Kisah Bahar Tiga Dekade Berburu Barang Antik Jepang, Mejeng di Bandung Vintage Market Vol 5
Muhamad Syarif Abdussalam June 01, 2026 08:46 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di hadapan Bahar tersusun piring-piring keramik dan boneka Jepang kuno, dengan motif dan warna yang masih terjaga dalam pameran Bandung Vintage Market Vol 5 di Serhaya, Jalan Asia Afrika Nomor 49, Kota Bandung. 

Pria yang telah menetap di Bandung sejak kecil itu mengaku sudah berkecimpung dalam dunia barang antik selama lebih dari tiga dekade.

Kecintaannya pada benda-benda lawas bermula dari pengalamannya mengunjungi Jepang sekitar 30 tahun lalu.

"Dulu saya ke Jepang. Sudah lama sekali, sekitar 30 tahun lalu. Dari situ pelan-pelan tahu barang apa yang diminati di sana dan apa yang dicari di sini," ujar Bahar, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Senin (1/6/2026). 

Berbeda dengan sebagian pedagang vintage yang menawarkan beragam jenis barang, Bahar memilih fokus pada keramik antik dan barang khas Jepang. 

Baginya, setiap piring memiliki cerita tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh barang baru.

"Kalau saya memang lebih suka keramik. Ada yang suka boneka, ada yang suka barang lain. Setiap orang punya hobinya masing-masing," katanya.

Di atas meja berlapis kain hitam, benda-benda koleksi tersusun rapat namun tetap menarik perhatian satu per satu.

Yang paling mencolok adalah deretan boneka tradisional Jepang dengan kimono bermotif warna-warni. 

Wajah boneka yang dibuat dengan detail halus itu terlihat kontras dengan rambut hitam panjang yang masih terawat. 

Di sampingnya berdiri boneka bertopeng khas teater tradisional Jepang, menghadirkan nuansa budaya Negeri Sakura yang kental.

Tak jauh dari deretan boneka, sebuah replika kabuto atau helm samurai menjadi pusat perhatian. Ornamen berwarna emas ini dengan ukiran pada bagian depan helm, memperlihatkan kemewahan yang identik dengan perlengkapan bangsawan dan prajurit Jepang pada masa lampau.

Di antara koleksi bernilai tinggi itu, berderet mainan-mainan lawas yang memantik nostalgia. Sebuah miniatur kereta berwarna hijau-oranye, mobil Volkswagen kuning, hingga truk mainan berbahan logam menjadi bukti bahwa barang vintage tak selalu identik dengan benda mahal. 

Ada pula boneka kayu kokeshi dengan lukisan wajah sederhana yang menjadi salah satu ikon kerajinan Jepang.

Di lapaknya, harga barang yang dijual sangat beragam. Mulai dari ratusan ribu rupiah hingga belasan juta rupiah untuk koleksi tertentu.

"Harga barang antik itu relatif. Ada yang Rp100 ribu, ada juga yang sampai Rp15 juta," ujarnya.

Menurut pria berusia 65 tahun itu, nilai sebuah barang antik tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga sejarah yang melekat padanya.

Beberapa koleksi yang pernah ia miliki bahkan berasal dari kalangan bangsawan Jepang pada masa lalu.

"Yang membuat mahal biasanya karena barangnya tua dan punya sejarah. Ada yang dulunya milik kalangan daimyo atau bangsawan Jepang," katanya.

Meski tren belanja daring semakin berkembang, Bahar memilih tetap menjual koleksinya secara langsung di kawasan Cikapundung. 

Menurut dia, barang antik membutuhkan pemeriksaan detail yang tidak bisa sepenuhnya diwakili oleh foto.

"Kalau antik itu harus dilihat langsung. Ada retak atau kondisi tertentu yang memengaruhi harga. Kalau cuma lewat foto kadang tidak kelihatan," ujarnya.

Selama puluhan tahun menjalani usaha ini, Bahar mengaku tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia barang antik. 

Meski sesekali muncul rasa jenuh, selalu ada hal baru yang membuatnya kembali bersemangat.

"Kalau bosan pasti ada. Tapi kita terus belajar. Barang yang dicari selalu berbeda, pasarnya juga berubah. Jadi selalu ada hal baru," katanya.

Bandung Vintage Market 5.0 sendiri menjadi ruang pertemuan bagi para kolektor, pedagang, sampai pencinta barang lawas yang dihelat sejak 30 Mei 2026. Tak hanya koleksi dari Negeri Matahari Terbit, di sini pengunjung bisa mendapatkan buku, kamera, mainan hingga pakaian tempo dulu. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.