Di antaranya ada Francisco Rivera yang betah di Persebaya.
Selanjutnya sosok Scott McTominay masuk skuad Timnas Skotlandia usai bawa Napoli juara.
Hingga PSG yang pertahankan gelar Liga Champions.
Berikut selengkapnya:
Persebaya Surabaya sudah mengumumkan memperpanjang kontrak gelandang asingnya, Francisco Rivera hingga tiga tahun ke depan.
Ia menjadi pemain asing Pertama Persebaya yang diikat kontrak dengan durasi paling panjang, sudah memperkuat Persebaya sejak musim 2024/2025 lalu.
Kontrak panjang itu tidak lepas kontribusi besar Rivera di Persebaya. Sepanjang musim 2025/2026, Rivera tampil sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam permainan Bajol Ijo.
Kontribusinya terlihat jelas lewat statistik impresif. Rivera sukses mencatatkan double-double dengan torehan 13 gol dan 10 assist dari 30 pertandingan bersama Persebaya musim ini.
Catatan tersebut membuatnya masuk dalam jajaran Best XI Super League 2025/26.
“Saya sangat senang bisa melanjutkan perjalanan bersama Persebaya," kata Rivera.
Baca juga: Piala Dunia 2026 Jadi Agenda Liburan Bek Persebaya, Siap Dukung Langsung Tim Jagoan
"Di klub ini saya merasa seperti berada di keluarga sendiri. Saya juga merasa seperti di rumah. Karena itu saya berharap musim depan kami bisa kembali berjuang bersama untuk mencapai target tim,” tambahnya.
Rivera juga menilai Persebaya telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai pesepak bola profesional.
Kenyamanan yang ia rasakan di Surabaya menjadi salah satu alasan terbesar dirinya memilih bertahan.
“Persebaya adalah klub besar di Indonesia dan saya bangga bisa menjadi bagian dari klub ini," terang pemain asal Meksiko itu.
"Saya juga merasa sangat nyaman tinggal di kota ini bersama keluarga saya. Itu menjadi salah satu alasan terbesar saya memutuskan untuk melanjutkan kontrak,” tambahnya.
Menariknya, Persebaya kini menjadi klub yang paling lama dibela Rivera sejak memulai karier profesionalnya. Ia mengaku menikmati setiap proses yang dijalani bersama Bajol Ijo.
“Di sini saya merasa sangat menikmati setiap momen, baik saat latihan maupun pertandingan,” terang pemain kelahiran 23 September 1994 itu.
Meski sudah mencatatkan musim yang gemilang, Rivera menegaskan dirinya masih memiliki ambisi besar untuk membantu Persebaya meraih hasil lebih baik musim depan, dari musim ini yang finish peringkat empat.
“Target pribadi saya tetap sama, yaitu memberikan yang terbaik untuk tim. Saya ingin terus bekerja keras di setiap latihan dan pertandingan,” kata Rivera secara tegas.
Rivera percaya Persebaya memiliki kekuatan untuk bersaing di papan atas, apabila seluruh pemain terus menjaga semangat dan kerja keras.
“Jika semua pemain memberikan seratus persen kemampuan mereka, saya percaya kami bisa mencapai target bersama. Saya juga akan terus berusaha berkembang agar bisa membantu Persebaya meraih hasil terbaik,” pungkasnya
Nama Scott McTominay kini menjadi salah satu pemain paling bersinar dalam perjalanan Timnas Skotlandia menuju Piala Dunia 2026.
Gelandang andalan Timnas Skotlandia tersebut sedang menjalani periode terbaik dalam kariernya setelah tampil impresif bersama Napoli sekaligus membawa negaranya kembali tampil di panggung dunia setelah penantian panjang selama 28 tahun.
Kemampuannya mencetak gol dari lini tengah, mentalitas pekerja keras, hingga kepemimpinannya di lapangan membuat McTominay dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik Eropa saat ini.
Performa gemilang McTominay bersama Napoli bahkan membuatnya mendapat julukan baru dari publik Italia, mulai dari “McFratm” hingga disebut sebagai “Maradona baru Kota Napoli”.
