TRIBUNPADANG.COM, SIJUNJUNG- Demam Piala Dunia 2026 kini telah merambah hingga ke pelosok daerah, tidak terkecuali di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Turnamen sepak bola terakbar ini sukses menyedot perhatian berbagai lapisan masyarakat.
Atmosfer kemeriahan ini turut mendapat perhatian khusus dari Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sijunjung, Fadhlur Rahman Ahsas.
Saat dihubungi TribunPadang.com pada Sabtu (30/5/2026), pria yang akrab disapa Guslur, dengan percaya diri menyebut tim nasional (timnas) Argentina sebagai jagoannya.
Baca juga: Legenda Semen Padang FC Suhatman Imam Jagokan Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Ini Alasannya
Namun, alasan menjagokan Argentina ini bukan karena ada Lionel Messi di dalam tim Tango tersebut.
Ada alasan filosofis yang mendalam di balik pilihannya tersebut.
Bagi Fadhlur, Timnas Argentina bukan sekadar tim bertabur bintang dengan tradisi sepak bola yang kuat.
Lebih dari itu, tim asal Amerika Latin tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa kesuksesan sejati tidak datang secara instan.
Ia melihat bahwa kejayaan skuad Argentina dibangun di atas fondasi kerja keras yang kokoh, disiplin yang tinggi, serta semangat kolektivitas.
Nilai-nilai perjuangan inilah yang coba ia adopsi untuk organisasi kepemudaan yang dipimpinnya.
Baca juga: Ketua DPRD Padang Muharlion Ditanya Soal Piala Dunia 2026: Lihat Dulu, Belum Tentukan Jagoan
Menurutnya, filosofi sepak bola Argentina sangat sejalan dengan visi kepemudaan yang saat ini tengah dibangun di tubuh GP Ansor Sijunjung.
Sebuah keberhasilan besar tidak akan pernah ditentukan oleh satu individu hebat saja, melainkan oleh kekompakan tim dan kesatuan tujuan.
Menurut Fadhlur Rahman Ahsas, Piala Dunia merupakan sebuah peristiwa luar biasa yang memiliki kekuatan magis untuk menyatukan ego sektoral di masyarakat.
Mulai dari anak-anak yang tergolong generasi alfa hingga para tetua di era generasi boomer, semuanya larut dalam euforia yang sama.
"Euforia ini bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan mempererat kebersamaan di tengah masyarakat," ujar Guslur.
Menariknya, demam lapangan hijau ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan semata bagi warga Sijunjung.
Momentum langka empat tahunan ini ternyata juga membawa berkah tersendiri bagi roda perekonomian lokal.
Fadhlur menggarisbawahi adanya lonjakan aktivitas ekonomi yang dimotori oleh para pelaku usaha muda.
Banyak dari mereka yang jeli memanfaatkan momen ini untuk meraup pundi-pundi rupiah dari sektor ekonomi kreatif.
Bisnis penjualan merchandise bertema sepak bola kini menjamur di Sijunjung.
Hal ini dinilai menjadi angin segar sekaligus lahan produktif bagi pemuda yang memiliki jiwa enterpreneurship untuk berkembang.
Berkaca dari antusiasme Piala Dunia, Fadhlur kemudian menyoroti realitas sepak bola lokal di Kabupaten Sijunjung.
Ia meyakini bahwa wilayah yang kaya akan adat dan budaya ini menyimpan potensi pesepak bola muda yang sangat melimpah.
Bakat-bakat alam tersebut tersebar luas di seluruh nagari yang ada di Sijunjung.
Banyak anak muda setempat yang memiliki talenta menjanjikan serta kecintaan yang begitu mendalam terhadap si kulit bundar.
Namun, Fadhlur juga memberikan catatan kritis mengenai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Agar bakat-bakat alami tersebut tidak layu sebelum berkembang, diperlukan sebuah sistem penataan yang serius dan terarah.
Ia menegaskan ada beberapa poin penting yang mendesak untuk dibenahi, di antaranya pembinaan usia dini yang berkelanjutan dan kompetisi yang rutin.
Selain itu, ketersediaan sarana olahraga yang memadai serta dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama.
Jika seluruh pemangku kepentingan bisa bersinergi melakukan pembenahan ini, Fadhlur mengaku sangat optimistis dengan masa depan olahraga daerah.
Sijunjung diyakini bakal mampu melahirkan atlet sepak bola andalan yang bersaing di level provinsi hingga nasional.
Lebih jauh, dari kacamata organisasi, Piala Dunia juga membawa pesan perdamaian yang sangat kuat bagi kehidupan berbangsa.
Perbedaan latar belakang seharusnya tidak menjadi sekat pembatas dalam kehidupan bermasyarakat.
Pentas dunia ini mengajarkan bahwa jutaan manusia dari latar belakang agama, budaya, bahasa, dan negara yang berbeda bisa duduk bersama.
Mereka dipersatukan oleh satu semangat yang sama, yaitu sportivitas tinggi.
GP Ansor Sijunjung memandang bahwa esensi terdalam dari turnamen ini adalah persaudaraan kemanusiaan, toleransi, dan persatuan.
Kompetisi yang sengit di atas lapangan harus tetap berjalan dengan menjunjung tinggi rasa hormat dan kedamaian.