Kasus Teror Api di Seyegan, Peneliti Ungkap Indikasi Rekahan Jalur Gas Alami
Hari Susmayanti June 02, 2026 06:14 AM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, TRIBUN - Teror api yang tiba-tiba menyala garang di rumah Agus Yani di Padukuhan Mriyan X, Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Seyegan, Sleman, tepat memasuki hari kesepuluh pada Senin (1/6/2026). 

Mental dan tenaga penghuni rumah telah terkuras, sementara para akademisi dan peneliti masih mencoba mengurai terjadinya fenomena api itu.

Kantung mata Mutfiana (29), anak dari empunya rumah, terlihat berat. Wajahnya tampak lebih, tapi ia memaksakan badan tetap berjaga. 

Sepuluh hari terakhir, perempuan itu hanya terlelap tak lebih dari dua jam sehari, bergantian dengan enam anggota keluarga lainnya. 

Sebabnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk merebahkan kepala, kini berubah menjadi arena melawan 'musuh' yang tak kasat mata yakni api yang tiba-tiba menyala.

"Kejadian (api menyala) acak 15-20 menit, terus ada yang 2-3 jam, jadinya ya ketika lengah, lalu muter (buat mengontrol) sekitar rumah langsung ada api," kata Fia, Senin (1/6/2026). 

Kemunculan api secara tiba-tiba yang membakar berbagai perabotan di dalam dan di luar rumah ini sangat meresahkan. 

Dalam sehari, setidaknya ada tujuh hingga delapan kali letupan api misterius yang meneror rumah dua lantai mereka. 

Teror ini tak mengenal waktu, sering kali justru dimulai saat jam-jam istirahat di tengah malam, memaksa seisi rumah terjaga dalam ketakutan. 

Bahkan, kejadian terbaru, fenomena langka ini sempat diuji oleh seorang relawan yang penasaran. 

Relawan sengaja menyampirkan sebuah kaus di dalam kamar mandi pada Minggu (31/5/2026) malam. 

Tak butuh waktu lama, Senin (1/6/2026) dini hari, kain tersebut sudah hangus terbakar. 

Api yang membakar kaus di kamar mandi ini merupakan letupan ke-70. 

Di kamar mandi, api sudah membakar tiga kali. Setelah itu, letupan api terus muncul membakar kaus di kamar tengah. 

Kaus tersebut langsung dipadamkan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). 

Namun, selang beberapa waktu berikutnya, api kembali menyala. 

Total hingga Senin (1/6) sore, sudah 73 kali api muncul dan membakar berbagai barang di 65 titik berbeda di rumah Agus Yani ini. 

Menguras tenaga 

Sepuluh hari ini bukan sekadar tentang api yang membakar kain tikar, helm, boneka, sofa, bed cover, ataupun gulungan kabel. 

Bagi keluarga Agus Yani, ini adalah sepuluh hari yang menguras fisik, psikis, dan finansial. 

Rumah mereka bukan hanya tempat tinggal, melainkan juga ruang usaha pemotongan ayam. 

Kini, roda ekonomi itu macet, karena onsumen didera ketakutan untuk datang dan mendekat ke area tersebut.

"Ibaratnya, biasa per hari kami bisa menerima uang Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, sekarang (pemasukan) hanya Rp8.000 saja. Bayangkan, uang Rp8.000 untuk tujuh orang di rumah ini bagaimana caranya?" ujar Mutfiana.

Secara kalkulasi kasar, kerugian material yang diderita keluarga Agus Yani dalam sepuluh hari ini telah mencapai di kisaran Rp40 juta. 

Uang jutaan rupiah tersebut habis untuk upaya mandiri menyelamatkan rumah dari nyala api, misalnya dengan menguras septic tank, yang semula diduga menjadi biang kerok kebocoran gas metana.

 Lalu, mengganti saluran pipa paralon yang diduga mengalami kebocoran, hingga meninggikan jalur pernapasan saluran pembuangan. 

Belum lagi barang-barang berharga, pakaian, hingga tas dan seragam sekolah anak-anak yang hangus terbakar saat dijemur.

