TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus aksi premanisme yang terjadi saat euforia kemenangan Persib Bandung kembali menjadi sorotan publik setelah muncul laporan adanya pemalakan terhadap pengendara mobil berpelat Jakarta di sejumlah titik keramaian.
Peristiwa tersebut diduga terjadi ketika suasana perayaan sedang memuncak, sehingga dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan pungutan liar di jalanan.
Video dan laporan warga yang beredar di media sosial kemudian memicu kemarahan publik, karena dianggap mencoreng momen kemenangan yang seharusnya berlangsung tertib dan meriah.
Aksi tersebut juga menimbulkan keresahan, terutama bagi para pengendara dari luar daerah yang merasa menjadi sasaran empuk dalam situasi keramaian.
Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi disebut langsung turun tangan dan memberikan perhatian serius terhadap kasus yang viral tersebut.
Ia menegaskan bahwa tindakan premanisme seperti pemalakan tidak boleh dibiarkan, apalagi terjadi di tengah perayaan besar yang melibatkan banyak masyarakat.
Pihak terkait kini mulai melakukan penelusuran terhadap pelaku yang terekam dalam sejumlah dokumentasi warga untuk segera diproses sesuai hukum yang berlaku.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa euforia kemenangan seharusnya tetap dijaga dengan ketertiban, bukan dijadikan kesempatan untuk tindakan melanggar hukum.
Baca juga: Akhir Pelarian Pasutri Kasus WO Marwah, Berhasil Diringkus di Bandung Barat, Gelapkan Uang Rp 2,6 M
Seperti diketahui, respons cepat dan tindakan tegas langsung diambil oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Polda Jabar guna meredam aksi premanisme yang meresahkan publik.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menginstruksikan sanksi tegas bagi siapa saja yang nekat melakukan pemalakan di wilayahnya.
Langkah ini diambil merespons sebuah rekaman yang mendadak viral di jagat maya, memperlihatkan tindakan pemerasan terhadap pengendara mobil bernomor polisi Jakarta atau pelat B di kawasan wisata Dago.
Berdasarkan data yang dihimpun, aksi kriminal tersebut terjadi di kawasan Gang Dago Timur, Jalan Ir. H. Djuanda, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Insiden memprihatinkan ini berlangsung pada Sabtu (23/5/2026) malam, tepat setelah peluit panjang laga pemungkas antara Persib Bandung melawan Persijap Jepara dibunyikan.
Kala itu, atmosfer Kota Kembang sebenarnya sedang dibalut kegembiraan luar biasa. Jutaan pendukung tengah merayakan keberhasilan epik Maung Bandung yang sukses mengunci takhta tertinggi sepak bola tanah air selama tiga musim berturut-turut, sekaligus menjadi trofi kelima liga nasional mereka.
Namun, kesucian perayaan tersebut ternoda oleh ulah oknum tidak bertanggung jawab. Dalam rekaman video yang beredar luas, seorang pria tampak mencegat kendaraan luar kota dan memaksa sang sopir menyerahkan sejumlah uang di tengah kemacetan.
Tindakan premanisme jalanan ini menuai kecaman luas dari netizen karena dianggap merusak citra positif bobotoh dan warga Bandung yang selama ini dikenal ramah serta gigih menjaga kedamaian lingkungan.
Menanggapi situasi yang memanas di media sosial, Dedi Mulyadi langsung bergerak cepat melakukan komunikasi intensif dengan Kapolda Jawa Barat guna memastikan penegakan hukum berjalan tanpa kompromi.
"Saya sampaikan mengenai kasus pemalakan, premanisme di Kota Bandung di Dago, saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jawa Barat," ujar Dedi dikutip dari Instagram pribadinya, Minggu (31/5/2026).
Ia mengonfirmasi bahwa personel kepolisian bergerak taktis dan telah meringkus oknum pemalak tersebut. Saat ini, yang bersangkutan tengah menjalani pemeriksaan intensif di markas kepolisian setempat.
"Pelakunya sudah diamankan di Polsek Coblong," katanya.
Dedi mengimbau dengan keras kepada seluruh elemen masyarakat agar menjauhi segala bentuk pemerasan dan tindakan intimidasi. Ia menekankan bahwa kenyamanan para pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke Tanah Pasundan harus menjadi prioritas bersama.
"Seluruh warga Jawa Barat, jangan coba-coba melakukan pemalakan premanisme pada siapa pun, baik warga Jawa Barat maupun luar warga Jawa Barat yang berkunjung ke Jawa Barat," katanya.
Ia menambahkan, otoritas pemerintahan bersama jajaran kepolisian berkomitmen penuh untuk menyeret para pelaku ke meja hijau agar memberikan efek jera, sekaligus memutus rantai kultur premanisme jalanan.
