Imbas Konflik Timur Tengah, Ekspor Madu Trigona Lombok Utara ke Dubai Tertunda
Idham Khalid June 01, 2026 12:22 PM

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK UTARA - Peternak lebah trigona di Lombok Utara merasakan dampak konflik Timur Tengah yang terjadi belakangan ini. Mereka mengaku tidak bisa mengirim hasil produksi ke luar negeri padahal sudah melakukan kontrak dengan salah satu perusahaan di Dubai.

"Sudah satu tahun kita nunggu, karena urus izin di Indonesia lama sekali, setelah selesai izin dari Dubai tinggal kita kirim malah ada perang," kata Sahlan salah satunya, peternak lebah trigona asal Desa Sukadana, Kecamatan Lombok Utara.

Sahlan mengatakan, madu trigona hasil produksi peternak di Lombok Utara diminati di luar negeri, bermula ketika salah satu perusahaan datang dan mencicipi rasa madu tersebut. Tak disangka beberapa waktu kemudian ia dihubungi, dan minta memasok madu ke Dubai.

Hanya saja setelah dilakukan kalkulasi terhadap hasil produksi madu dalam tiga bulan, hanya mampu menghasilkan 15 ton dari Lombok Utara. Sementara permintaan mencapai 50 ton, oleh sebab itu mereka berkolaborasi dengan beberapa peternak lain di NTB untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Kita tanda tangan kontrak se-NTB itu 50 ton," kata Sahlan.

Di tengah konflik Timur Tengah ini, para peternak bersama perusahaan pengepul juga mencari pasar lainnya di luar negeri salah satunya Singapura. Sahlan mengatakan saat ini proses pengiriman madu trigona ini masih disiapkan termasuk izin-izinnya.

Baca juga: Pelatihan Budidaya Madu Trigona di Desa Batulayar, Langkah Nyata Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Sahlan mengatakan madu-madu yang diproduksi ini tidak dijual lokal, sehingga sembari menunggu pengiriman ke luar negeri tetap disimpan." Saya saja ada 2.000 botol belum petani lain," ujarnya.

Ia berharap situasi ini segera membaik, agar para peternak ini bisa memasarkan hasil panennya keluar negeri. Setiap 500 mili liter dijual dengan harga Rp100-150 ribu kepada perusahaan.

Selain beternak lebah trigona, mereka juga menanam pohon kelengkeng di sekitar lokasi peternakan. 

Hasilnya bunga-bunga di pohon kelengkeng dimanfaatkan sebagai pakan lebah trigona, dan buah kelengkeng bisa dijual sehingga menambah nilai ekonomi di masyarakat.

Hanya saja kendala para peternak ini jika menanam kelengkeng dengan jumlah banyak adalah air, sehingga mereka berharap pemerintah bisa memberikan bantuan berupa sumur bor dan pompa air.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.