Persib Bandung mendapatkan sorotan tajam setelah dijatuhi sanksi registration ban oleh FIFA. Sanksi ini berkaitan dengan permasalahan kompensasi mantan pemain mereka, Daisuke Sato. Seperti dilaporkan oleh Bola, hukuman tersebut sempat memicu kekhawatiran di kalangan pendukung klub, Bobotoh, karena dinilai dapat mengganggu aktivitas transfer pemain.
Manajemen Persib Bandung menegaskan bahwa persoalan ini bukanlah masalah baru yang datang secara mendadak. Pihak klub mengklaim telah memantau dan mengikuti dinamika kasus ini sejak Daisuke Sato berpisah dengan tim pada pertengahan musim kompetisi 2023/2024.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menerangkan bahwa seluruh rangkaian proses hukum telah dipahami sejak awal oleh manajemen. Hal itu membuat pihak klub tetap tenang saat keputusan final mengenai nilai kompensasi resmi dikeluarkan.
Menurut Adhitia Putra Herawan, situasi yang berkembang saat ini merupakan bagian dari prosedur hukum yang lumrah. Manajemen harus melewati tahapan tersebut demi memperoleh angka pasti mengenai kompensasi yang wajib diserahkan kepada pesepak bola asal Filipina tersebut.
Sengketa ini bermula ketika Persib Bandung merombak komposisi pemain asing mereka pada bursa transfer paruh musim 2023/2024. Pelatih Bojan Hodak saat itu memilih untuk melepas Daisuke Sato demi mendaftarkan penjaga gawang baru, Kevin Mendoza.
Langkah pencoretan tersebut diambil murni atas dasar strategi dan kebutuhan teknis tim di lapangan. Kendati demikian, pelepasan ini memicu konsekuensi hukum karena masa kontrak Daisuke Sato bersama Maung Bandung sebenarnya masih tersisa hingga tahun 2025.
"Sato diganti di pertengahan musim 2023/2024 ketika Bojan masuk. Secara efektivitas juga kita bersyukur karena pergantian itu cukup berhasil, akhirnya kita juara di musim itu," ujar Adhitia.
Perubahan komposisi pemain tersebut memang memberikan dampak positif terhadap prestasi klub yang sukses mengakhiri musim sebagai juara Liga 1. Namun, di sisi lain, Persib Bandung berkewajiban menyelesaikan hak kontraktual Sato yang dilepas di tengah jalan.
Pasca-kepergian Daisuke Sato, manajemen Persib Bandung memilih untuk membawa persoalan perselisihan nilai kompensasi ini ke Court of Arbitration for Sport (CAS). Langkah ini ditempuh agar klub memperoleh rincian nominal yang berkepastian hukum untuk dibayarkan.
Adhitia Putra Herawan menambahkan bahwa regulasi FIFA menetapkan formulasi khusus dalam menghitung kompensasi pemutusan kontrak sepihak. Salah satu variabel penting yang dihitung adalah besaran pendapatan sang pemain di klub barunya.
"Peraturan FIFA itu ketika seorang pemain keluar dari sebuah klub, di-terminate dengan sisa kontrak dua tahun, kemudian setelah di-terminate dia bekerja di klub lain, ketika gaji di klub lainnya lebih besar dibanding gaji dia di Persib, itu sudah selesai kasusnya," ujar Adhitia.
"Tapi kalau gajinya lebih kecil, nah selisih gaji itu yang harus dicek berapa dispute-nya. Makanya prosesnya membutuhkan waktu cukup panjang selama beberapa bulan," lanjutnya.
Proses verifikasi di CAS berjalan mendalam dengan memeriksa seluruh komponen finansial di dalam kontrak kerja sang pemain. Pemeriksaan tidak hanya menyasar gaji pokok, melainkan juga tunjangan, uang harian atau per diem, hingga aspek-aspek penunjang lainnya.
"Akhirnya waktu itu berjalan berbulan-bulan. CAS mengecek dulu apakah benar gajinya segini, apakah ada per diem, ada pesangon dan lain-lain. Pokoknya dicek semuanya."
