Soal Teror Api Misteris di Rumah Agus Seyegan, Dosen UGM Ungkap Pemicunya
Joko Widiyarso May 30, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan observasi di rumah Agus Yani di Seyegan, Sleman.

Rumah tersebut yang mengalami peristiwa janggal lantaran muncul titik api misterius yang menyebabkan lebih dari 54 kebakaran selama hampir sepekan.

Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi mengatakan dugaan yang paling kuat penyebab kebakaran di rumah Agus Yani adalah gas metana.

Pihaknya juga mengukur suhu di rumah tersebut dengan kamera thermal. Hasilnya suhu tempat yang terbakar memiliki suhu relatif tinggi.

“Ya itu wajar karena ketika dia terbakar suhunya naik. Ke depan kami rencananya akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas metana yang ada di tempat ini,” katanya usai observasi, Sabtu (30/5/2026). 

TERBAKAR - Api yang muncul seketika membakar pakaian dan sofa rusak di rumah Agus Yani, Sabtu (30/5/2026) dini hari.
TERBAKAR - Api yang muncul seketika membakar pakaian dan sofa rusak di rumah Agus Yani, Sabtu (30/5/2026) dini hari. (Tribun Jogja/Hendy Kurniawan)

“Dan juga sampel air, karena beberapa waktu yang lalu, keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur-jalur pipa air, ada sumur keluar api. Maka kami juga mengukur sampel air, apakah terkontaminasi metana atau tidak,” sambungnya.

Sarju menerangkan benda-benda terbakar di dalam rumah karena akumulasi gas. Benda yang berpori seperti pakaian, sofa, akan menyimpan gas. Ketika kadarnya mencukupi dan terkena oksigen, maka benda tersebut akan terbakar dengan sendirinya. 

“Sifat gas itu kalau jumlahnya tertentu, dia kena oksigen, O2, CH 4, itu dia akan nyala. Mungkin perantaranya air, atau dia keluar lewat lantai yang bocor. Semua yang berpori, tanah kan juga berpori, itu juga bisa bisa (meresap). Seperti air itu kan waktu di bawah tidak terbakar, tetapi ketika sudah keluar (kran) terbakar, karena kena oksigen,” terangnya.

Guna mencegah kebakaran berulang, pihaknya menyarankan penghuni rumah untuk memperbaiki sirkulasi udara. Selain itu, penghuni rumah juga bisa memasang kipas angin atau blower udara bisa keluar dan menurunkan kadar gas metana di dalam rumah.

Ia menambahkan secara prinsip gas metana bersifat mengambang, naik ke udara. Jika terbawa angin, kadarnya biasanya sangat menurun, sehingga relatif aman.

“Makanya begitu sirkulasi dibuka, kemudian ada kipas angin, keluar (udara), bercampur dengan udara (luar), kadarnya sudah sangat berkurang. Sehingga mengurangi potensi terbakar,” imbuhnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.