Mengenal Gua Selomangleng Kediri, Jejak Pertapaan Dewi Kilisuci Putri Cantik Raja Airlangga
Mujib Anwar May 31, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Kota Kediri tidak hanya dikenal sebagai kota bersejarah peninggalan kerajaan kuno, tetapi juga menyimpan sejumlah situs yang sarat legenda dan nilai budaya.

Salah satu peninggalan bersejarah tersebut adalah Gua Selomangleng yang berada di kawasan lereng Gunung Klotok, Kota Kediri.

Gua Selomangleng dikenal sebagai situs pertapaan legendaris Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga yang memilih meninggalkan kehidupan istana dan menepi dari urusan duniawi.

Kisah tersebut membuat gua ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang masih terasa hingga sekarang.

Selain menyimpan cerita sejarah panjang, Gua Selomangleng juga menawarkan panorama alam dan relief kuno yang menarik perhatian wisatawan maupun peneliti sejarah.

Lokasi dan Asal-Usul Nama Gua Selomangleng

Gua Selomangleng di lereng Gunung Klotok, Kota Kediri, Jawa Timur, di duga merupakan tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga.
Gua Selomangleng di lereng Gunung Klotok, Kota Kediri, Jawa Timur, di duga merupakan tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga. (Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya)

Gua Selomangleng berada di kawasan barat Kota Kediri, tepatnya di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.

Lokasi gua berada di lereng bukit dengan akses jalan yang cukup mudah dijangkau dari pusat Kota Kediri.

Kawasan wisata ini juga berdekatan dengan Universitas Kadiri dan SMA Negeri 5 Kota Kediri.

Nama Selomangleng sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni “selo” yang berarti batu dan “mangleng” yang berarti miring.

Nama tersebut merujuk pada posisi batu besar pembentuk gua yang tampak miring di lereng bukit.

Dilansir dari laman resmi Kelurahan Pojok Kota Kediri, lokasi gua berada sekitar 40 meter di atas permukaan tanah terendah di kawasan tersebut.

Baca juga: Sejarah Candi Meja di Tulungagung, Situs Unik Altar Batu Tempat Bertapa di Kawasan Goa Selomangleng

Diduga Berasal dari Masa Kerajaan Kahuripan

Sementara mengutip dari travel.kompas.com, Gua Selomangleng diduga merupakan peninggalan masa Kerajaan Kahuripan pada era pemerintahan Raja Airlangga.

Kerajaan Kahuripan sendiri dikenal sebagai salah satu kerajaan besar di Jawa Timur sebelum kemudian terbagi menjadi Kerajaan Panjalu atau Kediri dan Kerajaan Jenggala.

Dalam kisah sejarah yang berkembang di masyarakat, Raja Airlangga memiliki putri bernama Sanggramawijaya Tunggadewi.

Putri tersebut disebut sebagai calon pewaris takhta kerajaan.

Namun, Sanggramawijaya Tunggadewi memilih meninggalkan kehidupan istana dan menjalani pertapaan di Gua Selomangleng.

Setelah menjadi pertapa, ia dikenal dengan nama Dewi Kilisuci.

Keputusan Dewi Kilisuci untuk tidak menerima takhta kemudian membuat Raja Airlangga membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua kerajaan, yakni Panjalu dan Jenggala.

Baca juga: Jelajahi 5 Wisata Religi di Blitar, Ada yang Mirip Masjid Nabawi, Gua Maria hingga Makam Syaikh Abu

Kisah Legenda Dewi Kilisuci

Selain kisah sejarah kerajaan, Gua Selomangleng juga lekat dengan legenda yang berkembang di masyarakat Kediri.

Dinukil dari kedirikota.go.id, Dewi Kilisuci dikenal sebagai putri cantik yang banyak dipinang para ksatria.

Salah satu kisah terkenal adalah legenda Lembu Suro dan Mahesa Sura dari Goa Kisondo, Jawa Tengah, yang ingin mempersunting sang putri.

Namun, pinangan tersebut berakhir tragis setelah keduanya disebut tewas akibat tipu daya sang putri dan tertimbun di kawasan Gunung Kelud.

