TRIBUNNEWS.COM - Paris Saint-Germain (PSG) berhasil back to back juara Liga Champions 2025/2026 setelah mengalahkan Arsenal lewat adu penalti yang dramatis di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, Minggu (31/5/2026) dini hari WIB.
Meski Les Parisiens keluar sebagai pemenang, laga final ini diwarnai setidaknya tiga keputusan kontroversial dari wasit Daniel Siebert asal Jerman.
Bahkan beberapa keputusannya memicu perdebatan besar di kalangan pecinta sepak bola.
Pertandingan berakhir dengan skor 1-1 di waktu normal dan extra time, sebelum PSG menang 4-3 di babak tos-tosan.
Namun, sorotan tak hanya tertuju pada kemenangan PSG, melainkan juga pada sejumlah insiden yang dianggap merugikan salah satu kubu.
Berikut ulasan tiga kontroversi utama yang menggemparkan final Liga Champions kali ini.
Kontroversi pertama muncul di babak pertama ketika Bukayo Saka berusaha membersihkan bola dari dalam kotak penalti Arsenal.
Dalam upaya menghalau bola, tembakan Saka justru mengenai tangannya sendiri.
Pemain-pemain PSG langsung bereaksi hebat, mengangkat tangan meminta penalti kepada wasit Daniel Siebert.
Namun, pengadil asal Jerman itu tidak menunjuk titik putih.
Siebert dinilai melihat bola lebih dulu mengenai bagian tubuh lain Saka sebelum menyentuh lengan.
Keputusan ini menuai protes keras dari kubu PSG yang merasa dirugikan.
Banyak pengamat menilai kejadian tersebut seharusnya menjadi penalti karena handball yang tidak disengaja tetap bisa dihukum di dalam kotak 16.
Insiden kedua terjadi saat PSG mendapatkan hadiah penalti yang kemudian dieksekusi sempurna oleh Ousmane Dembele.
Cristhian Mosquera dinilai melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di dalam kotak penalti Arsenal.
Kontroversi muncul dari dua sisi.
Pertama, banyak yang mempertanyakan apakah kontak tersebut cukup keras untuk menjadi penalti.
Kedua, wasit Siebert tidak memberikan kartu kuning kedua kepada Mosquera, padahal bek asal Spanyol itu sudah mendapat kartu kuning di awal babak kedua.
Jika diberi kartu merah, Arsenal harus bermain dengan 10 orang.
Keputusan ini dianggap terlalu lunak dan memicu amarah suporter The Gunners.
Baca juga: Daftar 5 Pelatih dengan Trofi Liga Champions Terbanyak: Luis Enrique Samai Guardiola dan Zidane
Momen paling dramatis terjadi menjelang akhir babak pertama extra time.
Noni Madueke berduel ketat dengan Nuno Mendes di dalam kotak penalti PSG.
Madueke kemudian jatuh setelah benturan badan dengan bek kiri PSG tersebut.
Arsenal langsung menuntut penalti, namun Daniel Siebert tegas menyatakan tidak ada pelanggaran.
Bahkan, kapten Arsenal Declan Rice dan pelatih Mikel Arteta yang protes keras langsung mendapat kartu kuning.
Keputusan ini menuai tudingan bahwa wasit tidak konsisten sepanjang laga.
Meski penuh kontroversi, kemenangan PSG melalui adu penalti tetap menjadi sorotan utama.
Luis Enrique sukses membawa timnya meraih back-to-back title Liga Champions, sementara Arsenal harus menelan pil pahit lagi di final.
Final kali ini kembali membuktikan bahwa sepak bola modern tak pernah lepas dari drama wasit dan VAR.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)