Sambut Bulan Bung Karno, PDIP Wajibkan Lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' di Acara Resmi Partai
Erik S May 30, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan secara resmi memperkenalkan kembali lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ kepada ratusan legislator daerah dari seluruh Indonesia.

Lagu tersebut diputar dalam sesi pembukaan Pembekalan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Tingkat Provinsi, Kabupaten, dan Kota masa bakti 2024-2029 di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Langkah memperkenalkan kembali lagu perjuangan ini dilakukan sebagai bagian dari menyambut momentum historis Bulan Bung Karno yang jatuh pada bulan Juni.

Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, menjelaskan bahwa pemutaran lagu tersebut bukan sekadar seremonial belaka, melainkan upaya membangkitkan kembali akar ideologi perjuangan partai di dalam sanubari setiap kader.

"Lagu ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama para wakil rakyat yang baru dilantik, bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil atau kaum Marhaen," kata Djarot Saiful Hidayat.

Lebih lanjut, Djarot menegaskan bahwa DPP PDI Perjuangan kini mewajibkan lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’ untuk dinyanyikan oleh seluruh kader dalam setiap upacara resmi kepartaian.

"Dalam setiap acara dengan protokol kepartaian, lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' wajib kita nyanyikan," tegas mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Melalui penegasan ini, para legislator daerah yang baru terpilih diharapkan dapat membumikan ajaran Bung Karno dalam setiap proses penyusunan kebijakan publik di daerah masing-masing.

Sejalan dengan semangat yang terkandung dalam lirik lagu tersebut, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, secara konsisten menginstruksikan seluruh kader untuk selalu menyatu dengan rakyat.

Megawati kerap mengingatkan bahwa kekuatan utama seorang pemimpin yang diusung oleh PDI Perjuangan bukanlah sekadar pencitraan atau strategi elektoral semata, melainkan kedekatan yang tulus dan kerja nyata di tengah denyut nadi kehidupan masyarakat.

Baca juga: PDIP Setuju Prabowo: Bung Karno Bukan Milik Satu Partai

Kader partai di legislatif dituntut untuk menunjukkan kapasitas nyata dalam memecahkan berbagai persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi oleh rakyat kecil di daerah.

Selain bermakna ideologis, lagu ini membawa kembali memori kolektif sejarah lahirnya istilah "Marhaen" yang dicetuskan oleh Bung Karno di tanah Priangan, Jawa Barat, pada tahun 1920-an.

Kisah tersebut bermula saat Bung Karno bertemu dengan seorang petani penggarap mandiri bernama Marhaen di pinggiran Bandung.

Meskipun memiliki alat produksi sendiri berupa cangkul dan lahan, petani tersebut tetap hidup dalam jerat kemiskinan akibat sistem kolonial yang eksploitatif.

Baca juga: Legislator PDIP Kutip Filosofi Sapu Lidi Bung Karno, Tekankan Politik Gotong Royong

Bung Karno kemudian mengabadikan nama "Marhaen" sebagai simbol kaum rakyat kecil Indonesia yang tertindas oleh sistem ekonomi kapitalistik, namun memiliki kekuatan besar untuk bangkit berjuang.

Adapun jalannya upacara pembukaan pembekalan teknis ini dipimpin langsung oleh Djarot Saiful Hidayat dan dihadiri oleh lebih dari 600 peserta dari berbagai daerah.

Tampak hadir mendampingi di jajaran DPP PDI Perjuangan antara lain Andreas Hugo Pareira, Ribka Tjiptaning, Wiryanto Sukamdani, Darmadi Durianto, Yoseph Aryo Adhi Dharmo, Yuke Yurike, dan Sri Rahayu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.