Harga Singkong Meroket, Sejumlah Industri Tape di Bondowoso Kurangi Produksi
Luky Setiyawan May 31, 2026 08:55 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BONDOWOSO - Sebulan terakhir harga singkong naik tajam, dari 2.000 rupiah menjadi 4.500 rupiah per kilogram. 

Kenaikan ini diperkirakan dipicu oleh semakin menyusutnya lahan pertanian singkong akibat para petani beralih menanam tebu, jagung, sengon, dan kedelai.

Sementara itu, jumlah pengusaha tape di Bondowoso justru kian menjamur. 

Imbasnya, kenaikan harga dan sulitnya mencari bahan baku singkong ini berdampak langsung terhadap produksi tape di Bondowoso.

Khususnya, bagi para pengusaha yang berada di Sentra Industri Tape di Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal. 

Baca juga: Razia Lapas Bondowoso Sita 35 Benda Berbahaya, Overkapasitas Lapas di Jatim Tembus 200 Persen

Koordinator Pengusaha Tape di Sentra Tape Binakal, Rahmatullah, menjelaskan bahwa dari total 138 pengusaha tape di wilayahnya, sekitar 60 persen di antaranya telah mengurangi volume produksi, bahkan ada yang terpaksa berhenti beroperasi.

Langkah pengurangan produksi ini juga dilakukan oleh dirinya sendiri. 

Rahmatullah yang biasanya memproduksi 1 ton singkong setiap dua hari sekali, kini hanya mampu mengolah 5 kuintal saja. 

"Penyebab utamanya karena bahan baku kurang, akhirnya harganya naik. Sedangkan uang modal masih mandek di pelanggan. Kami tidak bisa dikirimi singkong kalau belum bayar tunai," jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (31/5/2026). 

Ia menjelaskan, selama ini para pengusaha lokal selalu mengandalkan singkong asli Bondowoso karena kualitasnya yang jauh lebih baik saat diolah menjadi tape. 

Jika menggunakan singkong dari luar kota, harganya memang lebih murah. Namun, kualitas hasil tapenya kurang bagus karena kadar airnya terlalu tinggi.

Selain itu, singkong luar kota biasanya hanya unggul di ukuran yang besar saja. 

"Di Bondowoso itu biasanya kami beli di Tamanan. Di seluruh daerah Bondowoso sebetulnya singkongnya bagus, tapi memang ada kelas-kelasnya," ujarnya. 

Hal senada disampaikan oleh Masturi, pemilik usaha Tape 67 di daerah yang sama.  

Ia mengaku sudah sebulan terakhir mengurangi volume produksi yang biasanya mencapai 2 ton singkong per minggu, kini menyusut drastis menjadi hanya 2 sampai 3 kuintal karena kelangkaan bahan baku. 

"Sementara itu, omzet penjualan juga menurun. Mau dinaikkan dari harga Rp12 ribu per kilogram, pembelinya tidak mau," jelasnya. 

Para pengusaha pun berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi, khususnya bantuan permodalan dan penyediaan lahan khusus untuk penanaman singkong. 

"Pertama bantuan permodalan, dan kedua adalah ketersediaan lahan untuk ditanami singkong," pungkasnya. 

Baca juga: Mutasi Besar di Polres Bondowoso, Sejumlah Pejabat Utama dan Kapolsek Berganti

(Sinca Ari Pangistu/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.