Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Kabar duka datang dari salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.
Sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon, KH Adib Rofiuddin Izza, meninggal dunia pada Senin (1/6/2026).
Informasi wafatnya ulama kharismatik tersebut pertama kali disampaikan oleh Akhmad Rofahan, putra salah satu pengasuh Buntet Pesantren, melalui pesan yang dibagikan kepada kalangan media di Cirebon.
"Innalillahi Wainna Ilaihirojiun. Telah wafat sesepuh Pondok Buntet Pesantren, KH Adib Rofiuddin Izza. Mohon ziyadah doa untuk beliau," tulis Akhmad Rofahan, dalam pesannya.
Baca juga: Diduga Keracunan MBG, Dapur SPPG di Talaga Majalengka Diberhentikan Sementara
Ia juga menyampaikan, bahwa KH Adib mengembuskan napas terakhirnya saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta.
"Beliau wafat di RS Harapan Kita Jakarta," lanjutnya.
Kepergian KH Adib menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar Buntet Pesantren, para santri, alumni, serta masyarakat Cirebon yang selama ini mengenalnya sebagai ulama yang teduh, sederhana dan memiliki pengaruh luas dalam dunia pendidikan Islam.
Dikutip dari berbagai sumber, KH Adib Rofiuddin Izza dikenal sebagai salah satu tokoh sentral di lingkungan Buntet Pesantren yang berlokasi di Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon.
Baca juga: Diduga Keracunan MBG, Dapur SPPG di Talaga Majalengka Diberhentikan Sementara
Di bawah kepemimpinannya, pesantren yang berdiri sejak abad ke-18 itu terus berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan ribuan santri dari berbagai daerah.
Tak hanya berperan sebagai pengasuh pesantren, KH Adib juga tercatat aktif dalam pengembangan berbagai lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren.
Kiprahnya turut menguatkan posisi Buntet sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di wilayah Pantura Jawa Barat.
Bagi banyak kalangan, KH Adib bukan sekadar pemimpin pesantren.
Baca juga: Bukan Hanya Simbol, ASN Diskomifo - Bapperida Indramayu Diminta Hidupkan Nilai-nilai Pancasila
Ia merupakan penjaga tradisi keilmuan yang diwariskan para pendiri Buntet Pesantren sejak masa KH Muqoyyim.
Di tengah perubahan zaman, ia tetap menjaga keseimbangan antara nilai-nilai pesantren dan kebutuhan masyarakat modern.
Pengaruhnya juga menjangkau tingkat nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tokoh penting bangsa, mulai dari menteri, pimpinan organisasi keagamaan, hingga calon presiden, tercatat pernah bersilaturahmi ke Buntet Pesantren dan bertemu langsung dengan KH Adib.
Baca juga: Diduga Keracunan MBG di Talaga Majalengka: Ada Siswa SMP, SMA hingga Relawan
Sosoknya dikenal sebagai ulama yang mampu menjembatani komunikasi antara pesantren, pemerintah dan masyarakat luas.
Pandangannya kerap menjadi rujukan dalam berbagai isu keagamaan, pendidikan, maupun kebangsaan.
Pada Haul Buntet Pesantren tahun 2025, KH Adib masih terlihat memimpin dan memberikan nasihat di hadapan ribuan santri, alumni, serta masyarakat yang memadati kompleks pesantren.
Kehadirannya saat itu menjadi simbol keberlanjutan tradisi pesantren yang telah bertahan lebih dari dua abad.
Baca juga: Diduga Keracunan MBG, Dapur SPPG di Talaga Majalengka Diberhentikan Sementara
Kini, sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan dan kemaslahatan umat itu telah berpulang.
Namun, warisan ilmu, keteladanan, serta nilai-nilai yang ditanamkan KH Adib diyakini akan terus hidup di tengah para santri dan masyarakat yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya.
Kepergian KH Adib bukan hanya meninggalkan duka bagi Buntet Pesantren, tetapi juga kehilangan bagi dunia pendidikan Islam di Cirebon dan Indonesia.