Herliansa dari Sekolah Modelling di Semarang ke Panggung Nasional
M Syofri Kurniawan June 02, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Herliansa Chrisnasari masih mengingat masa-masa ketika kepercayaan dirinya belum tumbuh seperti sekarang.

Sejak kecil, perempuan kelahiran Semarang itu mengaku memiliki tubuh yang lebih berisi dibanding teman-teman seusianya.

Masa TK hingga SMP ia jalani dengan berbagai rasa minder yang kerap menghampiri. 

Namun memasuki bangku SMA, ia memutuskan mengubah dirinya.

Diet yang dijalani perlahan membuahkan hasil. Berat badannya turun, dan kepercayaan dirinya mulai tumbuh.

"Titik baliknya saat SMA. Dari yang dulu gendut banget, akhirnya bisa lebih kurusan. Dari situ rasa percaya diri meningkat," kenang Alsa, sapaan akrabnya, kepada Tribun Jateng, Senin (1/6/2026).

Perubahan itu membuka jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.  

Saat berusia 17 tahun, Herliansa bergabung dengan sekolah modeling.

"Dari modelling school aku belajar tentang kepercayaan diri dan bagaimana mengembangkan diri," tutur Alsa.

Dari sana berbagai pekerjaan mulai berdatangan.

Ia menjadi model catwalk, model foto, hingga model untuk berbagai pameran dan kebutuhan tata rias.

Namun jalan hidup membawanya ke panggung yang berbeda.

Pembawa acara

Saat kuliah, seorang dosen yang juga menjabat dekan kampus menawarinya menjadi pembawa acara dalam sebuah kegiatan kampus.

Padahal saat itu Alsa sama sekali belum memiliki pengalaman sebagai MC di kota-kota besar.

Alih-alih menolak, ia memilih belajar.

Awalnya secara autodidak, kemudian belajar dari senior dan teman-temannya.

Panggung demi panggung kampus menjadi tempat latihan.

Perlahan kemampuannya terasah hingga akhirnya dunia MC menjadi profesi yang ia tekuni hingga kini.

Bekal profesional semakin kuat ketika pada 2017 ia mengikuti Citizen Journalist Academy yang digelar oleh stasiun televisi nasional dan Pertamina.

Selama tiga bulan, ia mendapatkan pelatihan langsung dari para presenter televisi nasional.

Program itu membuka wawasannya tentang dunia presenting, public speaking, dan komunikasi profesional.

"Benar-benar jadi bekal untuk menjadi MC profesional," katanya.

Perjalanan Herliansa tidak selalu berjalan mulus.

Pada 2015 ia pernah mendaftar ajang Denok Kenang Kota Semarang.

Hasilnya jauh dari harapan.

Ia tersingkir lebih awal.

Dua tahun kemudian, ia kembali mencoba peruntungan.

Pada 2017, Alsa berhasil menjadi Juara I Denok Kenang Kota Semarang. 

Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti ajang Putri Pariwisata Jawa Tengah dan keluar sebagai juara.

Prestasinya berlanjut hingga tingkat nasional saat berhasil masuk lima besar Putri Pariwisata Indonesia.

Menurutnya, ajang pageant bukan hanya soal kecantikan dan penampilan.

Di sana ia belajar mengenai nilai diri, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, hingga tanggung jawab sebagai representasi daerah.

"Saya belajar bahwa yang paling penting bukan cuma penampilan, tapi attitude yang baik dan bagaimana menyampaikan pesan kepada banyak orang," ujarnya.

Sebagai perempuan yang lahir dan tumbuh di Semarang, Alsa merasa kota ini memberi ruang baginya untuk berkembang tanpa kehilangan jati diri.

Baginya, Semarang mengajarkan kehangatan sekaligus semangat untuk terus bertumbuh.

"Semarang bikin aku nyaman bertumbuh tanpa harus kehilangan diriku sendiri," katanya.

Selain menjadi MC, Alsa juga aktif sebagai content creator.

Namun menurutnya, bagian tersulit dari pekerjaan itu justru bukan saat tampil di depan kamera.

Yang paling melelahkan adalah proses di balik layar, mulai dari memikirkan konsep, menyusun skrip, revisi dari klien, proses pengambilan gambar, hingga penyuntingan konten yang kerap memakan waktu panjang.

"Orang cuma lihat video satu menit, padahal proses di belakangnya bisa sangat panjang," ujarnya. (Rezanda Akbar D)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.