suka ngemil. "Mereka dapat mengganti camilannya dengan yang tinggi protein," tuturnya.

Kini, Yulia aktif memperkenalkan Melayu Crackers sebagai oleh-oleh khas Pekanbaru. Produk ini bahkan sudah hadir di sejumlah gerai oleh-oleh besar di Pekanbaru dan banyak dicari masyarakat untuk dikonsumsi sendiri maupun jadi buah tangan.

Biasanya, kata Yulia, pembeli adalah mereka yang ingin mencari oleh-oleh unik, khas, praktis dan tidak merepotkan di perjalanan. Menariknya, Yulia mengklaim Melayu Crackers bisa menjadi camilan pembuka bicara. 

"Karena ketika ditawarkan kepada orang lain, mereka akan bertanya ini apa? Apalagi jarang orang makan keripik yang terbuat dari kulit ikan," ungkap Yulia sembari menyebut hal itu menjadi pembeda Melayu Crackers dari produk lainnya.

Program Klaster BRI

Melayu Crackers adalah satu dari beberapa pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang masuk dalam ekosistem Gerai Sangsa. Di gerai milik Yuli Meliani tersebut, Melayu Crackers dapat dibeli dan dinikmati bersama 400 jenis kuliner lainnya. 

Tak sekadar tempat jual makanan dan aneka kerajinan kriya, Gerai Sangsa juga menjadi tempat bertumbuh para pelaku usaha lokal. Apalagi, Gerai Sangsa menjadi satu dari sekian binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam program Klasterku Hidupku.

Yuli Meliani sebelumnya menyampaikan bahwa BRI sering memberi pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha yang tergabung di Gerai Sangsa. Di antaranya digitalisasi dan pemanfaatan akal imitasi atau artificial intelligence.

Para pelaku usaha di gerai tersebut juga dilatih mengemas produk dengan baik. Selain itu, diajak mengikuti sejumlah event lokal maupun nasional. Baik pameran-pameran maupun program UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

Ada juga pelatihan pemanfaatan lokapasar atau e-commerse guna memperluas jangkauan pasar. Di samping itu, pihak BRI kerap memesan berbagai produk yang dijual di Gerai Sangsa. Sehingga pelaku usaha yang tergabung di dalamnya sangat terbantu. 

Diterangkan Department Head Ultra Micro BRI Region 2 Pekanbaru, Widia Apriani, akhir April lalu, program Klasterku Hidupku merupakan cara BRI mendorong kemajuan pelaku UMKM. 

Klaster Usaha seperti Gerai Sangsa, dimana Melayu Crackers terlibat merupakan kelompok yang terbentuk berdasarkan kesamaan kepentingan, kondisi lingkungan dan/atau keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

Dia bilang, Klaster Usaha BRI memiliki tiga kriteria. Yaitu, jumlah pelaku usaha yang terkumpul minimal delapan orang, bisa sudah atau belum terbentuk asosiasinya. Bila belum, menjadi tugas Mantri BRI untuk membentuk asosiasi tersebut. 

Klaster Usaha yang dibentuk juga memiliki kesamaan wilayah antarpelaku usaha. Seperti, RT, RW, desa, dan pasar. Bisa juga kesamaan wilayah yang terikat pada perjanjian kerja sama dengan perusahaan inti atau plasma. Terakhir, memiliki usaha atau komoditas sejenis. 

Di etalase-etalase Gerai Sangsa, Melayu Crackers bersanding dengan keripik tempe, kerupuk singkong, kerupuk cabe, gula merah, madu, hingga Sambal Empat Sungai dan Ayam Ungkep Ibu Yuli yang jadi andalan.

(Tribunpekanbaru.com/Hendra Efivanias)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.