Siapa Bagas? Anak Pertama 1 Keluarga Meninggal Kaku Saat Camping di Temanggung, Fotografer Keraton
Putra Dewangga Candra Seta May 29, 2026 06:32 AM

 

SURYA.co.id – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Keraton Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah kabar meninggalnya Bagas Amar Hakiki dalam peristiwa glamping maut di Posong, Temanggung.

Sosok Bagas dikenal bukan hanya sebagai mahasiswa berprestasi, tetapi juga fotografer muda yang aktif mendokumentasikan berbagai kegiatan budaya di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Bagas tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2022.

Selain aktif di dunia akademik, ia juga terlibat dalam tim dokumentasi Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta sebagai fotografer lepas.

Awal Karier Bagas di Keraton Yogyakarta

MENINGGAL - Satu keluarga asal Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, di kawasan wisata Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada Rabu (27/5/2026). 
MENINGGAL - Satu keluarga asal Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, di kawasan wisata Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada Rabu (27/5/2026).  (Tribun Jateng/eka yulianti)

Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno, mengungkapkan bahwa Bagas awalnya bergabung melalui program magang pada 2024.

Menurutnya, kemampuan fotografi Bagas membuat pihak Kawedanan Tandha Yekti tertarik untuk melibatkannya lebih jauh dalam tim dokumentasi resmi.

"Mas Bagas salah satu fotografer kami di Kawedanan Tandha Yekti. Jadi Bagas ini sebenarnya awalnya salah satu peserta program magang di Kawedanan Tandha Yekti tahun 2024," katanya, Kamis (28/5/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribun Jateng.

"Lalu kemudian dari magang tersebut, kami melihat keahlian fotografinya yang mumpuni, sehingga kemudian setelah masa magangnya 1 tahun selesai, Bagas bersama 2 orang teman lainnya menjadi bagian dari tim dokumentasi KTY sebagai fotografer lepas," sambungnya.

Baca juga: Gelagat Alvino Sebelum Meninggal Bersama Keluarga Saat Camping di Temanggung, Ini Chat Terakhirnya

Dikenal Ramah dan Bisa Diandalkan

Di mata rekan kerja dan lingkungan Keraton, Bagas dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan serta mudah bergaul.

Meski berstatus fotografer lepas, ia disebut menjadi bagian penting dalam tim dokumentasi Kawedanan Tandha Yekti.

Kepergian Bagas meninggalkan kesedihan mendalam bagi rekan-rekannya.

"Bagas kami kenang sebagai pribadi yang senang membantu, bisa diandalkan, dan menyenangkan. Kami sangat kehilangan sekali, bukan hanya kehilangan salah satu fotografer terbaik kami, tapi juga kolega, rekan, adik, sahabat baik," imbuhnya.

Mahasiswa Berprestasi UGM

Selain aktif di bidang fotografi, Bagas juga dikenal sebagai mahasiswa berprestasi di Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Kabar duka atas meninggalnya Bagas turut disampaikan melalui akun Instagram resmi @prancis.ugm.

"Telah berpulang kepada Sang Pencipta Bagas Amar Hakiki pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Segenap Keluarga Besar Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada mengucapkan turut berduka cita atas bepulangnya almarhum kehadapan-Nya.

Atas kembalinya beliau, semoga almarhum dapat menerima rida di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta pihak keluarga dapat mengikhlaskannya," tulis dalam caption.

Bagas disebut tengah menyelesaikan skripsinya dan memiliki target untuk mengikuti wisuda pada Agustus 2026 mendatang.

Sempat Menargetkan Wisuda Agustus 2026

Kerabat korban, Asadi (51), menyebut Bagas memiliki semangat besar untuk segera menuntaskan studinya di UGM. Skripsinya dikabarkan hampir rampung sebelum musibah tersebut terjadi.

"Skripsinya hampir selesai dan Bagas juga menargetkan bisa ikut wisuda UGM, pada bulan Agustus nanti. Tapi, Allah berkehendak lain dalam musibah bersama keluarganya tersebut," ungkapnya.

Meninggal Sekeluarga

Satu keluarga yang terdiri, ayah, Muhamad Ali Munawar (52), ibu Maghfirah (43) dan dua anaknya, Bagas Amar Hakiki (21), dan Alvino Evan Hakim (16) ini diketahui sudah tiba di lokasi wisata pada Selasa (26/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.

Mereka bermaksud untuk bermalam dengan mendirikan tenda camping.

Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra mengungkapkan hal itu saat ditemui pada Kamis (28/5/2026). 

"Pada keesokan harinya, Rabu (27/5) sekitar pukul 11.45 WIB, petugas wisata sempat mengingatkan para korban untuk segera melakukan proses 'checkout' karena lokasi area perkemahan akan dibersihkan. Namun, saat itu tidak ada respons dari dalam tenda," kata Komang. 

Karena tidak mendapat jawaban, petugas kembali mendatangi tenda sekitar pukul 15.00 WIB dan mencoba membuka pintu tenda.

Saat itulah keempat korban ditemukan sudah meninggal dunia dengan kondisi tubuh mulai kaku.

Tim Identifikasi Polres Temanggung bersama Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Tengah langsung diterjunkan ke lokasi setelah menerima laporan.

Petugas kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan autopsi terhadap jasad korban.

Di sisi lain, polisi juga mengamankan sejumlah sampel makanan yang dibawa korban untuk diuji di laboratorium.

"Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum berani mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan, begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng," kata Komang.

Polisi menduga satu keluarga asal Kabupaten Semarang yang ditemukan meninggal dunia di dalam tenda camping kawasan wisata Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengalami keracunan.

Dugaan tersebut muncul setelah penyidik menemukan sejumlah sampel makanan milik korban di lokasi kejadian.

Iptu I Komang Mahendra Deputra mengatakan, salah satu makanan yang kini diperiksa di laboratorium ialah hidangan barbeque yang dibawa sendiri oleh para korban saat berkemah.

"Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum berani mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan, begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng," kata Komang dikutip dari Antara Jateng, Kamis (28/5/2026).

Meski demikian, kepolisian mengungkap adanya indikasi awal yang mengarah pada dugaan keracunan.

Selain mengamankan makanan milik korban, penyidik juga memeriksa sejumlah saksi untuk mendalami penyebab pasti kematian satu keluarga tersebut.

Komang menyebut hingga kini empat saksi telah dimintai keterangan oleh Satreskrim Polres Temanggung.

Pemeriksaan terhadap para saksi dilakukan sejak Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Polisi memastikan jenazah korban akan diserahkan kepada keluarga setelah seluruh proses identifikasi dan autopsi selesai dilakukan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.