Heboh Laporan Mama Sinta ke Polisi, Sutradara Film 'Pesta Babi' Sindir ke Pihak yang Mendadak Muncul
Eri Ariyanto May 31, 2026 04:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Laporan yang diajukan Mama Sinta ke pihak kepolisian terkait film Pesta Babi mendadak menjadi sorotan publik dan memicu perbincangan luas di berbagai platform media sosial.

Kasus ini mencuat setelah adanya dugaan keberatan terhadap konten film yang dinilai menyinggung pihak tertentu.

Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi polemik yang tidak hanya melibatkan pihak pelapor, tetapi juga publik yang ikut memberi perhatian.

Ia menyinggung adanya pihak-pihak yang tiba-tiba muncul dan ikut terlibat dalam kasus ini setelah isu tersebut viral.

Pernyataan tersebut sontak menambah panas suasana dan memperlebar perdebatan di kalangan warganet.

Sebagian pihak menilai komentar sang sutradara sebagai bentuk pembelaan diri atas laporan yang masuk ke kepolisian.

Namun, ada juga yang melihatnya sebagai respons emosional terhadap tekanan publik yang terus berkembang.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian dan terus ditunggu perkembangan resmi dari pihak berwenang.

Baca juga: Akhir Pelarian Pasutri Kasus WO Marwah, Berhasil Diringkus di Bandung Barat, Gelapkan Uang Rp 2,6 M

Seperti diketahui, Sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono menanggapi aksi Mama Sinta lapor ke polisi perihal film Pesta Babi. 

Dandhy mengatakan bahwa publik memiliki hak untuk mengetahui masalah yang tengah terjadi di tanah Papua melalui film Pesta Babi. 

Diwartakan sebelumnya, Mama Sinta melaporkan Ketua LBH Merauke, Johnny Teddy Wakum terkait film pesta babi. 

Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026. 

Johnny dilaporkan dengan Pasal 65 juncto Pasal 67 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, terkait dugaan penyalahgunaan data pribadi.

Mama Sinta mengaku film Pesta Babi yang melibatkan dirinya diputar dan dipublikasikan tanpa izin.

“Mereka putar film Pesta Babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali! Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka! Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati!” tegas Sinta dalam kesempatan yang sama.

Terkait dengan laporan tersebut, Dandhy buka suara.

VIRAL FILM PESTA BABI: Mama Sinta tampak menyambangi Mapolda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026) sore setelah viral menolak penayangan Film Pesta Babi. ((Ist)/kolase Instagram)

"Kami hormati pilihan Mama Yasinta. Sebagaimana kami menghormati hak setiap orang untuk tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Papua," ucap Dandhy dalam keterangannya kepada Kompas.com, Sabtu (30/5/2026). 

Dia juga menyoroti tak adanya perhatian saat lahan-lahan tanah adat di Papua tengah menghadapi permasalahan. 

Dia menyindir keras pihak-pihak yang tiba-tiba memfasilitasi pelaporan ke Jakarta, padahal sebelumnya tak pernah hadir saat masyarakat adat, termasuk Mama Sinta menghadapi masalah perampasan lahan. 

"Waktu tanah ulayatnya diambil tanpa izin, mereka tak datang menjemput dan mengantarnya ke Jakarta untuk lapor polisi," tegas Dandhy. 

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa pihak yang mendampingi dan membela hak masyarakat adat adalah pengacara muda yang bekerja secara sukarela tanpa bayaran. 

"Yang datang adalah anak-anak adat yang jadi pengacara pro bono karena solidaritas dan ingin ikut melindungi tanah moyangnya," lanjutnya. 

Minta Publik Tak Menghakimi 

Mewakili tim kolaborator produksi film Pesta Babi, Dandhy menegaskan bahwa pihak pembuat film sama sekali tidak berniat menyudutkan Mama Sinta meski telah membuat laporan ke Polda Metro Jaya. 

Tim kolaborasi justru meminta agar masyarakat luas tidak memberikan stigma negatif atau menyebarkan kebencian kepada Mama Sinta atas keputusan yang diambilnya. 

"Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini dan meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini," ujar Dandhy. 

Sikap saling menghormati ini, kata Dandhy, tidak lepas dari rekam jejak Mama Sinta yang selama ini berada di barisan depan dalam membela masyarakat adat. 

Bahkan, kata Dandhy, Mama Sinta adalah sosok tokoh perempuan adat Malind yang sudah lama berjuang untuk masyarakat adat, jauh sebelum proses pembuatan film dokumenter tersebut. 

Namun, Dandhy mengakui bahwa tim produksi saat ini menemui jalan buntu karena komunikasi dengan Mama Sinta terputus sejak perilisan film ke publik. 

"Setelah videonya beredar pada Sabtu malam, 23 Mei lalu, hingga mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya pada Jumat, 29 Mei, Mama Yasinta belum dapat dihubungi atau ditemui langsung. Kami terus berusaha membangun komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya," jelasnya. 

Dandhy pun berharap polemik ini tidak mengaburkan perhatian publik dari substansi masalah yang sesungguhnya di Tanah Papua yang diangkat dalam film Pesta Babi. 

"Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari kita melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di Tanah Papua," tutup Dandhy.

(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.