Ritual Mendak Tirta Awali Yadnya Kasada 1948 Saka, Warga Tengger Ambil Air Suci di Madakaripura
Haorrahman May 30, 2026 10:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Probolinggo - Masyarakat Hindu Suku Tengger memulai rangkaian sakral Yadnya Kasada 1948 Saka dengan menggelar ritual Mendak Tirta di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (30/5/2026).

Ritual ini menjadi tahap awal dalam rangkaian perayaan Yadnya Kasada, tradisi tahunan masyarakat Tengger yang digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus penghormatan terhadap ajaran leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Puluhan warga Tengger berjalan menuju sumber mata air di kawasan Madakaripura untuk mengambil tirta atau air suci. Air tersebut nantinya digunakan dalam prosesi penyucian perlengkapan ibadah sebelum puncak pelaksanaan Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten, Lautan Pasir Gunung Bromo.

Baca juga: Polres Probolinggo Gelar Aksi Bersih-Bersih di Bromo Usai Yadnya Kasada

Prosesi berlangsung khidmat dengan diawali doa bersama dan persembahan sesaji hasil bumi. Ritual dipimpin pemangku Desa Ngadas, Slamet, yang membacakan mantra-mantra suci sebelum pengambilan air dilakukan oleh para pandita dan tokoh adat Tengger.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menjelaskan bahwa Mendak Tirta merupakan salah satu tahapan penting dalam Yadnya Kasada karena melambangkan penyucian diri, alam semesta, serta sarana peribadatan.

Baca juga: Resepsi Yadnya Kasada di Tosari Pasuruan, Tradisi Suku Tengger yang Perkuat Pariwisata Budaya Bromo

"Air suci yang diambil dari empat sumber mata air sakral akan dikumpulkan menjadi satu dan digunakan untuk menyucikan perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten sebelum puncak pelaksanaan Yadnya Kasada," kata Bambang.

Menurut Bambang, selain Madakaripura terdapat tiga sumber mata air suci lain yang menjadi lokasi pengambilan tirta, yakni Sumber Watu Klosot dan Ranu Pane di Kabupaten Lumajang, serta mata air Widodaren di kawasan Gunung Bromo.

Pengambilan air suci dilakukan secara serentak oleh masyarakat Tengger di tiga wilayah berbeda.

"Pengambilan tirta dilakukan serentak oleh masyarakat Tengger dari tiga wilayah. Warga Probolinggo menuju Madakaripura, warga Pasuruan mengambil tirta di Widodaren dan warga Lumajang di kawasan Ranu Pane," terangnya.

Madakaripura tidak hanya dipilih karena keberadaan sumber mata airnya, tetapi juga karena memiliki nilai sejarah yang kuat dalam kepercayaan masyarakat Tengger.

Bambang menjelaskan, kawasan tersebut diyakini sebagai tempat moksa Patih Gajah Mada setelah menerima tanah perdikan dari Raja Hayam Wuruk sebagaimana disebutkan dalam Kitab Negarakertagama.

"Kepercayaan ini menjadikan sumber mata air Madakaripura dianggap memiliki kesucian dan keberkahan yang diwariskan oleh para leluhur," ujarnya.

Kepercayaan tersebut menjadikan Madakaripura sebagai salah satu lokasi penting dalam tradisi spiritual masyarakat Tengger yang terus dijaga hingga kini.

Baca juga: Garang saat Pamer Celurit di Konvoi, Ketua Geng Motor Brutaliti Banyuwangi Menangis di Kantor Polisi

Camat Sukapura, Nur Rachmat Sholeh, mengatakan pemerintah akan terus mendukung pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Tengger yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

"Mendak Tirta adalah ritual tahunan masyarakat Tengger yang memiliki nilai spiritual dan budaya sangat tinggi. Pemerintah akan terus mendukung agar tradisi ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya," tuturnya.

Rachmat menambahkan, ritual Mendak Tirta menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian Yadnya Kasada yang berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger.

Puncak perayaan Yadnya Kasada akan digelar di Pura Luhur Poten dan Kawah Gunung Bromo melalui prosesi pelarungan hasil bumi serta berbagai persembahan sebagai ungkapan syukur masyarakat Tengger atas berkah yang diterima sepanjang tahun.

"Puncak Yadnya Kasada sendiri akan digelar di Pura Luhur Poten dan Kawah Gunung Bromo melalui prosesi pelarungan hasil bumi serta berbagai persembahan sebagai ungkapan syukur masyarakat Tengger atas berkah yang diterima sepanjang tahun," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.