Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Euforia Piala Dunia 2026 di kalangan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Kabupaten Klaten dinilai belum terasa signifikan.
Menurut pelaku SSB, minat anak-anak terhadap sepak bola dan ajang Piala Dunia mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Penanggung Jawab SSB Bina Nusantara, Rifa Rizki Kurniawan, menyebut suasana antusiasme kali ini terasa lebih sepi.
“Kalau kita melihat euforia Piala Dunia ini tahun ini, lebih sepi daripada kedua periode yang kemarin. Enggak kayak yang tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya ditemui TribunSolo.com di Lapangan Jokopuring, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Senin (1/6/2026).
Rifa menjelaskan, menurunnya euforia Piala Dunia 2026 dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perubahan budaya dan pola ketertarikan anak-anak saat ini.
“Mungkin banyak faktor ya yang mempengaruhi, mungkin juga kultur dan sebagainya sudah berbeda,” jelasnya.
Ia menambahkan, fokus anak-anak kini tidak lagi dominan pada olahraga sepak bola.
“Saat ini melihat anak-anak dari dunia pendidikan dulu aja sudah berbeda, apalagi untuk ketertarikan dalam hal sepak bola,” ucapnya.
Menurut Rifa, perubahan perilaku anak usia 12–16 tahun juga turut memengaruhi minat terhadap sepak bola dan Piala Dunia.
“Ini kulturnya sudah beda anak-anaknya, sudah banyak mengenal banyak ketertarikan,” katanya.
Ia menyebut, faktor seperti gadget dan game menjadi salah satu penyebab berkurangnya minat aktivitas fisik.
“Bahkan ada yang tidak tertarik dengan aktivitas fisik sama sekali, kalau di dari Piala Dunia sendiri, ini juga anak-anak (saat ini) itu jarang membahas Piala Dunia,” ujarnya.
SSB Bina Nusantara saat ini memiliki sekitar 250 siswa yang terbagi di dua lapangan latihan di Klaten.
Baca juga: Kafe di Solo yang Gelar Nobar Piala Dunia 2026 Mulai 11 Juni - 19 Juli 2026
Meski saat ini masih sepi, Rifa meyakini euforia Piala Dunia 2026 akan kembali meningkat saat turnamen resmi bergulir.
“Ini kan belum sepenuhnya bergulir ya, itu baru nanti akan ada perubahan (saat bergulir),” pungkasnya.
(*)