TRIBUNJATENG.COM - Inilah sosok Yheni Aprilia Susanti (26) sinden asal Pati Jateng lulusan ISI Surakarta.
Sebagai seorang sinden, Yheni harus selalu tampil semangat demi memberikan yang terbaik kepada penonton.
“Apapun kondisi di rumah atau di luar panggung harus ditinggalkan. Saat tampil, kita harus terlihat semangat dan memberikan yang terbaik untuk penonton,” katanya dikutip tribunjateng.com dari Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).
Di balik penampilan yang anggun di atas panggung, perempuan asal Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati ini menegaskan bahwa menjadi sinden membutuhkan kemampuan yang tidak sederhana.
Seorang sinden harus menguasai gending Jawa, teknik cengkok khas, hingga kemampuan vokal bernada tinggi.
“Modal utama sinden itu penguasaan lagu Jawa, cengkok, dan suara yang kuat untuk nada tinggi. Kalau tidak bisa menguasai itu, hasilnya bisa terdengar fals,” katanya.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menilai masih banyak orang yang menganggap profesi sinden mudah dilakukan.
“Sekarang banyak yang tampil seperti sinden, tetapi yang dibawakan justru lagu dangdut. Saya bangga menjadi pesinden karena tidak semua orang bisa nyinden dengan baik,” ujarnya.
Saat ini, Yheni juga sedang disibukkan dengan jadwal panggung yang padat.
Perempuan berusia 26 tahun itu mengaku jadwal manggungnya semakin padat sejak awal 2026.
Bahkan, hampir setiap hari ia menerima panggilan untuk tampil di berbagai acara. “Jadwal mulai ramai saat bulan Syawal, bulan Besar, dan sebelum puasa kemarin.
Banyak orang menikah, otomatis banyak juga job yang masuk,” ujarnya.
Data yang ia catat menunjukkan, pada Januari 2026 dirinya menerima 24 job nyinden.
Angka tersebut sedikit menurun pada Februari menjadi 10 job karena bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Namun, jumlah panggilan kembali meningkat pada Maret dengan 20 job dan mencapai 23 job sepanjang April 2026.
“Sejak Januari mulai ramai. Sebelum puasa, dalam seminggu minimal bisa lima job. Saat Ramadhan memang sepi, tetapi setelah Syawal langsung ramai lagi,” ungkapnya.
Menurut Yheni, kondisi ini jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Selama tahun 2025, ia rata-rata hanya menerima dua hingga empat job dalam satu minggu.
Tingginya permintaan tampil membuat Yheni harus menjaga kondisi fisik dan kualitas vokal agar tetap prima.
Dalam sekali pertunjukan, ia biasanya tampil selama tiga hingga lima jam dengan membawakan empat hingga lima lagu atau gending Jawa.
Untuk setiap penampilan, Yheni menerima honor antara Rp 600.000 hingga Rp 750.000.
Besaran honor tersebut menyesuaikan jarak tempuh menuju lokasi acara.
Yheni berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari seni sinden secara serius.
Ia mengaku bangga melihat masih banyak anak muda yang berupaya melestarikan kesenian Jawa di tengah perkembangan zaman.
“Semoga semakin banyak yang mau belajar nyinden dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar ikut tren.
Seni sinden harus terus dilestarikan agar tidak hilang,” katanya. (*)
Sumber: kompas.com