Perjalanan Karier Scott McTominay
Scott Francis McTominay lahir di Lancaster, Inggris, pada 8 Desember 1996.
Meski lahir di Inggris, ia memilih membela Timnas Skotlandia karena memiliki garis keturunan Skotlandia dari sang ayah yang berasal dari Helensburgh.
McTominay merupakan lulusan akademi Manchester United dan menjalani debut senior bersama klub tersebut pada Mei 2017.
Seiring waktu, ia berkembang menjadi salah satu pemain penting di lini tengah Setan Merah, julukan klub Manchester United.
Selama berseragam Manchester United, McTominay mencatat lebih dari 200 penampilan di berbagai kompetisi.
Ia bahkan turut membantu klub meraih sejumlah gelar seperti Piala FA serta Piala Liga Inggris.
Namun, perjalanan karier McTominay berubah drastis saat memutuskan hengkang ke Napoli pada Agustus 2024 dengan nilai transfer sekitar 25,7 juta poundsterling.
Baca juga: Profil Timnas Skotlandia di Piala Dunia 2026, Tartan Army Siap Putus Kutukan Usai Penantian 28 Tahun
Bersinar Bersama Napoli
Keputusan pindah ke Italia menjadi titik balik terbesar dalam karier Scott McTominay.
Dilansir dari FIFA.com, pelatih Napoli Antonio Conte memainkan peran penting dalam perkembangan McTominay dengan memberinya kebebasan lebih besar untuk membantu serangan dan masuk ke kotak penalti lawan.
Peran tersebut membuat kemampuan ofensif McTominay semakin terlihat.
Pada musim 2024/2025, McTominay sukses mencetak 12 gol di Serie A dan satu gol tambahan di Coppa Italia.
Ia juga menjadi sosok penting di balik keberhasilan Napoli meraih gelar Serie A musim 2024/2025.
Sementara dikutip dari kompas.id, kontribusinya berhasil mengangkat performa Napoli yang sebelumnya terpuruk di papan tengah klasemen.
Berkat performa impresif tersebut, McTominay dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Serie A 2024/2025.
Selain penghargaan pemain terbaik liga, ia juga masuk dalam Serie A Team of the Season serta meraih penghargaan Goal of the Month dan Player of the Month.
Bakhan, McTominay mengaku sangat menikmati kehidupannya bersama Napoli dan merasa mendapat dukungan besar dari para penggemar klub Italia tersebut.
Baca juga: Sosok dan Profil Harry Kane, Striker Bayern Munchen Tumpuan Utama Timnas Inggris di Piala Dunia 2026
Julukan “McFratm” hingga Maradona Baru Napoli
Kesuksesan Scott McTominay bersama Napoli membuat popularitasnya meningkat sangat cepat di Kota Naples.
Para pendukung Napoli bahkan memberikan berbagai julukan khusus untuk gelandang asal Skotlandia tersebut.
Salah satu julukan paling populer adalah “McFratm”, istilah gaul khas Napoli yang berarti saudara dekat.
Selain itu, McTominay juga dijuluki “Apribottiglie” atau pembuka botol karena kerap mencetak gol pembuka untuk Napoli.
Ia juga mendapat julukan “Braveheart” yang terinspirasi dari film legendaris tentang pejuang Skotlandia dan menggambarkan karakter pekerja kerasnya di lapangan.
Bahkan, sebagian pendukung Napoli mulai menyebut McTominay sebagai penerus Diego Maradona karena pengaruh besarnya terhadap tim.
Wajah McTominay juga mulai banyak terlihat di mural jalanan Napoli dan menjadi simbol baru kebangkitan klub.
Sementara di luar lapangan, McTominay juga berusaha mendekatkan diri dengan budaya lokal Italia, mulai dari belajar bahasa Italia hingga menikmati makanan khas Napoli.
