Candi Borobudur Jadi Bandara Doa, Kirim Pesan Perdamaian untuk Dunia
Iwan Al Khasni June 01, 2026 11:14 AM

 

Magelang Tribunjogja.com - Malam itu, langit Borobudur bukan sekadar gelap. Ribuan lampion menjadikannya panggung raksasa penuh cahaya. 

Dalam puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE, Minggu (31/5/2026), ribuan umat Buddha, wisatawan, dan warga berkumpul menanti momen sakral yang disebut Light of Peace.

Ketika senja bergeser ke malam, suasana berubah hening. Lampu diredupkan, doa dipanjatkan, lalu ribuan lampion dilepaskan serentak. C

ahaya keemasan membumbung, menari di atas siluet megah Candi Borobudur. Seolah langit mendadak punya bandara baru, bukan untuk pesawat, melainkan untuk doa-doa yang ditulis di wishing card.

Pesan Perdamaian

Fatmawati, Ketua Panitia Light of Peace, menegaskan pergantian istilah dari “lampion” menjadi “Light of Peace” bukan sekadar gaya bahasa.

“Situasi dunia sedang panas, maka kita kirim pesan perdamaian lewat cahaya,” ujarnya.

Satirnya jelas: dunia ribut, Borobudur justru mengirim lentera perdamaian.

Prosesi ini bukan hanya menerbangkan lampion, tetapi juga mengajak peserta meditasi, duduk hening, mencari damai dari dalam diri.

Doa dari Berbagai Penjuru

Deni, peserta asal Tangerang, mengaku lampionnya membawa doa untuk negeri.

Steven dari Samarinda merasa puas: “Setahun sekali, dan ini kali kedua saya ikut.” Ribuan orang rela datang jauh-jauh hanya untuk melepas lentera ke langit.

Di situlah daya magisnya: lentera sederhana berubah jadi simbol global. Perdamaian, meski sering terdengar klise, tetap indah bila diterbangkan bersama-sama.

Borobudur Sebagai Simbol Dunia

Pelepasan lampion di Candi Borobudur, pada Minggu malam.
Pelepasan lampion di Candi Borobudur, pada Minggu malam. (Tribun Jogja/Yuki Pramudya)

Borobudur malam itu seakan menggelitik logika. Ribuan orang berbaur tanpa sekat, menyatukan doa dalam cahaya.

Lentera yang terbang bukan hanya ritual, melainkan simbol universal bahwa perdamaian adalah harapan bersama umat manusia.

Prosesi Waisak di Borobudur selalu menjadi magnet wisata spiritual.

Tahun ini, istilah “Light of Peace” memperkuat pesan bahwa Indonesia, melalui Borobudur, ikut menyuarakan perdamaian dunia.

Makna Spiritual

Tri Suci Waisak memperingati tiga peristiwa penting: kelahiran Siddharta Gautama, pencapaian pencerahan, dan wafatnya. Pelepasan lampion menjadi simbol pelepasan ego, kebencian, dan penderitaan.

Cahaya yang membumbung ke langit adalah doa agar dunia lebih damai.

Meditasi bersama sebelum pelepasan lampion mengingatkan bahwa perdamaian sejati dimulai dari dalam diri.

Borobudur malam itu bukan hanya tempat wisata, melainkan altar spiritual yang menyatukan ribuan hati. (Yrp)

 

• Narapidana Seumur Hidup Meninggal di Ruang Isolasi Lapa Kelas IIA Palangka Raya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.