TRIBUNNEWS.COM - Di tengah dominasi bentang alam kehijauan yang menyelimuti lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terselip sebuah panorama yang memanjakan mata.
Barisan warna-warni bunga yang merona, mencuri perhatian siapa saja yang tengah melintas di jalur sejuk pegunungan tersebut.
Pesona itu berpusat di Kebun Anggrek Zilquin. Di tempat ini, ribuan tangkai anggrek yang disusun dengan sangat rapi seakan melukiskan gradasi warna yang berbeda, memberikan kontras yang menawan di tengah hamparan zamrud alam pegunungan.
Siang itu, tepat pada Minggu (17/5/2026), denyut kehidupan di dalam greenhouse terasa begitu hangat dan hidup.
Kesibukan mewarnai rutinitas para pekerja yang dengan cekatan merawat tanaman sekaligus melayani antusiasme para pengunjung.
Satu di antara pengunjung itu adalah Diana Fauzia (26) yang terpikat keindahan anggrek saat melintasi wilayah Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.
Setelah cukup lama menimbang, pilihan wanita itu berlabuh pada sebatang Anggrek Bulan dengan warna kelopak perpaduan putih dengan bercak ungu muda.
"Kirain mahal, ternyata nggak sampai Rp150.000 ini," ujarnya sembari menunjukkan bunga pilihannya.
Wisatawan asal Purworejo itu tadinya tidak berniat membeli tanaman hias sebagai oleh-oleh.
Namun, Diana mengaku tergoda ketika melihat barisan bunga anggrek yang menjadi favorit sang ibu.
Terlebih ketika dia melihat adanya fasilitas pembayaran nontunai berupa QRIS Bank BRI yang melenyapkan kekhawatirannya soal harga bunga anggrek itu.
“Kalau nggak bisa QRIS mungkin nggak jadi beli, karena kebetulan gak bawa cash banyak,” kata dia.
Dari Jual Pikulan hingga Punya Greenhouse Menawan
Senyum Pemilik Kebun Anggrek Zilquin, Wahyono merekah ketika transaksi berjalan dengan lancar.
Bapak dua anak itu berulang kali mengucapkan terima kasih atas kunjungan Diana.
"Pelanggan itu bagi saya nomor satu. Zaman dulu jualan aja harus kita yang nyamperin pembeli," cerita Wahyono saat ditemui Tribunnews.com pada Minggu (17/5/2026).
Ingatan Wahyono melayang kembali ke tahun 2007 ketika ia langsung berjualan bunga keliling selepas lulus SMP.
Hal itu dilakukan Wahyono demi membantu perekonomian keluarganya yang berprofesi sebagai petani bunga hias.
"Dulu jual keliling pakai pikulan. Bunganya dibungkus karung, jalan kaki kemana-mana," kenang pria 36 tahun ini.
Bahkan ketika merantau ke pulau Sumatera dan Sulawesi, Wahyono tetap berjibaku dengan pikulan berisi anggrek hias.
Pada akhir 2015, usaha ini mencapai titik balik ketika Wahyono memiliki seorang anak yang ia beri nama Zilquin.
Saat itu, dia mengaku sadar tidak bisa membawa sang putri saat berjualan bunga keliling. Sehingga dia bertekat untuk mengubah strategi bisnisnya.
"Tahun 2015 itu saya jualan di Sulawesi, tepatnya di Manado, karena masih pakai pikulan dan ke sana kemari. Pas Zilquin ikut kadang tidurnya cuma di emper toko, saya kasihan, jadi saya pulangkan dan titipkan di rumah di Tawangmangu,” terang Wahyono.
Bukannya tenang, dia justru mendapatkan kabar Zilquin jatuh sakit di kampung halamannya.
Kegelisahan Wahyono makin menjadi di perantauan, hingga akhirnya dia memutuskan pulang ke Tawangmangu.
Wahyono kemudian menghadapi persoalan lain untuk tetap mengembangkan usaha bunga hiasnya.
Modal menjadi masalah pelik pada kehidupan Wahyono pada awal 2016 silam.
Akhirnya, dia memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI Kantor Cabang Tawangmangu dengan nilai Rp50 juta.
“Saya agak modal nekat pinjam ke BRI buat beli mobil. Dapat pinjaman Rp20 juta, dan tambah tabungan saya, akhirnya 2016 itu kebeli mobil pikap,” kata dia.
Dengan adanya mobil pikap, Wahyono bisa berjualan anggrek dengan lebih mudah dan menjangkau banyak tempat dengan lebih cepat.
Penjualan pun cepat meningkat berkat mobilitas yang tinggi.
Terbukti ketika Wahyono berhasil melunasi pinjaman Rp20 juta hanya dalam waktu 4 bulan.
"Dalam 4 bulan itu pinjaman sudah bisa saya lunasi sebelum waktunya,” kata Wahyono.
Ia kemudian mendapatkan kepercayaan BRI lagi saat mengajukan pinjaman kedua untuk membangun greenhouse.
Wahyono mengaku mendapatkan banyak kemudahan dari pinjaman ini, baik dari segi administrasi yang mudah maupun dari bunga pinjaman yang relatif kecil baginya.