Baca juga: Profil Lionel Scaloni, Sosok di Balik Era Emas La Albiceleste dan Dominasi Timnas Argentina
Karier Bersama Timnas Skotlandia
Tak hanya bersinar di level klub, Scott McTominay juga tampil impresif bersama Timnas Skotlandia.
Ia menjalani debut internasionalnya bersama Timnas Skotlandia senior pada Maret 2018 saat menghadapi Kosta Rika.
Pada awal karier internasionalnya, McTominay sempat dimainkan di berbagai posisi, termasuk sebagai bek tengah dalam formasi tiga bek.
Namun, seiring waktu ia berkembang menjadi gelandang serang yang sangat penting bagi Skotlandia.
Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, McTominay mencetak gol internasional pertamanya saat menghadapi Israel.
Setelah itu, performanya terus meningkat.
Ia bahkan tampil luar biasa pada kualifikasi Euro 2024 dengan mencetak sejumlah gol penting, termasuk dua gol saat Skotlandia mengalahkan Spanyol 2-0.
McTominay juga menjadi salah satu aktor utama keberhasilan Skotlandia lolos ke Piala Dunia FIFA 2026.
Baca juga: Sosok Virgil van Dijk, Kapten Timnas Belanda yang Bawa Misi Raih Gelar Piala Dunia Pertama
Gol Salto Bersejarah dan Uang Kertas Edisi Khusus
Salah satu momen paling ikonik dalam karier McTominay terjadi saat Skotlandia menghadapi Denmark pada kualifikasi Piala Dunia 2026.
Mengutip Tribunnews.com, McTominay mencetak gol salto spektakuler yang membantu Skotlandia menang 4-2 dan memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia.
Gol tersebut kemudian diabadikan dalam uang kertas £20 edisi khusus yang diterbitkan Bank of Scotland.
Uang kertas edisi terbatas itu hanya dicetak sebanyak 100 lembar dan menjadi simbol keberhasilan Skotlandia kembali tampil di Piala Dunia setelah penantian panjang sejak 1998.
Hingga kini, McTominay telah mencatatkan 69 penampilan dan 14 gol internasional bersama Timnas Skotlandia.
Baca juga: Sosok dan Jejak Karir Thomas Tuchel, Pelatih Timnas Inggris Diharapkan Akhiri 60 Tahun Puasa Gelar
Pemain Terbaik Skotlandia 2024
Performa impresif McTominay juga membuatnya meraih penghargaan Pemain Pria Terbaik Skotlandia 2024.
Disitir dari bola.kompas.com, penghargaan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa McTominay berkembang pesat setelah meninggalkan Manchester United dan mendapat kepercayaan penuh di Napoli.
Legenda Manchester United, Jaap Stam, bahkan menyebut keputusan melepas McTominay sebagai kesalahan besar.
Menurut Stam, McTominay berkembang menjadi pemain yang jauh lebih percaya diri karena bermain reguler hampir di setiap pertandingan bersama Napoli.
Baca juga: Sosok Vinicius Junior, Andalan Baru Brasil di Piala Dunia 2026 Penerus Jogo Bonito
Sosok Penting Menuju Piala Dunia 2026
Kini Scott McTominay menjadi salah satu pemain paling penting dalam skuad Timnas Skotlandia.
Dengan pengalaman, kemampuan mencetak gol, serta mentalitas kepemimpinan yang dimiliki, McTominay diprediksi akan menjadi andalan utama Skotlandia di Piala Dunia FIFA 2026.
Pemain berusia 29 tahun tersebut juga bertekad membawa Napoli terus meraih gelar dan membantu Skotlandia menciptakan sejarah baru di panggung sepak bola dunia.
Inilah hasil final Liga Champions PSG vs Arsenal pada Minggu (31/5/2026) dini hari WIB.
Dalam pertandingan ini, Paris Saint-Germain ( PSG )berhasil mempertahankan gelar Liga Champions-nya.
PSG memastikan gelar juara melalui drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu berakhir dengan Arsenal.
Padahal, pertandingan berlangsung sengit sejak menit-menit awal dengan kedua tim saling menekan.
