Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti
TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa berkah bagi petani dan pedagang sayur di Pasar Plaosan, Desa Plaosan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
Seorang pedagang sayur di Pasar Plaosan, Sri Lestari menuturkan semenjak program MBG berjalan, harga sayuran di Pasar Plaosan relatif stabil bahkan terdongkrak naik.
"Harga sayuran sebelum adanya MBG itu murah, setelah ada MBG ya naik. Yang paling mahal itu selada, buncis, sama kembang kol, brokoli, harganya teratas," kata Sri, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Harga Telur di Magetan Anjlok, Peternak Minta SPPG Serap Langsung dari Kandang dengan Harga Segini
Sri mengambil contoh selada yang sebelum ada MBG hanya dihargai Rp 10 ribu per kilogram. Namun setelah MBG berjalan, harganya bisa naik menjadi Rp25 ribu per kilogram bahkan sempat menyentuh Rp40 ribu per kilogram.
Dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga kerap berbelanja langsung ke pasar saat harga beberapa komoditas mengalami penurunan.
Kondisi tersebut, menurut Sri, berdampak pada harga pasar yang ikut naik seiring meningkatnya permintaan.
"Kalau saya ambilnya ya langsung dari petani di Plaosan sini, yang paling dekat," jelasnya.
Sebagai pedagang, Sri berharap program MBG terus dilanjutkan karena terbukti mampu mengerek harga jual sayur di Pasar Plaosan.
Senada dengan kondisi yang dirasakan para pedagang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, yang meninjau harga sayuran di Pasar Plaosan menyebut sejumlah komoditas di pasar tersebut saat ini memiliki harga yang baik dan relatif stabil.
Ia mencontohkan harga selada yang sebelumnya sempat tidak memiliki nilai jual tinggi, bahkan hanya sekitar Rp 5 ribu per kilogram, kini pernah mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram.
Begitu pula dengan wortel dan buncis yang dahulu sempat berada di kisaran Rp 3 ribu per kilogram, kini harga terendahnya sudah mencapai sekitar Rp 12 ribu per kilogram.
Menurut Nanik, tidak ada penetapan harga khusus dari BGN karena seluruh transaksi tetap mengikuti mekanisme harga pasar. Namun, meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk program MBG turut meningkatkan serapan hasil panen petani.
"Yang berlaku tetap harga pasar. Ini menguntungkan petani karena pasokan sayur tidak hanya diserap masyarakat Magetan, tetapi juga daerah lain seperti Madiun dan Ponorogo," ujarnya.
Baca juga: BGN Pasang Badan untuk Peternak Magetan, SPPG Wajib Beli Telur Langsung atau Izin Dapur Dicabut
Nanik menjelaskan, tingginya serapan pasar diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan pedagang sekaligus petani. Karena itu, BGN menyiapkan strategi khusus ketika harga suatu komoditas mengalami penurunan tajam.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mengarahkan seluruh SPPG untuk menggunakan komoditas yang sedang mengalami kelebihan pasokan agar harga kembali membaik.
"Kalau untuk sayur, dari pengalaman yang pernah dicoba di Jawa Barat dan Jawa Tengah ketika harga kentang turun, kentang digunakan untuk mengganti sumber karbohidrat. Tadi saya lihat di Pasar Plaosan ada penurunan harga pakcoy. Nanti kita meminta seluruh SPPG menggunakan pakcoy agar harganya yang saat ini sekitar Rp 3.000 per kilogram bisa naik lagi," pungkasnya.