Tekanan psikologis

Tekanan beban psikologis keluarga Agus Yani kian berat. 

Di dunia maya, narasi mistis dan penghakiman sepihak peristiwa ini dari netizen terus bermunculan. 

"Satu keluarga terus terang kami sudah tidak memegang handphone lagi. Kami takut membaca komentar netizen (yang menghakimi)," akunya. 

Saat ini, keluarga hanya bisa melakukan tindakan spontan: membuka lebar pintu dan jendela, hingga mengosongkan lantai dasar dari barang-barang yang bisa terbakar. 

Jika api muncul, mereka siram. 

Selebihnya, mereka harus mengungsi, menumpang tidur di sebuah ruko kosong di sebelah utara rumah demi hidup lebih tenang dan menyelematkan nyawa.

Beragam upaya lain juga telah dilakukan, termasuk rencana membongkar lantai rumah dan menambalnya dengan material yang lebih kokoh, namun terkendala biaya yang terlampau besar. 

Langkah sementara ini, selain memindahkan barang barang yang mudah terbakar, keluarga berupaya mencari tempat penyewaan mesin blower guna mengurai konsentrasi gas yang terjebak di dalam kamar.

"Sejauh ini, segala biaya operasional masih ditanggung keluarga secara mandiri. Kami sangat bersyukur warga sekitar juga peduli dan sangat membantu kami," kata Mutfiana.
 
Rawa purba

Di tengah beban berat itu, harapan perlahan muncul seiring datangnya para ahli lintas sektor yang turun tangan menyelidiki fenomena api itu.

Mulai dari ahli dari UGM, UPN "Veteran" Yogyakarta, BPPTKG, maupun personel dari BPBD Sleman. 

Misteri kemunculan api di rumah Agus Yani ini mulai dikupas secara rasional, menjauhkan keluarga dari stigma mistis.

Wakil Dekan FTME UPN "Veteran" Yogyakarta, Dr. Ardian Novianto, S.T., M.T., menjelaskan bahwa tim yang telah turun ke lokasi menemukan indikasi kuat keberadaan gas alami di sekitar rumah Agus Yani. 

Di aliran Sungai Konteng, atau Bendung Slokan Gembung Krusuk, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah korban, ditemukan gelembung-gelembung gas yang keluar perlahan dari air tapi secara kontinu. 

Namun, itu masih sebatas indikasi awal dan sejauh ini belum bisa dipastikan apakah gas tersebut sama dengan yang ada di rumah Agus Yani atau dari sumber lain. 

"Indikasi awal ini adalah biogenic gas, yang dihasilkan dari pembusukan. Di sekitar sini (kemungkinan) ada rawa dan (gas hasil pembusukan) tersimpan menjadi metana, dan melebihi kemampuan, sehingga gas keluar secara alami," jelas Dr. Ardian. 

Gas yang tersimpan di dalam rawa purba ini diduga telah melebihi kapasitasnya untuk keluar secara alami ke permukaan. 

Gas tersebut disinyalir bermigrasi mencari jalan keluar dengan menembus rekahan atau patahan kecil di dalam tanah, hingga akhirnya muncul berada tepat di bawah kediaman Agusyani. 

Gas yang terjebak di material berpori dalam rumah lalu bereaksi dengan suhu ruangan hingga memicu percikan api spontan.

"Semua yang terjadi bisa dijelaskan secara ilmiah. Ini baru langkah awal, nanti kita lihat apakah ada retakan atau kekar yang bisa kami identifikasi di permukaan. Mungkin setelah kami diskusi lebih lanjut, geofisika, untuk mengidentifikasi ini," katanya. 

Dekan FTME UPN “Veteran” Yogyakarta, Basuki Rahmad, mengatakan, indikasi sementara adalah adanya gas di bawah permukaan. 

Dalam investigasi yang dilakukan, pihaknya menyusuri sungai yang berada sekitar 300 meter dari rumah Agus. 

Di sungai tersebut, ia mengamati ada sebuah singkapan batuan lanau berwarna gelap. 

Dalam singkapan batuan tersebut, ia melihat adanya genangan air.

