Wayang Timplong Kian Langka, Sulianto Rela Puluhan Tahun Menjaga Tradisi Leluhur 
Wiwit Purwanto June 01, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID NGANJUK - Sulianto menjadi salah satu perajin wayang timplong yang masih bertahan di Nganjuk. Ia berharap ada generasi muda yang melanjutkan warisan budaya tersebut.

Di tengah derasnya arus modernisasi, wayang timplong khas Kabupaten Nganjuk masih bertahan berkat tangan-tangan setia para perajinnya.

Salah satunya adalah Sulianto, yang telah hampir empat dekade menjaga warisan budaya leluhur meski kini menghadapi ancaman minimnya regenerasi.

Menjaga Warisan Wayang Timplong dari Nganjuk

Suara pahat yang menggores papan kayu terdengar dari sebuah studio sederhana berukuran sekitar 6x4 meter di samping rumah Sulianto, Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.

Baca juga: Lestarikan Budaya, Pemkot Surabaya Gelar Ruwatan Kota dan Wayang Kulit pada Momen Hari Jadi Kota

Pria berusia 60 tahun itu tampak fokus membentuk karakter wayang timplong, kesenian khas Nganjuk yang berbeda dari wayang kulit karena terbuat dari papan kayu mentaos dengan ketebalan sekitar tiga sentimeter.

"Wayang timplong ini terbuat dari papan kayu mentaos. Bahannya bukan dari kulit. Ketebalan kayu sekira tiga sentimeter. Bahannya bisa saya peroleh di Nganjuk," katanya, Senin (1/6/2026).

Proses pembuatannya tidak sederhana. Sebelum menjadi sebuah tokoh pewayangan, kayu harus melalui tahapan menggambar pola, memahat, mengamplas, hingga pewarnaan.

Sulianto mengatakan satu wayang timplong membutuhkan waktu pengerjaan minimal 10 hari. Untuk karakter tertentu dengan detail rumit, pengerjaan bisa berlangsung hingga dua bulan.

"Minimal 10 hari jadi. Bisa juga lebih 10 hari, tergantung kedetailan garis ornamen dan ukuran wayang timplong. Seperti karakter Kumbakarna bisa sampai dua bulan," sebutnya.

Wayang buatannya dijual dengan harga mulai Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Koleksinya telah dikirim ke berbagai daerah, termasuk Yogyakarta dan Bali.

Baca juga: Jaga Tradisi, Dari Kayu Waru Perajin Jombang Hidupkan Wayang Topeng Jatiduwur 

"Tak hanya itu, ada pejabat yang membeli wayang timplong buatan saya. Pada 2020, Bupati Nganjuk saat itu, Novi Rahman Hidayat, membeli 10 karakter. Selain itu, Pj Bupati Sri Handoko Taruna pada 2023 yang memborong 25 wayang untuk dijadikan oleh-oleh untuk tamu," terangnya.

Dari Warisan Ayah Hingga Ancaman Minim Regenerasi

Sulianto mengaku awalnya tidak bercita-cita menjadi perajin wayang timplong. Namun, takdir membawanya melanjutkan jejak sang ayah, Jamiran, dalang sekaligus perajin wayang timplong ternama asal Desa Nglawak, Kecamatan Prambon.

Saat kecil, ia kerap membantu proses produksi dengan mengamplas wayang, meski tak jarang memilih menghindar dari pekerjaan tersebut.

"Sejak muda saya membantu ayah membuat wayang timplong. Saya tugasnya mengamplas. Tapi waktu saya sering kabur saat diminta mengamplas. Maklum saja anak muda," ungkapnya seraya tertawa.

Setelah menikah dan memiliki keluarga, pandangannya berubah. Pada 1986, ia memutuskan menekuni kerajinan wayang timplong sebagai mata pencaharian utama.

"Tepatnya 1986, saya menekuni kerajinan wayang timplong. Saya pilih menjadi perajin untuk menafkahi keluarga dan berlanjut sampai sekarang," ucapnya.

Menurut Sulianto, nama wayang timplong berasal dari bunyi gamelan pengiring yang menghasilkan suara "timplang-timplong". Berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan perangkat gamelan lengkap, pertunjukan wayang timplong hanya memanfaatkan empat hingga enam instrumen seperti kendang, gong, gambang, dan kenong.

"Alat musiknya berbunyi timplang timplong. Dari situ disebut wayang timplong," terangnya.

Wayang timplong diyakini pertama kali dikenalkan oleh Mbah Bancol di Dusun Kedungbajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace pada sekitar tahun 1910, sebelum kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nganjuk.

Karakter wayangnya juga memiliki ciri khas tersendiri. Tokoh Semar misalnya, dalam wayang timplong dikenal dengan nama Kedrah atau Sabdo Palon Noyo Genggong, dengan warna hitam dan rambut kuncir menjuntai ke belakang.

"Juga ada karakter minakjinggo. Karakter wayang timplong disesuaikan cerita yang dibawakan. Lakonnya seputar kerajaan Majapahit, Kediri, dan sebagainya," urainya.

Meski masih bertahan hingga kini, Sulianto menyimpan kekhawatiran besar terhadap masa depan kesenian tersebut. Menurutnya, semakin sedikit anak muda yang tertarik menjadi perajin wayang timplong karena proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan ketelatenan tinggi.

"Anak muda terbilang sedikit yang terjun sebagai perajin wayang timplong. Anak saya kemungkinan tak meneruskannya. Sebab, kerumitan dalam proses pembuatan. Meski demikian saya berharap ada anak muda yang meneruskan seni wayang timplong ini," terangnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.