TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moowend atau Mama Yasinta, mengaku sakit hati setelah mengetahui wajahnya muncul dalam film Pesta Babi.
Ia merasa dirugikan atas penayangan film dokumenter karya sutradara Dandhy Laksono itu.
"Sakit hati betul, sampai hari ini saya masih sakit hati, kecewa. Kenapa wajah saya bisa dibawa ke mana-mana lewat film itu?" kata Mama Yasinta di Polda Metro Jaya, Jumat (29/5/2026) malam.
Mama Yasinta tampak begitu emosional saat berbicara soal film Pesta Babi hingga menyatakan bahwa dirinya bukanlah Patung Asmat.
"Apa saya ini boneka? Apa saya patung Asmat yang sudah diukir? Orang Papua bilang itu patung Asmat, ukiran itu. Saya bukan ukiran Asmat," ungkap dia.
Wanita berusia 62 tahun itu mengungkapkan, aktivitasnya yang terekam di film Pesta Babi diambil tanpa seizin dirinya.
Mama Yasinta pun menyebut orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film Pesta Babi sebagai penjahat.
"Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka! Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati," ungkap dia.
Ia mengaku baru mengetahui wajahnya muncul di film Pesta Babi pada 8 April 2024.
Ketika itu, Mama Yasinta diajak oleh seseorang yang disebut bernama Tigor untuk menyaksikan film Pesta Babi di Aula Susteran Maranatha, Jayapura, pada 8 April 2026.
"Yang ajak saya ke Jayapura untuk ikut kegiatan itu, itu Bang Tigor. Jadi, setelah kita selesai kegiatan, dia ajak kita untuk nonton film Pesta Babi. Jadi, pada saat itu saya tahu saja mau potong babi betulan, ternyata kita naik di Aula Maranatha, ternyata film yang diputar itu judulnya film Pesta Babi. Ah, di situ ada wajah saya," ujar Mama Yasinta.
Ia juga meminta penayangan film Pesta Babi dihentikan. Begitu pun dengan acara nonton bareng (nobar) film tersebut.
"Dihentikan! Mulai dari hari ini dihentikan. Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu," kata Mama Yasinta.