Tak lama kemudian, datang pula seorang ksatria dari Ponorogo yang ingin melamar Dewi Kilisuci.

Sang putri kembali memberikan syarat yang sangat sulit dipenuhi, yakni membawa hewan berkepala dua dan tujuh pasang kuda kembar.

Meski syarat tersebut berhasil dipenuhi, rombongan ksatria tersebut kemudian disebut diserang dan dibunuh di tengah perjalanan.

Konon, sebagian masyarakat kemudian mempercayai kisah tersebut berkaitan dengan asal-usul kesenian Reog Ponorogo.

Rasa bersalah dan penyesalan yang terus menghantui atas berbagai peristiwa itu akhirnya membuat Dewi Kilisuci memilih hidup menyepi dan bertapa di Gua Selomangleng.

Baca juga: Sejarah Candi Deres di Jember, Kompleks Mandala Hindu Saksi Perjalanan Raja Majapahit Hayam Wuruk

Arsitektur Gua dan Relief Kuno

Suasana bagian dalam Gua Selomangleng yang dipenuhi relief kuno pada dinding batu andesit, serta terdapat perlengkapan ritual seperti dupa dan kelapa muda.
Suasana bagian dalam Gua Selomangleng yang dipenuhi relief kuno pada dinding batu andesit, serta terdapat perlengkapan ritual seperti dupa dan kelapa muda. (Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya)

Secara fisik, Gua Selomangleng memiliki bentuk yang cukup unik karena dipahat langsung dari batu andesit hitam berukuran besar yang tampak mencolok dari kejauhan.

Menurut sejumlah sumber sejarah, gua ini diduga merupakan tempat ibadah sekaligus pertapaan pada masa kuno.

Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya dua relief Buddha di dalam gua yang menunjukkan pengaruh ajaran Buddha pada masa lampau.

Sepintas bangunan gua tampak sederhana, namun ketika mendekati pintu masuk, pengunjung dapat menemukan berbagai pahatan batu dan relief yang menandakan bahwa situs ini pernah digunakan manusia pada era kuno.

Bangunan gua memiliki tiga ruangan dengan berbagai relief yang menghiasi dinding bagian luar maupun dalam.

Pada ruangan sebelah kiri terdapat relief kepala naga, relief Buddha, relief keluarga bangsawan, gambaran istana, hutan, sungai, hingga relief tengkorak dan manusia.

Untuk memasuki bagian terdalam ruangan kiri, pengunjung harus sedikit merangkak karena ukuran pintunya cukup kecil.

Kondisi ruangan tersebut juga gelap karena minim penerangan.

Selain itu, di bagian langit-langit ruangan terdapat relief Buddha yang baru terlihat jelas ketika disorot cahaya.

Sementara di sisi kanan terdapat pahatan kala kirtimukha di bagian atas pintu masuk, motif yang umum ditemukan pada bangunan candi di Jawa kuno.

Di dalam ruangan sebelah kanan juga terdapat altar dengan padmasana yang diduga pernah digunakan sebagai tempat meletakkan arca.

Berbeda dengan gua alam pada umumnya, Gua Selomangleng tidak memiliki stalaktit maupun stalagmit.

Hal tersebut karena seluruh bagian gua dipahat langsung dari batu andesit sehingga bersifat lebih kedap air.

Baca juga: Candi Wonorejo Madiun, Jejak Pemujaan Hindu dengan Lingga Yoni yang Masih Utuh

Pernah Digunakan sebagai Pemakaman Terbuka

Relief-relief yang terdapat di Gua Selomangleng juga menarik perhatian para arkeolog dan pemerhati sejarah.

Dilkutip dari jatim.tribunnews.com, arkeolog Dwi Cahyono menafsirkan bahwa Gua Selomangleng merupakan gua buatan manusia yang dahulu digunakan sebagai tempat pertapaan.

Menurutnya, beberapa relief yang ada di dinding gua menunjukkan kemungkinan bahwa kawasan sekitar Gua Selomangleng pernah digunakan sebagai lokasi pemakaman terbuka atau open burial pada masa lampau.

