Konflik Timur Tengah Picu Krisis Pupuk dan Ancaman Kelaparan di Asia
Glery Lazuardi May 31, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta, mengingatkan dampak paling berbahaya dari konflik di Timur Tengah bukan hanya pasokan energi, melainkan terhentinya mobilitas perdagangan dunia. 

“Begitu pergerakan terhenti di kawasan ini, seluruh dunia akan menghadapi masalah,” ujarnya dalam sesi One on One bertema Peran Indonesia di Tengah Konflik Global di TVOne pada Jumat (29/5/2026).

Menurut Anis, Asia menjadi kawasan paling rentan karena ketergantungan besar terhadap energi dari Timur Tengah.

China, India, Asia Tenggara, dan Jepang disebut tidak memiliki sumber daya energi yang cukup, sehingga Selat Hormuz sebagai jalur vital menjadi titik rawan.

“Korban terbesar dari choke point ini adalah Asia,” tegas pria yang juga Ketua Umum Partai Gelora, 

Baca juga: IHSG dan Rupiah Kompak Berakhir Ambruk, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah

Ancaman Kelaparan dan Krisis Pupuk

Lebih jauh, Anis menilai ancaman pupuk justru lebih serius dibanding energi.

Dengan populasi dunia lebih dari 8 miliar, mayoritas di Asia dan Afrika, kebutuhan pupuk menjadi krusial untuk menjaga ketahanan pangan. Namun, impor dari Rusia terkendala sistem pembayaran akibat sanksi internasional.

Ia juga menyoroti Eropa yang tidak memiliki sumber energi memadai, sehingga industri mereka tidak kompetitif ketika harga minyak melonjak.

“Ancaman jangka menengah adalah kelaparan jika perang terus berlanjut,” kata Anis.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia kini fokus pada keamanan pangan.

Anis mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menjajaki kerja sama investasi pupuk dengan Laos, serta negara-negara Timur Tengah seperti Yordania, Maroko, dan Aljazair yang memiliki kapasitas produksi pupuk.

Dampak ke Daerah

Sementara itu, Ketua DPW Partai Gelora Riau, Iskandar. menilai, Provinsi Riau yang memiliki jutaan hektare perkebunan sawit dan lahan pertanian akan menjadi wilayah yang paling terpukul jika pasokan pupuk terganggu.

"Peringatan soal ancaman pupuk ini penting untuk diperhatikan serius, terutama bagi daerah seperti Riau yang bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Kalau rantai pasok pupuk global terganggu, petani kita yang pertama kena dampaknya," ujar Iskandar.

Iskandar mendesak pemerintah daerah dan para pelaku usaha agar tidak bersikap pasig menunggu krisis datang.

Ia menyarankan adanya langkah antisipasi segera melalui diversifikasi sumber pupuk dan penguatan stok cadangan lokal.

"Ini bukan isu luar negeri yang jauh dari keseharian kita. Konflik di Timur Tengah itu ujungnya sampai ke harga pupuk di tingkat petani. Pemerintah daerah dan pusat harus duduk bersama memikirkan langkah konkret sebelum krisisnya benar-benar datang," tegasnya.

Baca juga: Tiga Bulan Terakhir, PM Jepang 8 Kali Gelar Rapat Khusus Antisipasi Krisis Timur Tengah

Harga Beras Asia Mei 2026 Melonjak Tajam

Seperti dilansir vietnamplus.vn, harga beras di Asia pada Mei 2026 mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam hampir dua dekade. Para analis memperingatkan tren ini bisa berlanjut jika risiko cuaca, energi, dan pupuk terus menekan produksi.

Harga beras putih Thailand—patokan regional—melonjak 20 persen pada Mei, kenaikan paling tajam sejak 2008.

Di Chicago Mercantile Exchange, harga berjangka beras juga naik 15lam periode yang sama.

Bin Hui Ong, analis komoditas BMI, menilai fenomena El Niño akan memperburuk kondisi dengan cuaca lebih kering dan panas di banyak wilayah Asia.

Data Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) menunjukkan harga pupuk nitrogen di Thailand, Kamboja, dan Filipina naik 40–50% sejak konflik Timur Tengah pecah Februari lalu.

Alisher Mirzabaev dari IRRI menegaskan cadangan pupuk Maret–Mei masih stabil, namun kekurangan pasokan bisa segera muncul jika distribusi tidak normal kembali.

Gangguan di Selat Hormuz membuat biaya bahan bakar dan pupuk melonjak, menekan petani di seluruh Asia.

Filipina bahkan memperingatkan produksi berasnya bisa turun hingga 700.000 ton atau 3,5ri target tahunan akibat El Niño.

Penurunan produksi Asia akan berdampak besar pada pasokan global, mengingat kawasan ini adalah pemasok utama dunia.

Namun, analis International Grains Council (IGC), Peter Clubb, menilai tren kenaikan harga bisa tertahan oleh cadangan melimpah di negara pengekspor besar seperti India, ditambah permintaan global yang relatif lemah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.