"Akhirnya baru keluar sekitar dua bulan lalu. Ternyata kita mendapatkan pengurangan. Seingat saya sebelumnya sekitar Rp3,03 miIiar, setelah ke CAS turun menjadi sekitar Rp2,7 miIiar," jelasnya.
Pihak manajemen menyatakan bahwa terbitnya sanksi dari FIFA ini tidak mengejutkan internal klub. Persib Bandung telah mengalkulasi adanya kewajiban finansial yang mesti dituntaskan segera setelah proses persidangan di CAS membuahkan hasil.
Adhitia Putra Herawan meluruskan anggapan publik agar kasus ini tidak dicap sebagai kelalaian manajemen dalam memenuhi hak atlet. Persib Bandung hanya menunda pembayaran karena menunggu ketetapan angka riil dari otoritas berwenang.
"Jadi memang ini proses berjalan yang memang kita lalui. Bukan sesuatu yang membuat kita kaget. Kita sudah tahu."
"Memang jatuh temponya kemarin, tapi kita juga tidak terlalu khawatir. Kita pasti selesaikan. Cuma kita juga butuh tahu angka detailnya berapa. Setelah semuanya jelas, pasti akan kita selesaikan sesegera mungkin," tegas Adhitia.
Sikap tersebut menegaskan komitmen Persib Bandung untuk melunasi seluruh kewajiban sesuai regulasi yang berlaku. Langkah cepat ini diambil agar sanksi tersebut tidak mengganggu operasional serta persiapan tim ke depan.
Dalam pemaparannya, Adhitia Putra Herawan turut membandingkan kasus Sato dengan situasi William Marcilio pada musim ini yang mengalami pemutusan kerja sama. Proses perpisahan dengan William berjalan jauh lebih mulus karena didasari kesepakatan bersama.
Persib Bandung dan William Marcilio memilih jalan perundingan tanpa perlu membawa permasalahan tersebut ke ranah sengketa hukum atau arbitrase internasional.
"Kalau kalian ingat, kita juga punya kasus yang sama dengan William Marcilio musim ini. Kita terminate juga, dia kontraknya satu tahun plus opsi perpanjangan."
"Tapi kita baik-baik saja. Kenapa? Karena dengan William kita melakukan proses negosiasi yang benar. Kita duduk bersama, bernegosiasi dan akhirnya terjadi mutual agreement termination. Selesai. Tidak ada gugat-menggugat, semuanya selesai," terang Adhitia.
Pola penyelesaian melalui jalur negosiasi dua arah tersebut yang membuat urusan kontrak William Marcilio bisa rampung tanpa berbuntut sanksi seperti pada kasus Daisuke Sato.
Manajemen Persib Bandung mengimbau seluruh Bobotoh agar tidak menyikapi sanksi pendaftaran pemain ini dengan kepanikan yang berlebihan. Kasus penjatuhan sanksi administrasi serupa dinilai sering menimpa klub-klub sepak bola profesional di skala global.
Adhitia Putra Herawan membantah rumor yang menyebutkan adanya penunggakan upah bulanan. Fokus utama manajemen sejak awal kasus bergulir adalah memastikan akurasi perhitungan dasar gaji di CAS.
"Jadi ini bukan hal yang mengagetkan buat kita dan tidak usah khawatir. Klub besar juga banyak mengalami hal seperti ini."
"Ini bukan karena kita terlambat bayar gaji atau tidak memenuhi hak pemain. Memang ada proses CAS yang kita lakukan lebih dulu untuk memastikan berapa sebenarnya nilai salary yang menjadi dasar perhitungannya," ujar Adhitia.
Melalui nominal hak kompensasi yang kini telah inkrah dan berkepastian hukum, Persib Bandung optimistis dapat menggugurkan sanksi tersebut dalam waktu singkat. Manajemen berharap seluruh elemen tim kini bisa kembali fokus bersiap menghadapi musim kompetisi baru.