Hari Lahir Pancasila, Akademisi Menilai Tetap Relevan Jaga Persatuan Bangsa di Era Digital
Kemal Setia Permana May 31, 2026 01:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Akademisi Prof Achmad Tjachja Nugraha menyoroti momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni karena menjadi pengingat penting bagi bangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Pancasila tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah dinamika sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi yang terus berubah.

"Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak hanya memiliki makna historis, tetapi juga relevan sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara pada era kontemporer," ujar Achmad, Minggu (31/5/2026).

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan Pancasila merupakan kekuatan ideologis sekaligus moral yang mampu menjaga persatuan nasional di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Baca juga: Indonesia Dominasi Pemain Termahal di ASEAN: Jay Idzes Tertinggi, Thom Haye Masuk Daftar

Menurutnya, kesaktian Pancasila tidak dapat dipahami sebatas simbol atau peringatan sejarah semata, melainkan harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sosial, pendidikan, pemerintahan, dan pembangunan nasional.

"Pancasila merupakan fondasi moral, sosial, dan kebangsaan yang tetap relevan sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi perekat bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal," katanya.

Dalam perjalanan sejarahnya, kata dia, Indonesia telah menghadapi berbagai ancaman, mulai dari konflik ideologi, potensi disintegrasi bangsa, krisis ekonomi, hingga polarisasi sosial yang berkembang akibat arus informasi digital dan media sosial.

"Meski demikian, bangsa Indonesia tetap mampu mempertahankan persatuan karena memiliki landasan nilai yang kuat melalui Pancasila sebagai ideologi negara," ujar Achmad.

Menurutnya, tantangan kebangsaan pada era modern semakin kompleks seiring berkembangnya globalisasi, disrupsi teknologi, penyebaran hoaks, intoleransi, serta menurunnya semangat gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, penguatan nilai-nilai Pancasila, khususnya kepada generasi muda, menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas nasional dan keberlanjutan pembangunan bangsa.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan nasional tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas intelektual, tetapi harus mampu membentuk karakter, integritas, dan tanggung jawab kebangsaan.

"Pendidikan memiliki fungsi strategis dalam membangun peradaban bangsa. Integrasi antara ilmu pengetahuan, moralitas, dan karakter kebangsaan menjadi kunci dalam menjaga masa depan Indonesia," katanya.

Baca juga: Setelah Puluhandi Ciamis, Giliran Belasan SPPG di Sikabumi Ditutup Akibat Masalah IPAL

Achmad menjelaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila memiliki relevansi kuat terhadap kehidupan berbangsa saat ini. Nilai Ketuhanan mengajarkan toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman agama.

Kemudian nilai kemanusiaan, tentu menanamkan prinsip keadilan dan empati sosial, sedangkan nilai Persatuan menjadi instrumen utama dalam menghadapi ancaman perpecahan bangsa.

"Sementara itu, nilai Kerakyatan dan Keadilan Sosial dinilai menjadi dasar penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada kepentingan rakyat dan pembangunan yang berkeadilan," ujar Achmad.

Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, termasuk tantangan ketahanan pangan, perubahan sosial, dan dinamika ekonomi internasional, ia menyoroti pentingnya penguatan kemandirian nasional melalui pengembangan sektor pangan, riset, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, kesaktian Pancasila pada hakikatnya merupakan kekuatan nilai yang hidup dalam kesadaran kolektif bangsa Indonesia.

"Selama nilai persatuan, gotong royong, toleransi, dan keadilan tetap dijaga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka Pancasila akan terus menjadi penopang utama keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

 


Foto : Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Achmad Tjachja Nugraha saat berdakwah dihadapan jemaah. Dok Pribadi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.