Sentil Prabowo Soal Logika 'Rakyat Desa Gak Pakai Dolar', Ini Sosok Djarot Saiful Politisi PDIP
Putra Dewangga Candra Seta June 01, 2026 11:04 AM

 

SURYA.co.id – Ini lah sosok Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP PDIP yang menyentil logika Presiden Prabowo Subianto terkait ucapannya menyebut rakyat di desa tak pakai dolar.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak terdampak langsung oleh kenaikan nilai tukar dolar AS menuai tanggapan dari Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat.

Menurut Djarot, meski warga desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari, dampak pelemahan rupiah tetap dirasakan melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan bahan baku impor.

Ia menilai hubungan antara kurs dolar dan kehidupan masyarakat tidak bisa dilihat secara sederhana.

Ketika nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.800 per dolar AS, biaya impor ikut meningkat dan berimbas pada harga barang yang dikonsumsi masyarakat luas.

Salah satu contoh yang disorot Djarot adalah kenaikan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi tahu dan tempe.

"Kalau rakyat desa nggak terdampak langsung ya, karena dia tidak menggunakan dolar, iyalah. Tapi harga-harga lihat, melambung tinggi sekarang ini. Misalnya contoh ya, ini pengusaha tahu dan tempe itu menjerit karena harga kedelai itu naik ya. Kalau misalnya terus-terusan seperti ini bisa tutup itu," kata Djarot usai acara pembekalan dan bimbingan teknis (bimtek) bagi ribuan anggota fraksi PDIP DPRD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota dari seluruh Indonesia, di kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara, Sabtu (30/5/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Harga Kebutuhan Pokok Dinilai Jadi Bukti

Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Syaiful Hidayat di Kantor DPD PDIP Jatim, Surabaya, Sabtu (4/2/2023) malam.
Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Syaiful Hidayat di Kantor DPD PDIP Jatim, Surabaya, Sabtu (4/2/2023) malam. (SURYA.CO.ID/Yusron Naufal Putra)

Djarot menegaskan bahwa dampak kenaikan dolar tidak hanya dirasakan pelaku usaha yang berhubungan langsung dengan perdagangan internasional.

Menurutnya, efek berantai atau domino akan menjangkau berbagai lapisan masyarakat melalui kenaikan harga barang.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat masyarakat desa tetap terkena dampak meski tidak pernah bertransaksi menggunakan mata uang asing.

"Jadi artinya harga dolar naik itu sangat berpengaruh kepada kenaikan harga kebutuhan pokok rakyat. Jadi secara tidak langsung rakyat desa pasti terdampak, Anda terdampak, kita semuanya terdampak gitu loh ya," jelas dia.

Djarot juga meminta agar Presiden Prabowo memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai maksud dari pernyataannya terkait hubungan kurs dolar dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

"Jadi ya biar presiden lah bisa menjelaskan apa maknanya dolar naik rakyat desa tidak terdampak ya," paparnya.

Prabowo: Warga Desa Tidak Bertransaksi dengan Dolar

BELI SAPI - Presiden Prabowo Subianto menyalurkan 1.098 sapi kurban untuk Idul Adha 2026 menggunakan dana APBN. MUI menyebut kebijakan tersebut sah secara syariat dan berdampak positif bagi peternak lokal.
BELI SAPI - Presiden Prabowo Subianto menyalurkan 1.098 sapi kurban untuk Idul Adha 2026 menggunakan dana APBN. MUI menyebut kebijakan tersebut sah secara syariat dan berdampak positif bagi peternak lokal. (tangkap layar/Tribunnews.com)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menanggapi kekhawatiran publik terkait pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Saat menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo meminta masyarakat dan jajaran pemerintah tetap tenang karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.

Dalam kesempatan itu, Prabowo sempat berkelakar mengenai kondisi ekonomi dan pergerakan kurs dolar.

"Purbaya sekarang populer banget Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kau khawatir itu," seloroh Presiden Prabowo saat menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Prabowo kemudian menyampaikan pandangannya bahwa aktivitas ekonomi masyarakat desa tidak secara langsung bergantung pada dolar AS.

"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, bener enggak? Yang pusing ya yang itu, yang suka ke luar negeri, ayo siapa ini?" lanjut Presiden Prabowo.

Baca juga: Alasan Menkeu Purbaya Sebut Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS Tembus Rp 17.800 Gak Masuk Akal

Prabowo Yakin Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Meski kurs dolar menjadi perhatian publik, Prabowo menegaskan keyakinannya terhadap ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global.

Menurutnya, Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat dan perlu terus memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.

"Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, ya mau apa ya, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat," tegas Prabowo.

Sosok Djarot Saiful

Djarot lahir di Magelang, Jawa Tengah pada 6 Juli 1962. 

Sebelum terjun di dunia politik, ia sempat menempuh pendidikan di Universitas Gajah Mada pada tahun 1991.

Ia mulai terjun ke dunia politik sejak tahun 2000-an.

Pertama kali ia terjun ke dunia politik, dia memegang jabatan sebagai Wali Kota Blitar tahun 2000 sampai 2010.

Di tahun 2014, ia lanjut menjabat sebagai Wakil Gubernur di Provinsi DKI Jakarta.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa ia juga sempat menggantikan posisi Ahok sebagai Gubernur di DKI Jakarta pada 2017.

Djarot Saiful Hidayat sempat mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara periode 2018–2023 pada berpasangan dengan Sihar P. H. Sitorus.

Namun, Djarot dan Sihar gagal memenangkan kontestasi tersebut. 

Djarot Saiful Hidayat lalu berhasil lolos ke Senayan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia periode 2019–2024, fraksi PDI Perjuangan, dari daerah pemilihan (Dapil) Sumatera Utara III.

Sebelum terjun ke dunia politik, ternyata Djarot sempat berprofesi sebagai pendidik.

Ia dulunya pernah menjadi dosen di sebuah Universitas di Surabaya, hingga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas.

Pengalaman berorganisasi juga membawanya bisa sejauh ini terjun ke dunia politik.

Dulu ia tergabung dalam organisasi DPC GMNI Brawijaya, sebagai Ketua di tahun 1981 - 1986.

Riwayat Pendidikan

- Administrasi Negara, Universitas Gajah Mada. Tahun: 1991

- Administrasi Negara, Universitas Brawijaya. Tahun: 1981 - 1986

- SMA TNH Mojokerto. Tahun: 1997 - 1981

- SMP 4 Surabaya. Tahun: 1974 - 1977

- SD Raden Saleh Surabaya. Tahun: 1968 - 1974

Pengalaman Organisasi

- PA GMNI Jawa Timur, Sebagai: Ketua. Tahun: 2010 - 2015

- Apeksi, Sebagai: Ketua. Tahun: 2005 - 2010

- DPC GMNI Brawijaya, Sebagai: Ketua. Tahun: 1981 - 1986

Jejak Karier

- PLT Gubernur Provinsi DKI Jakarta Tahun: 2017 - 2017

-  Gubernur Provinsi DKI Jakarta Tahun: 2017 - 2017

-  Anggota Komisi DPR RI Tahun: 2014 - 2014

- Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Tahun: 2014 - 2017

- Walikota Kota Blitar Tahun: 2000 - 2010

- Pembantu Rektor 1 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tahun: 1999 - 2000

- Dekan FIA Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tahun: 1991 - 1997

- Pembantu Dekan 1 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tahun: 1989 - 1991

- Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tahun: 1986.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.