"Saya sampaikan, kita tidak akan segan-segan untuk memproses hukum agar kebiasaan buruk ini segera dihentikan," tuturnya.
Dedi juga mengajak generasi muda untuk memilih jalan rezeki yang bermartabat dan legal daripada harus berurusan dengan aparat penegak hukum akibat mengganggu ketenteraman publik.
"Berusahalah dengan baik. Masih terbuka cari rezeki yang halal dengan kerja keras. Dibanding bergaya preman, mengganggu ketertiban, kenyamanan, dan keselamatan orang," ucap Dedi.
Di akhir keterangannya, orang nomor satu di Jawa Barat tersebut memberikan apresiasi tinggi kepada kesigapan petugas di lapangan yang tanggap dalam menetralisir gangguan keamanan.
"Saya ucapkan terima kasih pada Polsek Coblong, kemudian Polrestabes Bandung yang telah menangani masalah ini dengan cepat," pungkasnya.
Di sisi lain, korban yang merekam langsung kejadian tersebut sempat mengalami intimidasi psikologis yang cukup berat.
Pelaku yang mengklaim dirinya bernama Demon, secara agresif meminta uang sebesar Rp50 ribu. Tak main-main, oknum tersebut bahkan melontarkan ancaman verbal bahwa mobil korban akan dihancurkan oleh massa jika permintaannya ditolak.
Karena merasa terdesak dan terancam keselamatannya, korban terpaksa menyerahkan sejumlah uang sebelum akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan.
"Tambahin! Tambahin! Tambahin! Mau hancur di depan, udah koordinasi sama Demon. Terserah berapa saja mau Rp 50 ribu mau berapa terserah. Ya terserah aja," kata si pelaku dalam video yang beredar.
Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson, membenarkan penangkapan interogasi terhadap pelaku. Kendati demikian, pihak penyidik masih mendalami perkara ini secara objektif.
"Pelaku sudah kami amankan di Polsek Coblong dan sekarang sudah dilakukan penyelidikan," katanya, Minggu (31/5/2026).
Dari hasil pemeriksaan awal, Kompol Riki membeberkan bahwa pelaku melancarkan aksinya di bawah pengaruh hebat minuman beralkohol.
Pelaku nekat memeras pengendara lantaran kehabisan modal untuk melanjutkan pesta miras bersama kelompoknya di tengah euforia kemenangan sepak bola tersebut.
"Motifnya, pada saat euforia tersebut mereka melakukan minum-minum bersama. Sehingga pada saat itu mungkin kekurangan uang atau bagaimana, mereka meminta uang untuk beli minuman lagi," ucap Riki.
Aksi pemalakan terhadap pengemudi mobil berpelat B di Jalan Ir H Djuanda atau Dago, Kota Bandung, saat perayaan juara Persib beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial. Aksinya itu terekam kamera korban dan mendapat respons prihatin dari warganet.
Pelaku mengaku bernama Demon dan meminta uang Rp 50 ribu ke korban. Pelaku mengancam jika korban tak memberikan uang, maka mobilnya akan menjadi sasaran amukan alias dirusak. Korban pun kemudian memberikan uang kepada pelaku dan melanjutkan perjalanannya.
"Tambahin! Tambahin! Tambahin! Mau hancur di depan, udah koordinasi sama Demon. Terserah berapa saja mau Rp 50 ribu mau berapa terserah. Ya terserah aja," kata si pelaku dalam video yang beredar.
Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson memastikan pelaku sudah ditangkap dan masih dimintai keterangan. Pelaku masih berstatus terperiksa.
"Pelaku sudah kami amankan di Polsek Coblong dan sekarang sudah dilakukan penyelidikan," katanya, Minggu (31/5/2026)
Riki menambahkan, pelaku melakukan aksinya dalam pengaruh minuman keras (miras). Uang hasil memalak itu rencananya bakal digunakan pelaku untuk membeli miras.
Belum diketahui nominal uang yang diberikan oleh korban kepada pelaku. Pasalnya, korban belum membuat laporan resmi ke polisi dan dimintai keterangan.
"Motifnya, pada saat euforia tersebut mereka melakukan minum-minum bersama. Sehingga pada saat itu mungkin kekurangan uang atau bagaimana, mereka meminta uang untuk beli minuman lagi," ucap Riki.
Hal ini tentunya mencoreng euforia Persib yang baru saja meraih piala kelima liga nasional, dan menodai upaya Persib dan Bobotoh untuk terus menjaga kondusivitas Bandung dan Jawa Barat.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)(TribunJabar)