Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Di balik kesederhanaannya sebagai pengasuh pesantren di pelosok Kabupaten Cirebon, KH Adib Rofiuddin Izza ternyata memiliki peran yang tak banyak diketahui publik.
Ulama kharismatik dari Buntet Pesantren itu bukan hanya menjadi rujukan para santri dan masyarakat.
Selama bertahun-tahun, ia juga dikenal sebagai sosok yang kerap dimintai pertimbangan oleh para petinggi negara, bahkan presiden.
Hal itu diungkapkan adik kandung almarhum, Kiai Aris Ni'matullah, saat mengenang perjalanan hidup KH Adib di rumah duka Buntet Pesantren, Senin (1/6/2026).
Menurut Kiai Aris, banyak tokoh nasional datang bersilaturahmi kepada sang kakak untuk meminta nasihat dan pandangan, terutama menyangkut persoalan kebangsaan.
"Beliau kan masih statusnya Rais Syuriah PCNU. Masih sampai sekarang masih Rais Syuriah. Dan kami menjadi saksi banyak sekali para petinggi-petinggi negara, bahkan sampai presiden sebelum-sebelumnya, itu selalu sowan ke beliau," ujar Kiai Aris.
Bagi keluarga, hal itu bukan sesuatu yang mengherankan.
KH Adib, kata dia, memiliki komitmen besar untuk berkontribusi kepada negara melalui jalan yang diyakininya sebagai tugas seorang ulama.
"Karena beliau komitmen berkontribusi kepada negara. Beliau selalu berpikir orang mengabdi ke negara itu banyak caranya. Kiai juga punya cara sendiri. Nah, itu yang dilakukan Kiai," ucapnya.
Di mata Kiai Aris, sang kakak memahami bahwa setiap profesi memiliki perannya masing-masing dalam menjaga bangsa.
Ada tentara yang menjaga keamanan, ada polisi yang menjaga ketertiban, sementara ulama memiliki kontribusi melalui nasihat, doa dan pertimbangan moral.
"Kalau bagian yang lain kan ada tentara, ada polisi. Kiai bagian ulama ya, caranya Kiai. Makanya banyak ikut kontribusi, apa yang bisa dibantu, itu yang dibantu," ujar dia.
Tak jarang, menurut Kiai Aris, para pemimpin meminta pandangan KH Adib sebelum mengambil keputusan penting.
"Ya selalu minta pertimbangan di dalam keputusan-keputusan. Selalu Kiai ikut menyumbang, diajak musyawarah lah. Paling tidak kan beliau kalau tentara menjaga keamanan, kalau beliau mungkin dari sisi spiritualnya. Kan tidak setiap orang punya kemampuan itu," katanya.
Meski dekat dengan kalangan elite, KH Adib disebut tak pernah meninggalkan kepeduliannya kepada masyarakat kecil.
Setiap kali bertemu para pemimpin, ia selalu menyisipkan pesan yang sama. Pesan itu bukan untuk dirinya pribadi, melainkan untuk kepentingan umat dan rakyat.
"Selalu, selalu kalau ada pimpinan, selalu beliau titip-titip. Titip NU, titip rakyat. Seperti itu aja setiap kali pesan dari beliau," ujarnya.
Sikap tersebut sejalan dengan kehidupan sehari-hari KH Adib di lingkungan pesantren.
Menurut Kiai Aris, almarhum dikenal rutin membantu para janda di sekitar Buntet Pesantren Cirebon tanpa menunggu momentum tertentu.
"Di sini itu Kiai rutin membagikan ke janda-janda, per blok, rutin. Setiap dapat rezeki, enggak nunggu nanti," ucap Kiai Aris.
Bantuan itu disalurkan melalui perwakilan warga di setiap blok agar dapat menjangkau lebih banyak penerima.
Selain dikenal sebagai ulama dan tokoh NU, KH Adib juga meninggalkan jejak panjang dalam dunia pendidikan.
Ia pernah menimba ilmu di Pesantren Mangkang, Semarang, di bawah bimbingan Kiai Atfal.
Dalam perjalanan keilmuannya, KH Adib juga banyak mengambil manfaat dari pengajian almarhum KH Maimun Zubair atau Mbah Moen.
"Dulu guru-gurunya itu namanya Kiai Atfal. Tapi beliau juga istifadah ke Mbah Maimun, Mbah Moen," jelas dia.
Puluhan tahun mengajar dan membimbing santri membuat pengaruh KH Adib menyebar hingga berbagai daerah di Indonesia.
Banyak alumni Buntet kini berkiprah sebagai akademisi, tokoh NU, hingga pemimpin lembaga pendidikan.
"Kan sekarang misalkan ada yang Rektor UIN Bandung itu kan santri kita, alumni kita. Profesor, doktor, banyak yang berkiprah di pendidikan," katanya.
Tak hanya di Jawa Barat, para alumni Buntet Pesantren juga tersebar hingga Sumatera dan Kalimantan.
Kiai Aris mengaku, kerap bertemu alumni yang datang memperkenalkan diri saat dirinya melakukan perjalanan ke berbagai daerah.
"Orang saya kemarin waktu di Lampung aja, enggak tahu tiba-tiba ada orang datang tuh, 'Kiai, saya alumni sekian'. Jadi Rais Syuriah di Lampung. Terus di Medan juga begitu. Tahu-tahu datang, 'Saya alumni tahun sekian'," ujarnya.
Baginya, hal itu menjadi bukti, bahwa warisan terbesar KH Adib bukan hanya bangunan pesantren atau jabatan yang pernah diembannya.
Lebih dari itu, warisan tersebut hidup dalam ribuan santri yang kini tersebar dan mengabdi di berbagai penjuru Indonesia.
Ribuan pelayat mengantar prosesi pemakaman KH Adib Rofiuddin Izza di Buntet Pesantren, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Senin (1/6/2026).
Tangis mengiringi perjalanan terakhir ulama kharismatik tersebut dari rumah duka menuju kompleks pemakaman keluarga.
Lantunan tahlil dan kalimat tauhid terus menggema di sepanjang jalan yang dipadati santri, alumni, tokoh masyarakat, hingga warga yang datang memberikan penghormatan terakhir.
Sebelum wafat, keluarga mengaku tidak melihat tanda-tanda khusus dari kondisi kesehatan KH Adib.
Menurut Kiai Aris, sang kakak bahkan sempat terlihat sehat dan masih aktif beraktivitas setelah Ramadan.
Namun beberapa hari terakhir, KH Adib disebut lebih sering menangis saat beribadah karena teringat keluarganya yang sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
"Di salat menangis enggak berhenti-berhenti. Dia ingat keluarganya yang ada di Saudi pada haji. Katanya, 'Ya, tua harusnya haji. Kenapa saya enggak bisa haji?'" kenang Kiai Aris.
Tak lama setelah itu, kondisi KH Adib mendadak menurun hingga akhirnya menjalani perawatan di Jakarta sebelum mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, sosok yang selama hidupnya menjadi tempat bertanya para santri, masyarakat, hingga para pemimpin bangsa itu telah berpulang.
Namun jejak pemikiran, nasihat dan pengabdiannya untuk umat serta negara akan terus dikenang oleh mereka yang pernah mengenalnya.
Baca juga: Cerita Hari-hari Terakhir KH Adib Sebelum Meninggal, Menangis karena Gagal Haji dan Mendadak Pingsan