Dugaan tersebut muncul karena adanya relief tengkorak dan tubuh manusia yang tinggal kerangka pada bagian dada.

Penjelasan tersebut disampaikan Dwi Cahyono dalam Kajian Koleksi Museum Airlangga Kota Kediri yang digelar di Kantor Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Kediri pada 28 November 2020.

Ia menduga model pemakaman tersebut kemungkinan menyerupai tradisi pemakaman terbuka yang hingga kini masih ditemukan di kawasan Trunyan, Bali.

Selain itu, Dwi Cahyono juga menyebut terdapat relief berupa anagram angka tahun 1353 Saka atau sekitar 1431 Masehi.

Namun ada pula penafsiran lain yang menyebut gua tersebut dibuat pada tahun 988 Saka.

Menurut Dwi Cahyono, relief-relief pada Gua Selomangleng dipahat di atas batu breksi vulkanik yang sangat keras, bahkan disebut lebih keras dibanding batu andesit.

Baca juga: Candi Wringin Branjang, Jejak Pos Jaga Kerajaan Majapahit di Blitar

Masih Digunakan untuk Ritual dan Tirakat

Selain menjadi destinasi wisata sejarah, Gua Selomangleng hingga kini juga masih digunakan untuk kegiatan spiritual seperti ritual, meditasi, dan tirakat.

Sejumlah pengunjung masih datang untuk melakukan ritual maupun tirakat di kawasan gua.

Suasana mistis juga terasa kuat karena lokasi gua berada di tengah pepohonan rindang dengan akar-akar besar yang membelit, serta batu andesit besar di sekitar kawasan

Di bagian depan kawasan gua terdapat patung Dwarapala yang dipercaya masyarakat sebagai penjaga tempat suci.

Sementara dilansir dari kedirikota.go.id, menurut cerita warga setempat, orang yang memiliki niat jahat disebut tidak akan mampu memasuki area suci tersebut.

Baca juga: Sejarah Candi Belahan di Pasuruan, Petirtaan Kuno dengan Pancuran Air dari Payudara Arca Dewi Laksmi

Destinasi Wisata Sejarah di Kediri

Kini, kawasan Gua Selomangleng berkembang menjadi salah satu objek wisata sejarah dan budaya di Kota Kediri.

Selain menikmati situs gua, pengunjung juga dapat mengunjungi Museum Airlangga yang berada tidak jauh dari lokasi.

Museum tersebut menyimpan berbagai koleksi benda purbakala, arca, dan peninggalan kerajaan-kerajaan kuno di wilayah Kediri.

Di kawasan wisata juga terdapat pura yang hingga kini masih digunakan umat Hindu sebagai tempat ibadah.

Tak hanya wisata sejarah, pengunjung juga dapat menikmati panorama alam dengan naik ke Bukit Maskumambang maupun Gunung Klotok yang berada di sekitar kawasan wisata.

Selain itu, tersedia berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir, warung makan, mushalla, toko suvenir, arena bermain, hingga kolam renang.

Baca juga: Sejarah Candi Gunung Telih Malang, Peninggalan Singhasari yang Tersembunyi di Hutan Gunung Arjuno

Ancaman terhadap Kelestarian Situs

Meski menjadi salah satu situs bersejarah penting di Kediri, keberadaan Gua Selomangleng dinilai masih memerlukan perhatian lebih dalam hal pelestarian.

Sejumlah pihak menilai belum ada upaya maksimal untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nilai sejarah situs tersebut sehingga pelestarian belum berjalan optimal.

Keberadaan fasilitas hiburan modern di sekitar kawasan juga dianggap berpotensi mengurangi nilai historis dan keaslian situs apabila tidak dikelola dengan baik.

Selain itu, beberapa bagian patung yang rusak disebut pernah ditambal menggunakan semen secara kurang tepat.

Padahal, Gua Selomangleng merupakan salah satu peninggalan penting yang menjadi saksi perkembangan budaya dan spiritual masyarakat Jawa Timur pada masa lampau.

Karena itu, pelestarian Gua Selomangleng dinilai penting agar situs sejarah tersebut tetap terjaga dan dapat menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.