Petani OKU Timur Tak Tenang Walau Harga Gabah Tinggi, Hama dan Cuaca Mengancam
Refly Permana June 01, 2026 10:27 PM

 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA – Kenaikan harga gabah yang mencapai Rp6.500 hingga Rp6.700 per kilogram seharusnya membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatra Selatan. 

Namun, petani masih menghadapi sejumlah persoalan yang mengancam hasil panen, mulai dari serangan hama hingga kekhawatiran musim kemarau panjang.

Ratno, petani asal Desa Sukamulya, Kecamatan Semendawai Suku III, mengaku senang dengan harga gabah yang saat ini berada di kisaran Rp6.600 hingga Rp6.700 per kilogram. 

Menurutnya, harga tersebut cukup menguntungkan dibandingkan beberapa musim sebelumnya.

Meski demikian, kebahagiaan itu dibayangi serangan hama tikus dan sundep yang menyebabkan hasil produksi menurun drastis.

Baca juga: Diserang Hama Tikus dan Burung Pipit Bersamaan, Petani Padi di Lubuk Linggau Sumsel Merugi

"Tikus dan sundep ini membuat hasil panen turun," ujarnya saat diwawancarai Sripoku.com pada Senin (1/6/2026).

Lebih lanjut Ratno menjelaskan, dalam kondisi normal lahan yang ia kelola mampu menghasilkan sekitar 50 karung gabah. 

Namun, ketika serangan hama terjadi, hasil panen bisa merosot hingga hanya sekitar 30 karung.

"Kalau sudah terserang hama, penurunannya bisa sampai 40 sampai 50 persen. Jadi meskipun harga gabah naik, hasil yang kami dapat jauh berkurang," katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan Jodi Aryabima, petani di Kelurahan Bukitsari, Kecamatan Martapura. 

Ia mengakui tingginya harga gabah membuat petani lebih bersemangat menjalani musim tanam tahun ini. 

Selain itu, ketersediaan pupuk dinilai lebih lancar dibandingkan sebelumnya.

Namun, menurutnya tantangan terbesar saat ini justru datang dari hama yang semakin sulit dikendalikan.

"Harga gabah bagus, pupuk juga aman. Tapi sekarang hama yang jadi masalah. Tikus, sundep, sampai penggerek batang banyak dan seolah sudah beradaptasi dengan berbagai macam obat," ujarnya.

Jodi mengatakan biaya pestisida memang sudah lama menjadi beban petani. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah efektivitasnya yang dinilai mulai berkurang.

Baca juga: Musim Hujan, Petani Sayur di Talang Buluh Banyuasin Waspadai Serangan Hama Ulat

Selain ancaman hama, ia juga mulai mencemaskan kemungkinan terjadinya musim kemarau panjang. 

Kondisi itu dinilai berisiko bagi sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

"Kami mulai khawatir karena beberapa minggu ini hujan hampir tidak ada. Sawah sudah mulai mengering dan banyak petani yang mulai menyedot air ke lahan mereka," katanya.

Menurut Jodi, jika kemarau berkepanjangan terjadi, petani harus mengandalkan sumur bor untuk mempertahankan tanaman. 

Persoalannya, sebagian besar pompa air masih menggunakan bahan bakar minyak yang saat ini sulit diperoleh.

"Kalau pakai Pertalite saja kadang susah dicari. Kalau harus pakai Pertamax biayanya lebih mahal lagi. Ini juga jadi beban bagi petani. Apalagi tidak boleh membeli BBM menggunakan jerigen di SPBU," tambahnya.

Sementara itu, Agus Nugroho, petani asal Kelurahan Veteran Jaya, Kecamatan Martapura, memiliki pandangan berbeda. 

Sebagai petani mandiri yang tidak tergabung dalam kelompok tani, ia mengaku belum pernah merasakan bantuan maupun pendampingan dari pemerintah.

Menurut Agus, selama ini seluruh kebutuhan pertaniannya dipenuhi secara mandiri, mulai dari pembuatan pupuk hingga pestisida.

"Saya petani mandiri. Tidak masuk kelompok tani dan tidak pernah mendapatkan bantuan. Pupuk saya buat sendiri, pestisida juga saya racik sendiri," ujarnya.

Agus mengaku selama menjadi petani belum pernah mendapat kunjungan ataupun pembinaan dari petugas penyuluh pertanian di lahannya.

"Saya belum pernah merasakan ada penyuluh datang memberikan edukasi atau pendampingan. Jadi semuanya saya pelajari dan jalankan sendiri," katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Agus kini ikut mengkhawatirkan ancaman kemarau panjang yang diprediksi terjadi tahun ini. 

Apalagi saat ini tanaman padinya masih berada pada fase awal pertumbuhan dan sangat membutuhkan pasokan air yang cukup.

"Sawah saya sudah mulai kering. Kalau dua minggu ke depan tidak turun hujan, petani yang tidak punya sumur bor akan kesulitan. Yang sawah irigasi atau mendapat bantuan listrik untuk pompa mungkin masih bisa bertahan, tapi kami yang mandiri tentu harus berjuang lebih keras," ungkapnya.

Tingginya harga gabah saat ini memang menjadi kabar baik bagi petani OKU Timur. 

Namun berbagai persoalan di lapangan menunjukkan bahwa kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh harga jual hasil panen.

Serangan hama yang menurunkan produktivitas, ancaman kekeringan, serta keterbatasan sarana pendukung pertanian masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi bersama agar semangat petani tidak hanya bertahan pada tingginya harga gabah, tetapi juga tercermin dalam meningkatnya hasil produksi dan kesejahteraan mereka.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.