“Masih dengan agak nekat tapi terukur karena bunga KUR juga menurut saya rendah, saya minjam lagi Rp250 juta ke BRI buat bikin greenhouse. Saya minta tolong ke temen yang tukang las, pokoke tak kasih (pokoknya saya kasih uang) Rp100 juta buat bikin greenhouse, piye carane kudu dadi (entah bagaimana caranya harus bisa jadi),” ungkap Wahyono sembari tertawa.
Sisa pinjaman kedua itu ia gunakan untuk membeli bibit, pupuk, dan alat penunjang lain untuk penanaman anggrek.
Pascapembangunan greenhouse anggrek pertamanya, usaha Anggrek Zilquin terus tumbuh.
Kini Anggrek Zilquin bisa menjual ribuan anggrek ke berbagai penjuru Indonesia melalui platform digital dan reseller.
“Reseller Anggrek Zilquin ada 216 di berbagai daerah, sama lewat Facebook, di TikTok itu juga lumayan selain yang memang datang ke kebun juga banyak,” terang Wahyono.
Selain itu, kebun Zilquin juga memberi dampak positif bagi warga sekitarnya.
"Kami juga memberdayakan tetangga di sekitar rumah untuk bantu-bantu di kebun dan galeri,” tutup Wahyono.
Baca juga: Melek Digital, QRIS jadi Andalan UMKM di Lokasi Wisata: Jualan Laris Manis, Transaksi Makin Praktis
BRI Perluas Penyaluran KUR
Kisah sukses Wahyono selaras dengan komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk untuk mendukung perkembangan UMKM di Indonesia.
Hal ini tercermin dari penyaluran kredit dan pembiayaan BRI yang terus tumbuh diiringi dengan penguatan fondasi bisnis yang berkelanjutan.
Dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI pada Kamis (30/4/2026), Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan penyaluran kredit dan pembiayaan BRI menunjukkan pertumbuhan yang solid, dengan total kredit dan pembiayaan meningkat sebesar 13,7 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp1.562 triliun.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp1.211 triliun,” ujar Hery dalam rilis yang diterima Tribunnews.com.
Di saat bersamaan, sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, BRI secara konsisten menjadi penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia.
BRI berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah pinjaman pada periode Januari hingga Maret 2026. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp19,86 triliun atau setara 42,16?ri total KUR yang telah disalurkan.
“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” imbuh Hery.
Mudah Dapat Modal dengan KUR
Seperti pernyataan Wahyono di atas, BRI memberikan pelayanan KUR yang terbilang mudah dijangkau oleh pelaku UMKM.
Pelaku usaha yang membutuhkan modal dapat memanfaatkan program KUR ini untuk menunjang keberlanjutan bisnisnya.
Syaratnya cukup mudah, pelaku usaha merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki usaha layak didukung dan produktif yang berjalan minimal selama 6 bulan sebelum pengajuan.
Jika kriteria terpenuhi, calon peminjam harus menyiapkan beberapa dokumen pribadi seperti e-KTP dan Kartu Keluarga (KK).
Kemudian dibutuhkan dokumen penunjang seperti Surat Keterangan Usaha (SKU) dari perangkat desa atau Nomor Induk Berusaha (NIB).
Apabila calon peminjam membutuhkan dana lebih dari Rp50 juta, maka dibutuhkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan dokumen agunan untuk jenis KUR tertentu.
Setelah menyiapkan dokumen tersebut, calon peminjam bisa langsung mengakses laman resmi KUR BRI https://kur.bri.co.id/.
Calon peminjam perlu membuat akun terlebih dahulu untuk mengakses menu ‘Ajukan Pinjaman’.
Kemudian wajib mengisi formulir pengajuan dengan data diri, informasi keuangan, dan profil usaha calon peminjam.
Lalu unggah foto atau scan dokumen persyaratan seperti KTP, KK, SKU/NIB, NPWP, dan dokumen agunan.
Terakhir pilih nominal pinjaman serta tenor yang diinginkan, lalu klik ‘Ajukan’.
Untuk memantau proses verifikasi, calon peminjam bisa mengeceknya di menu ‘Lacak Pengajuan’.
Skema kedua, calon peminjam bisa mendatangi langsung unit kerja BRI terdekat dengan membawa dokumen persyaratan dalam bentuk fisik serta fotokopi.
Sesampainya di Kantor Cabang (KC) atau Kantor Cabang Pembantu (KCP) BRI, nasabah perlu mengambil nomor antrean untuk bertemu petugas atau mantri kredit.
Lalu isi formulir pengajuan yang diberikan oleh petugas setelah menyerahkan berkas dokumen tersebut.
Setelah selesai, petugas bank akan menghubungi calon peminjam untuk melakukan verifikasi data dan survei ke lokasi usaha yang bersangkutan.
Jika pengajuan disetujui, pihak bank akan mengundang calon peminjam untuk melakukan akad kredit dan pencairan dana.
Proses ini terbilang singkat yakni sekitar 7 hingga 14 hari kerja setelah pengajuan beserta seluruh dokumen persyaratan diserahkan.
(Tribunnews.com/Isti Prasetya)