BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Inovasi cerdas dan ramah lingkungan ditunjukkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Kamboja Putih Mantewe dalam mengolah produk Ekstrak Jahe Merah di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan
Kelompok usaha ini sukses menerapkan sistem nihil limbah (zero waste) dengan menyulap ampas jahe sisa pemerasan menjadi produk baru yang bernilai ekonomis.
Proses ekstraksi sari jahe yang masih dilakukan secara manual memang menyisakan ampas dalam jumlah yang cukup besar, namun, alih-alih membuangnya begitu saja ke tempat pembuangan sampah, tim produksi memilih untuk mengolah kembali sisa bahan baku tersebut karena dinilai masih memiliki kandungan rasa hangat yang pekat.
Ketua UMKM KWT Kamboja Putih Mantewe, Rina, membenarkan bahwa pemanfaatan ampas jahe ini menjadi salah satu langkah taktis mereka dalam menjaga efisiensi usaha sekaligus kelestarian lingkungan di sekitar tempat produksi.
Baca juga: UMKM Kalsel- Dari Pandemi Covid 19, Pelaku UMKM di Mantewe Tanahbumbu Hasilkan Produk Ekstrak Jahe
"Ampas jahe sisa produksi, karena kandungan panasnya masih cukup tinggi, kami produksi kembali untuk menjadi bubuk jahe tanpa gula. Bubuk jahe tersebut kami gunakan untuk bumbu rempah campuran kopi, dan sebagian lagi digunakan untuk campuran pakan ternak warga," ujar Rina saat dikonfirmasi, Minggu (31/5/2026).
Melalui anggota nya Sri Sunanik membeberkan bahwa sebelum menghasilkan ampas siap olah tersebut, bahan baku harus melewati rantai produksi yang cukup panjang dan memakan waktu sekitar 7 jam untuk satu kali siklus produksi.
Proses dimulai dengan menyortir jahe merah segar berusia tanam di atas 8 bulan, lalu dibersihkan dari tanah dan kulit arinya hingga benar-benar higienis menggunakan peralatan khusus yang terpisah dari alat rumah tangga.
Setelah bersih, jahe merah diblender sampai halus dan diperas manual menggunakan air bersih untuk diambil sari murninya. Air perasan inilah yang kemudian dituang ke wajan pengaduk untuk dimasak dengan api sedang bersama tambahan rempah cengkeh dan gula berkualitas premium selama kurang lebih 2 hingga 3 jam sampai airnya menyusut.
Saat sari jahe mulai mengkristal menjadi bubuk, api dikecilkan secara maksimal dan adukan dipercepat hingga kadar air benar-benar kering sempurna.
Setelah dingin, bubuk jahe diayak dan bagian yang masih menggumpal akan digiling ulang menggunakan mesin grinder sebelum dimasukkan ke dalam wadah kedap udara. Dari proses inilah ampas jahe pekat kemudian dipisahkan dan diselamatkan untuk diolah lagi menjadi produk sekunder.
Langkah kreatif pemanfaatan ampas sisa ini terbukti efektif dalam memangkas kerugian material, hal ini menjadi kunci penting mengingat di awal merintis bisnis pada masa pandemi Covid-19 lalu, KWT Kamboja Putih sempat mengalami jatuh bangun dan rugi bandar akibat gagal melakukan trial and error formula hingga lebih dari 10 kali.
Kini, berkat manajemen produksi yang rapi dan tanpa limbah tersebut, KWT Kamboja Putih mampu mempertahankan harga jual produk yang sangat ramah di kantong, yakni Rp15.000 per pouch berukuran 100 gram untuk seluruh varian rasa.
Efisiensi zero waste ini juga membantu mereka memaksimalkan keuntungan sehingga mampu menyerap hasil panen dari hampir seluruh petani jahe di Mantewe dan membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu sekitar, meskipun saat ini operasional produksi masih dijalankan secara mandiri oleh 4 orang tenaga lokal.
(Banjarmasinpost.co.id/Nuhammad Fikri Syahrin)