“Kami sisir, kami lacak indikasi gelembung-gelembung gas. Akhirnya ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu gas metana, gas CH 4, tepat di bawah Jembatan Nepen,” katanya, Sabtu (30/5/2026).

Batuan lanau yang ditemukan juga menjadi indikasi kuat wilayah tersebut dahulu merupakan bekas rawa. 

Warna batuan lanau yang gelap menjadi tempat tersimpannya gas metana. Batuan lanau tersebut pun diambil sebagai sampel untuk diteliti lebih lanjut.

Kesaksian warga

Analisis tentang keberadaan rawa purba dan gas biogenik gas dari tim ahli UPN ini diperkuat dengan cerita masyarakat setempat. 

Warga Nepen, Jingin Margomulyo, Sihono, mengungkapkan bahwa sekira setahun lalu ada kebakaran hebat di sekitar rumpun bambu di tepian sungai jembatan Nepen tersebut. 

Warga saat itu belum mengetahui mengapa api tiba-tiba bisa muncul. 

"Iya dulu pernah ada kebakaran. Mungkin tahun lalu, di tepian sungai, api tiba-tiba mulad (menyala) sendiri," katanya. 

Warga lain, Setiyani mengungkapkan, di sebelah timur pos ronda dusun Nepen, juga pernah ada kebakaran lahan saat maghrib tanpa diketahui penyebabnya. 

Ia yang rumahnya berdekatan dengan pos ronda tersebut saat itu mengira ada yang membakar.

"(Kejadian kebakaran) sekitar empat bulan yang lalu. Lalu, sumur saya juga kering dan mau dikeduk (digali lebih dalam) baunya gas," kata dia. 

Jika analisis tentang rawa purba dan gas itu benar, sembari menunggu hasil penelitian lebih mendalam, Dr. Ardian merekomendasikan agar rumah Agus Yani sementara waktu tidak ditinggali demi keselamatan. 

Masalahnya, bagi keluarga Agusyani, pindah bukanlah perkara mudah. 

Mereka sangat membutuhkan bantuan semacam hunian sementara dari pemerintah dengan lokasi pengungsian yang tak jauh dari rumah, agar mereka tetap bisa menjaga asa dan merintis kembali usaha yang menjadi urat nadi kehidupan keluarga.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengatakan sementara ini pihaknya belum menyiapkan tempat pengungsian bagi warga sekitar. 

Sebab, saat ini kebakaran masih terpusat di satu rumah. Pihaknya pun siap mengikuti saran dari para akademisi guna mencegah kebakaran meluas.

"Kita pantau satu bulan, saran beliau (akademisi UPN "Veteran" Yogyakarta dan UGM) seperti apa. Saat ini belum (menyiapkan pengungsian), sekarang yang kelihatan di tempat Pak Agus. Langkah Pemda (Sleman) akan mengikuti saran ahli," katanya saat mengunjungi lokasi, Sabtu (30/5/2026).

Rekahan

Analisis tentang keberadaan gas ini, diperkuat hasil penelitian sementara dari BPPTKG. 

Penyelidik Bumi Muda BPPTKG, Aris Dwi Nugroho menjelaskan, mengapa fenomena kebakaran ini hanya terkonsentrasi di rumah Agus Yani. 

Menurut Aris, sejarah tapak tanah rumah tersebut menjadi kunci. Area yang kini menjadi rumah tinggal Agus Yani dahulu merupakan area lahan persawahan. 

Secara geologis, di bawah tanah wilayah itu terbentuk struktur kekar atau rekahan batuan (shear join) lokal yang membentang dari arah tenggara menuju barat laut.

"Kebetulan kalau lihat maps, rumah ini lebih ke arah tenggara Barat laut sehingga memang dia (gas) keluar di sini, karena memang dia sesuai dengan shear (rekahan) yang ada di bawah (tanah),"ujar Aris. 

Selain di bawah rumah, jejak-jejak gas serupa dalam skala kecil juga ditemukan di sekitar rumpun bambu dekat Jembatan Nepen, Sungai Konteng. 

Hal ini disebut memperjelas bahwa peristiwa aneh ini adalah fenomena struktur geologi lokal, bukan regional. (rf/hdy) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.