Arsenal berhasil membuka keunggulan lebih dulu saat laga baru berjalan lima menit.
Berawal dari aksi individu yang brilian, Kai Havertz sukses menaklukkan kiper PSG dan membawa The Gunners unggul 1-0.
Gol tersebut membuat Arsenal tampil lebih percaya diri dan mampu menjaga keunggulan hingga turun minum.
Sementara pasukan Les Parisiens -julukan PSG- baru mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-64 melalui titik putih.
Ousmane Dembele yang dipercaya sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna untuk mengubah skor menjadi 1-1.
Setelah gol tersebut, kedua tim sama-sama memiliki peluang untuk mencetak gol kemenangan, tetapi tidak ada tambahan gol hingga waktu normal berakhir.
Babak perpanjangan waktu selama 2x15 menit juga gagal menghasilkan pemenang.
Alhasil, laga harus ditentukan melalui adu penalti.
Dalam babak tos-tosan, PSG tampil lebih tenang dan berhasil memenangkan adu penalti dengan skor 4-3.
Dua penendang Arsenal, yakni Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, gagal menjalankan tugasnya sehingga membuat PSG sukses mempertahankan mahkota Liga Champions.
Setelah laga selesai, pelatih Arsenal, Mikel Arteta turut memberikan komentarnya.
Baca juga: Prediksi PSG Vs Arsenal di Final Liga Champions: Strategi Jitu The Gunners Depak Sang Juara Bertahan
Meski gagal mengangkat trofi, pelatih Arsenal, Mikel Arteta, tetap memberikan apresiasi tinggi kepada para pemainnya.
Ia mengaku bangga dengan perjuangan yang telah ditunjukkan skuad Arsenal sepanjang musim.
"Saya sangat bangga kepada mereka. Mereka memberi kami begitu banyak kegembiraan. Merupakan suatu kehormatan bisa melatih kelompok pemain ini," ujar Arteta, dikutip dari UEFA.
Menurutnya, Arsenal sebenarnya memiliki peluang besar untuk memenangkan pertandingan, tetapi gagal memaksimalkan kesempatan yang didapat.
"Kami mendapatkan peluang besar, dan kami melewatkan peluang terbesar. Saat ini tidak ada yang bisa menghilangkan rasa sakit ini, tetapi kami harus mengakui perjalanan luar biasa yang telah kami lalui musim ini," lanjutnya.
Arteta juga mengakui kualitas PSG yang menurutnya layak menyandang status tim terbaik dunia saat ini.
"Mereka sangat sulit untuk dihadapi. Itulah alasan mereka bisa menjadi juara dua kali berturut-turut. Kualitas individu pemain mereka dan cara tim itu dilatih sangat luar biasa."
"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Paris, terutama kepada Luis Enrique. Menurut saya mereka adalah tim terbaik di dunia saat ini. Apa yang mereka lakukan ketika menguasai bola dan kualitas individu yang mereka miliki benar-benar luar biasa," katanya.
Meski kecewa, Arteta menegaskan Arsenal harus segera bangkit dan kembali menunjukkan ambisi besar untuk musim depan.
Pelatih asal Spanyol itu menilai level persaingan di Eropa dan Inggris terus meningkat sehingga timnya harus berkembang lebih jauh lagi.
"Kemajuan yang telah kami tunjukkan dalam beberapa tahun terakhir harus kami ulangi lagi. Level kompetisi semakin tinggi dan persaingan sangat luar biasa."
"Sekarang saya akan meluangkan waktu beberapa hari bersama keluarga. Setelah itu kami akan mengevaluasi musim ini dan membuat sejumlah keputusan penting jika ingin mencapai level yang lebih tinggi."
"Kami harus sangat ambisius, bergerak cepat, dan membuat keputusan yang cerdas karena saya yakin tim ini mampu melakukannya," tutup Arteta.
Kekalahan ini membuat Arsenal kembali gagal meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub, sementara PSG semakin menegaskan dominasinya di Eropa dengan gelar kedua secara beruntun.